Perjalanan menuju Pulau Kalimantan pada tanggal 13 Mei 2026 dimulai dengan sedikit drama domestik. Rencana awal yang matang seketika buyar saat maskapai Lion Air memajukan jadwal penerbangan secara sepihak. Karena hari itu masih merupakan hari kerja yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja, keputusan cepat harus diambil; tiket tersebut akhirnya dibatalkan. Sebagai gantinya, pilihan dialihkan ke maskapai Citilink dengan jadwal keberangkatan selepas Magrib. Meski harus berganti pesawat, antusiasme untuk menjalani liburan selama lima hari di Kalimantan bersama istri tercinta tetap membara.
Burung besi akhirnya mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan. Begitu melangkah keluar dari pintu kedatangan, kehangatan keluarga langsung menyambut kami berdua. Kakak kandung dan sepupu dari pihak istri sudah bersiap menanti di area penjemputan dengan mobil Mitsubishi Xpander berwarna hitam. Tanpa membuang banyak waktu, roda kendaraan segera bergulir membelah malam Balikpapan, membawa kami menuju tujuan pertama untuk mengisi energi yang sempat terkuras selama penerbangan.
Malam pertama di Balikpapan ditandai dengan wisata kuliner yang menggugah selera. Kami singgah di Warung Serasa yang berlokasi di kawasan Balikpapan Baru Blok B1 Nomor 8–9 untuk menikmati sajian ayam goreng kampung yang gurih khas. Setuntas bersantap, perjalanan dilanjutkan ke agenda utama yang sangat penting, yaitu sowan ke kediaman paman tertua istri, Bapak Andi Bahrun Pasong, yang akrab disapa Petta Lolo. Di rumah paman yang kini telah berbahagia bersama anak dan cucunya tersebut, kami mengobrol hangat sekaligus meminjam mobil Toyota Rush milik beliau yang akan menemani petualangan kami selama berada di Balikpapan, Samarinda, hingga Tenggarong.
Malam kian larut saat kami berdua tiba di tempat peristirahatan di Griya Bukit Residence III. Kami menginap di rumah salah satu kakak kandung istri yang kebetulan sedang kosong. Karena status rumah yang tidak berpenghuni tersebut, praktis hanya kami berdua yang menempatinya selama beberapa hari ke depan, menjadikannya markas yang nyaman dan privat bagi kami selama berada di Kalimantan. Istirahat malam yang berkualitas ini menjadi modal penting sebelum memulai rentetan agenda padat keesokan harinya.
Pagi hari di hari kedua diawali dengan kunjungan ke Pasar Inpres Kebun Sayur untuk berburu buah tangan khas Kalimantan. Setelah urusan belanja selesai, petualangan berlanjut menuju Ibu Kota Nusantara (IKN). Kali ini perjalanan dilakukan berempat bersama kakak kandung dan sepupu istri. Setibanya di kawasan IKN, kami menyempatkan diri untuk santap siang di Rumah Makan Kampung Kecil IKN. Keindahan spiritual juga kami rasakan saat menunaikan ibadah salat di Masjid IKN, sebelum akhirnya menikmati kemegahan arsitektur Istana Garuda yang ikonik saat waktu beranjak dari asar menuju magrib. Perjalanan hari itu ditutup dengan makan malam di Restoran Cak Gurih setibanya kembali di Balikpapan.
Pada hari ketiga, petualangan beralih arah menuju Kota Samarinda. Kami berdua sengaja berangkat subuh melewati jalan tol agar bisa mengejar waktu salat subuh di Kota Tepian tersebut. Setibanya di sana, kami langsung menuju Islamic Center Samarinda untuk menunaikan salat berjamaah, dilanjutkan dengan mengikuti kajian subuh yang menyejukkan hati sekaligus merasakan berkah hari Jumat di sana. Selepas kajian, kami menyempatkan diri berjalan-jalan di kawasan Teras Sungai Mahakam, menikmati pemandangan sungai legendaris yang pagi itu tampak syahdu dibalut rintik gerimis tipis.
Dari Samarinda, kemudi mobil diarahkan menuju Tenggarong, Kutai Kartanegara, untuk meresapi destinasi budaya setempat. Kami mengunjungi Masjid Jami Hasanuddin, melintasi Jembatan Repo-Repo yang menawan, hingga menyeberang ke Pulau Kumala. Setelah puas mengeksplorasi Tenggarong, kami bergerak kembali ke Samarinda dan singgah di Toko Oleh-Oleh Najwa. Agenda di Samarinda pun berlanjut dengan melaksanakan salat jumat di Islamic Center, menikmati lanskap kota dari ketinggian menaranya yang megah, lalu ditutup dengan makan siang yang nikmat di Warung Makan H. Ijay. Perjalanan pulang ke Balikpapan sengaja memilih jalur non-tol, meski sayangnya saat singgah di Beruang Madu tempat tersebut sudah tutup pada pukul lima sore, dan dinner kami hanya bisa membeli bakso untuk dibungkus.
Memasuki hari Sabtu, 16 Mei 2026, hari kami awali dengan melaksanakan salat subuh di Islamic Center Balikpapan. Untuk menu sarapan, Depot Miki di Jalan Jenderal Sudirman menjadi pilihan tepat guna menyantap soto banjar dan bubur manado yang hangat. Agenda silaturahim keluarga berlanjut ke kediaman paman kedua dari istri yang akrab kami sapa Petta Longi. Kehangatan keluarga begitu terasa ketika adik sepupu istri—anak dari Petta Longi—mengajak kami makan siang bersama di Bondy Restaurant yang terkenal. Sore harinya, dengan meminjam sepeda motor milik kakak sepupu, kami berdua berboncengan menikmati angin sore di Pantai Lamuru, sebelum akhirnya menutup hari dengan makan malam di sebuah warung masakan Padang di jalur dua menuju tempat nginap.
Hari terakhir di tanah Borneo diisi dengan kegiatan yang santai namun tetap berkesan. Pagi-pagi sekali kami mengunjungi Pasar Tumpah Pringgondani untuk merasakan atmosfer pasar lokal yang riuh dan menyenangkan. Siang harinya, kami berkumpul di Kedai Kopi O untuk menikmati santap siang bersama sepupu istri yang merupakan anak dari Petta Lolo Bahrun. Di sela-sela obrolan santai di kedai kopi inilah, kami baru sempat memesan tiket pesawat Lion Air untuk penerbangan pulang ke Makassar.
Perjalanan lima hari yang penuh kesan ini akhirnya harus disudahi. Kami diantar menuju bandara oleh suami kakak kandung istri dengan mengendarai mobil Mitsubishi Outlander miliknya. Sepanjang jalan menuju bandara, ada rasa syukur yang membuncah di dalam hati. Perjalanan ke Kalimantan kali ini memang tidak muluk-muluk mengejar target wisata komersial, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan kultural untuk merajut kembali tali silaturahim dengan keluarga besar istri yang merantau di tanah Kalimantan.