Kamis, 22 Oktober 2020

PERDANA SANG AYAH KE IBUKOTA NEGARA JAKARTA



Perjalanan dinas saya di Jakarta yang berlangsung cukup lama dari tanggal 23 Oktober hingga 24 November 2017 di kawasan Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, menjadi momen sempurna untuk memboyong keluarga kecil saya—istri, anak-anak, dan kemenakan—menikmati riuhnya ibu kota. Antusiasme kian membuncah ketika ayah saya, yang seumur hidupnya belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta, memutuskan untuk ikut serta merasakan atmosfer pusat negara. Setibanya mereka di Bandara Soekarno-Hatta pada Jumat, 3 November 2017, rombongan langsung dijemput oleh sopir Pung Andi Jamaro menuju Hotel Aston Marina Ancol yang sengaja saya pesan seminggu sebelumnya karena lokasinya yang strategis dekat dengan Dufan. Saya baru bisa bergabung menjelang magrib, langsung disambut hangat oleh gurihnya burasa buatan kakak, sembari ditemani celoteh polos Althaf dan Mutia yang baru pertama kali ke Jakarta. Malam itu, kekaguman spontan ayah mencuat saat melihat gemerlap lampu kota dari ketinggian lantai 17 hingga beliau berucap ingin pindah ke Jakarta, yang langsung saya tanggapi dengan candaan bahwa indahnya ibu kota malam ini karena kita melihatnya dari atas sini, coba kalau merasakannya di kos-kosan yang macet dan padat. Sayangnya, karena faktor kelelahan, ayah sudah terlelap tidur ketika Kakek Amir dan Om Agus beserta istrinya datang bertamu menjelang kami beristirahat, sehingga mereka belum sempat berbincang hangat malam itu.

 Pagi itu, 4 November 2017, keceriaan langsung dimulai selepas sarapan saat kami menemani Althaf yang sudah tidak sabar untuk berenang di lantai swimming pool. Sekitar pukul 09.30 WIB, kami bersiap check out dari Hotel Aston dan menitipkan bagasi di resepsionis, bertepatan dengan tibanya Kakek Amir Paleppang dari Bekasi yang akan ikut bergabung. Destinasi utama kami hari ini adalah Sea World Ancol—kunjungan kedua bagi saya personally—di mana kami menghabiskan waktu hingga menjelang pukul 16.00 sore untuk mengagumi keanekaragaman biota laut serta berbagai atraksi memukau seperti pertunjukan lumba-lumba. Setelah kembali ke Hotel Aston untuk mengambil barang bawaan, perjalanan berlanjut menuju Hotel Ambhara di Jalan Iskandarsyah, Jakarta Selatan. Bagi saya, Hotel Ambhara adalah 'rumah' selama menjalankan kedinasan di ibu kota, meski di hari libur seperti Sabtu dan Minggu, saya sering kali berburu suasana baru dengan staycation di beberapa hotel lain seperti Hotel GranDhika Iskandarsyah di Blok M, Century Park Hotel di Kebayoran Baru, Hotel Bidakara, hingga Santika Taman Mini Indonesia Indah. Menjelang malam, sebuah kebetulan yang menyenangkan terjadi ketika Om Agus Donggala dan istri Pung Jamaro sama-sama mengundang kami untuk makan malam bersama. Akhirnya, setelah sempat melepas lelah di kamar hotel hingga ba'da Isya, Om Agus pun datang menjemput kami untuk menikmati dinner santai di tempat makan yang lokasinya cukup dekat, sehingga kami hanya perlu berjalan kaki menikmati suasana malam Jakarta.

 Minggu pagi, 5 November 2017, setelah menyantap sarapan di Hotel Ambhara, kami memulai petualangan hari itu dengan menumpang Busway menuju Tugu Monumen Nasional (Monas). Setibanya di sana, suasana sudah sangat hidup oleh hiruk-pikuk warga ibu kota yang rutin berolahraga mingguan serta wisatawan luar daerah yang ingin menikmati kemegahan ikon Jakarta tersebut. Meski antrean menuju puncak Monas sudah mengular dari kejauhan, kami memilih untuk memprioritaskan waktu dengan sekadar berjalan-jalan santai di sekeliling kawasan sambil mencicipi kuliner lokal yang menjamur di sekitarnya. Langkah kaki kemudian kami lanjutkan menuju Bundaran HI; rute sejauh itu sama sekali tidak terasa melelahkan karena bertepatan dengan momen Car Free Day (CFD) yang ramai oleh para pedagang kaki lima di sepanjang jalan. Puas menikmati atmosfer CFD, kami memutuskan naik bajak menuju Thamrin City—sebuah pilihan moda transportasi sengaja kami ambil demi memberikan pengalaman unik bagi keluarga, mengingat kendaraan roda tiga ini tidak dapat dijumpai di Sulawesi. Dari Thamrin City, destinasi berikutnya adalah Pasar Mayestik untuk menyambangi Toko Maju milik tante kami, Hj. Nafrida Mappanyukki. Di sana, kami tidak hanya dijamu makan siang yang nikmat di sebuah warung di dalam pasar oleh Tante Nafe, tetapi keluarga juga dihujani berbagai oleh-oleh manis seperti mukena dan baju batik. Menjelang malam, Om Hasbi menyempatkan diri mengantar kami kembali ke Hotel Ambhara, hingga tepat pukul 20.00 WIB, tibalah saatnya melepas keluarga tercinta menuju bandara untuk penerbangan pulang ke Makassar menggunakan maskapai Lion Air, sementara saya sendiri tetap tinggal di Jakarta demi menuntaskan sisa agenda kedinasan yang ada.


 

AKHIRNYA SANG AYAH KE KUALALUMPUR, SINGAPURA, JOHOR DAN BATAM

Ada sensasi tersendiri ketika kita melihat kembali sebuah peta perjalanan yang pernah kita lalui. Kenangan lama mendadak berputar ulang. Bedanya, kali ini kami tidak sekadar bernostalgia. Bersama sahabat saya, Andi Ilham Pammusureng, kami memutuskan untuk kembali merencanakan sebuah perjalanan lintas negara: Kuala Lumpur, Singapura, dan Johor.

Bagi kami berdua, rute ini sangat familier. Jalur yang akan kami tempuh nanti persis sama dengan rute petualangan saat kami berangkat bertiga beberapa tahun yang lalu. Langkah kaki, aroma kota, dan hiruk-pikuk stasiun transitnya mungkin masih sama. Namun, perjalanan kali ini dipastikan akan terasa jauh lebih spesial dan bermakna.

Mengapa? Karena kali ini, kami membawa serta orang-orang tercinta. Kami memboyong keluarga dekat untuk ikut merasakan keseruan menjelajah negeri jiran.

Rombongan Kecil, Cerita Besar

Dari ruang keluarga kami, saya mengajak Ummi, putra saya A. Althaf, serta ayah tercinta, H.A. Mattalatta. Perjalanan ini menjadi momen yang sangat emosional bagi saya, khususnya bersama Ayah. Ini akan menjadi penerbangan kedua beliau ke luar negeri. Penerbangan pertamanya? Terjadi sebelas tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2015, saat kami bersama-sama menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah. Setelah sekian lama, kembali bisa mendampingi beliau terbang melintasi batas negara adalah kesyukuran yang luar biasa bagi saya.

Di sisi lain, Andi Ilham juga membawa rombongan hangatnya. Beliau mengajak sang istri, dr. Nurlia (Ummi), kedua buah hatinya, A. Aufa dan A. Yahsan, kakak ipar, serta sang ayah, H.A. Pammusureng.

Dua keluarga besar, dua sosok ayah, dan anak-anak yang siap merekam memori baru. Bisa dibayangkan betapa ramainya perjalanan kami nanti!

Mulai Merajut Rencana Bersama AirAsia

Untuk urusan logistik dan penerbangan, pilihan kami kembali jatuh pada maskapai yang sudah tidak asing lagi untuk rute Asia Tenggara, AirAsia. Menatap kode boking dan menyusun itinerary perlahan-lahan memunculkan rasa antusias yang sama seperti beberapa tahun lalu, namun kali ini dengan tanggung jawab dan kebahagiaan yang berlipat ganda.

Jika dulu kami bergerak taktis dan cepat khas para backpacker, kali ini ritme perjalanan tentu akan lebih santai, menyesuaikan dengan kenyamanan orang tua dan anak-anak. Menikmati indahnya tata kota Singapura, berbelanja santai di Kuala Lumpur, hingga menikmati keseruan di Johor akan menjadi babak baru dalam jurnal perjalanan kami.

Rute boleh sama, tetapi tawa, cerita, dan jejak langkah yang akan tertinggal nanti dipastikan akan benar-benar baru.

12 Januari 2018

Jarum jam menunjukkan pukul 11.05 WITA ketika kami akhirnya melangkah masuk ke dalam pesawat (boarding) di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Udara siang itu mengantarkan awal dari sebuah perjalanan panjang menyeberangi selat, menuju ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur. Ada rasa antusias yang membuncah saat burung besi yang kami tumpangi mulai lepas landas, meninggalkan bumi Sulawesi untuk sementara waktu.

Setibanya di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA/KLIA2) dan setelah menyelesaikan semua urusan administrasi di meja imigrasi yang cukup menyita waktu, prioritas pertama kami adalah menunaikan kewajiban. Kami segera mencari musala bandara untuk melaksanakan salat jamak takdim—menggabungkan Zuhur dan Asar.

Dunia ini memang terasa sempit, dan tempat ibadah selalu punya cara unik untuk mempertemukan hati-hati yang jauh. Di dalam musala, kami tak sengaja bertemu dengan rombongan jemaah umrah yang berasal dari Luwuk Banggai. Di antara mereka, ada istri dan anak dari H. Latif (instalatir PT Perdana Satria), serta Imam Masjid An-Nur Simpong, Luwuk. Pertemuan singkat di tanah rantau ini menghadirkan kehangatan tersendiri, saling bertukar senyum dan sapaan akrab khas Nusantara sebelum kami berpisah menuju tujuan masing-masing.


Menuju Jantung Kota: Bukit Bintang

Selesai beribadah dan mengemas kembali barang bawaan, kami memesan transportasi online Grab langsung menuju pusat kota. Untuk tempat menginap, saya sudah memesan kamar jauh-jauh hari secara online di Hotel 88 yang terletak di kawasan strategis, Jalan Bukit Bintang. Pilihan yang tepat, karena kawasan ini adalah denyut nadi utama pariwisata dan belanja di Kuala Lumpur.

Namun, sebelum petualangan menyusuri kota dimulai, ada satu tugas penting yang harus diselesaikan: menenangkan perut yang sudah mulai berdemo. Istilahnya, kami harus segera "mengisi Indonesia bagian tengah" alias mengisi lambung yang sudah kosong sejak penerbangan tadi!

Pilihan kuliner pertama kami jatuh pada menu legendaris: Nasi Ayam Hainan. Potongan ayam yang lembut dipadukan dengan nasi gurih yang harum benar-benar sukses mengembalikan energi kami yang sempat terkuras selama perjalanan.


Menyusuri Gemerlap Bukit Bintang dan Pavilion

Dengan energi yang sudah terisi penuh, kami mulai menjelajahi kawasan Bukit Bintang. Kami berjalan kaki santai, menikmati atmosfer kota metropolitan yang sibuk namun tertata. Langkah kaki membawa kami menyusuri trotoar yang ramai hingga sampai ke Pavilion Kuala Lumpur, salah satu pusat perbelanjaan paling megah di sana. Di depan mal, kami disambut oleh ikon terkenal Liuli Crystal Fountain yang indah.

Sore itu kami habiskan dengan benar-benar berkeliling dan menikmati dinamika di sekitar Bukit Bintang. Mulai dari gemerlap pusat perbelanjaan, hilir mudik warga lokal dan turis mancanegara, hingga sudut-sudut jalanan yang menawarkan daya tariknya sendiri. Hari pertama yang melelahkan namun menjadi pembuka yang sempurna untuk hari-hari menyenangkan berikutnya di Malaysia.

   Keesokan harinya, 13 Januari 2018, perjalanan kami di Kuala Lumpur diawali dengan menyantap roti cane hangat di dekat Terminal Pudu. Meski menu khas ini sebenarnya mudah ditemukan di Makassar, tetap saja ada nuansa rasa berbeda yang melekat di lidah, dan momen ini menjadi sangat berkesan karena bagi Bapak, ini adalah pengalaman pertamanya mencicipi roti cane—walaupun ujung-ujungnya beliau tetap berburu nasi akibat kebiasaan wajib sarapan berat yang tak bisa diganggu gugat. Energi kami pun langsung terisi penuh untuk menjelajahi kota, mulai dari berburu suvenir di Pasar Seni (Central Market), mengagumi kemegahan Twin Tower, hingga singgah ke Masjid Jamek yang bersejarah. Sepanjang mengitari Kuala Lumpur, kami sepenuhnya mengandalkan moda transportasi publik seperti bus GoKL dan MRT; pilihan yang sengaja kami ambil demi menjaga kebersamaan rombongan kami yang berjumlah 10 orang agar tidak terpecah jika harus naik taksi, sekaligus memanfaatkan bekal pengalaman seru menggunakan transportasi umum yang sudah kami kuasai sejak awal kedatangan.

Minggu pagi, 14 Januari 2018, menjadi awal petualangan kami yang penuh semangat. Tepat setelah menunaikan ibadah subuh dan mengisi energi dengan sarapan pagi, kami bergegas meninggalkan hotel dengan berjalan kaki santai menuju Terminal Pudu. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan rute Rapid KL menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS) yang megah dan modern. Setibanya di TBS, kami langsung mengantre di loket tiket untuk menebus tiket bus seharga RM 25,70 per orang. Setelah menunggu beberapa saat, tepat pukul 11.30 AM, kami akhirnya dipersilakan naik melalui Gate 10 untuk melanjutkan perjalanan menuju Johor Bahru. Perjalanan panjang hari itu terasa sangat nyaman karena kami berkesempatan menikmati lanskap Malaysia dari dalam bus eksekutif Mayang Sari yang membawa kami melaju tenang menuju Terminal JB Larkin.

Setibanya di Terminal Larkin, kami langsung memesan Grab untuk menuju hotel yang telah kami booking secara online sebelumnya guna menaruh barang-barang dan menyegarkan diri. Menjelang magrib, perjalanan berlanjut menggunakan Grab menuju destinasi utama kami malam itu, yakni Masjid Negeri Sultan Abu Bakar, demi mengejar takbir pertama untuk melaksanakan salat magrib berjamaah di rumah ibadah yang megah tersebut. Usai beribadah, kami memanfaatkan sisa malam dengan berkeliling menikmati denyut nadi Kota Johor Bahru, menyusuri indahnya Pusat Islam Iskandar Johor, kemegahan gedung MBJB, serta arsitektur historis Istana Sultan. Suasana malam semakin berkesan saat kami bersantai sejenak di Taman Masjid Sultan Abu Bakar, sebelum akhirnya menutup penjelajahan malam dengan merasakan kemeriahan lokal di Plaza Pelangi dan berburu takjil atau kuliner khas di pasar malam setempat

Pagi itu, 15 Januari 2018 sekitar pukul 07.00, kami memulai perjalanan menyeberang ke Singapura menggunakan bus, namun ketatnya pemeriksaan imigrasi langsung menyambut kami dengan ujian kesabaran yang menguras waktu hingga 4 jam. Saya, Ilham, dan Bapak bahkan sempat tertahan di bilik interogasi untuk dicecar berbagai pertanyaan—mulai dari urusan pekerjaan, izin atasan, hingga kecurigaan petugas karena tiket 10 orang rombongan kami dibeli menggunakan satu akun saya—sementara anggota rombongan lainnya cemas menunggu di luar dalam kawalan ketat yang begitu menegangkan, bahkan untuk ke toilet pun harus dikawal, sebuah pengalaman traumatis yang membuat Bapak kapok untuk kembali ke Johor via Singapura. Ketegangan itu baru mencair setelah waktu Zuhur tiba, ketika kami akhirnya menginjakkan kaki di jantung kota Singapura setelah 45 menit perjalanan dari pos imigrasi; perut yang keroncongan langsung kami manjakan dengan hidangan lezat di Restoran Al-Tasnim, sebelum melangkah ke Masjid Sultan yang megah untuk menunaikan salat jamak Zuhur dan Asar, berburu oleh-oleh khas di sekitarnya, dan menutup hari dengan mengabadikan momen di depan patung Merlion yang menjadi ikon legendaris Negeri Singa.
 
Setelah puas menjelajahi Singapura, pada malam hari yang sama kami memutuskan untuk langsung menyeberang ke Batam menggunakan kapal ferry Batam Fast melalui HarbourFront Center menuju Terminal Batam Center pada pukul 19.10 waktu Singapura. Pilihan untuk bermalam di Batam ini memang sudah kami rencanakan sejak awal demi menghemat anggaran karena biaya penginapan di Singapura jauh lebih tinggi, sekaligus menjadi kesempatan bagi kami untuk melepas rindu dengan kuliner khas Indonesia dan berburu oleh-oleh khas Batam. Kami pun beristirahat di Batam Star Hotel yang telah dipesan sebelumnya melalui aplikasi Airy. Keesokan paginya, 16 Januari 2018, kami memilih berjalan kaki santai menuju Nagoya Hill Shopping Mall sembari menunggu jam operasional mall yang belum buka penuh agar tidak terburu-buru jika menggunakan Grab. Usai puas mengitari mall, kami kembali ke arah hotel untuk menyantap makan siang di warung prasmanan terdekat sebelum bergegas menuju Batam Center International Ferry Terminal. Tepat pukul 15.45 WIB, kami bertolak menuju Berjaya Waterfront Johor Bahru menggunakan kapal Sinergy; setibanya di sana, kami langsung memacu langkah menuju terminal bus untuk mengejar keberangkatan ke Pontian, yang beruntung masih bisa kami dapati di jadwal bus terakhir setelah sempat tertahan karena harus menunggu Ilham mengambil tas yang dititipkan di hotel sebelum penyeberangan kami ke Singapura

Setibanya di Terminal Pontian, langkah kami langsung disambut hangat oleh dua mobil jemputan milik Pung Cicuk yang dikemudikan oleh Cikgu Abdul Hadi Ambo Intang. Ramah tamah khas langsung terasa saat kami diajak singgah untuk menikmati makan malam yang lezat di Warung Atap Nipah. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Memorial Daeng Haddadek, di mana kejutan manis telah menanti; kami kembali disuguhi durian Pontian yang legit dan harum, sebuah rezeki istimewa mengingat kehadiran kami bertepatan dengan masa penghabisan musim durian di sana.

Pada tanggal 17 Januari 2018, setelah puas mengabadikan momen dengan berfoto-foto mengeksplorasi keindahan interior dan halaman di sekitar Memorial Daeng Haddadek, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Legoland dengan memesan dua mobil Grab, di mana tiket masuknya saat itu berkisar Rp350.000 per orang. Namun, selepas menikmati makan siang di sekitar kawasan Legoland, rombongan sempat terbagi karena satu mobil memutuskan untuk langsung kembali ke Bennut; sementara saya, Ummi, Aufa, Ilham, dan Yahsan memilih tetap bertahan untuk menjelajahi dan menikmati keseruan berbagai arena permainan di sana hingga menjelang petang. Kami baru bertolak kembali ke Bennut hampir memasuki waktu Magrib, dan tepat setelah menunaikan sholat Magrib, agenda hari itu kami tutup dengan penuh kehangatan melalui kunjungan silaturahmi ke kediaman Pung Leman, yang merupakan sepupu sekali dari nenek saya, Pung Mintang.

Perjalanan pulang kami pada 18 Januari 2018 terasa begitu hangat dan berkesan berkat kebaikan Pung Cicuk sekeluarga yang dengan tulus mengantarkan kami menuju Terminal Pontian. Sebelum benar-benar berpisah, kami menyempatkan diri untuk menikmati momen kebersamaan terakhir dengan makan siang bersama di Restoran Awie yang lezat. Setelah berpamitan penuh haru, kami melanjutkan perjalanan menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS), lalu tepat pukul 11.00 PM, kami bertolak menuju Bandara KLIA 2 menggunakan Jetbus. Dinginnya malam mengiringi penantian kami di bandara, hingga akhirnya menjelang subuh, pesawat membawa kami terbang kembali ke tanah air, pulang menuju Makassar dengan membawa sejuta kenangan indah


Senin, 19 Oktober 2020

PERANAN LATADAMPARE PUANG RIMAGGALATUNG MENUJU KEJAYAAN KERAJAAN WAJO

    • Latadampare Puang Rimaggalatung merupakan keturunan langsung dari Lapaukke  Raja Cinnotabi,
    • Setelah La TenriUmpu  arung  matowa Wajo yang mengedalikan wajo selama lima tahun dari tahun 1488 sampai1493,  maka rakyat  wajo yang ke empat kalinya meminta kesediaan Latadampare Puang Rimaggalatung Untuk Menjadi Arung Matowa Wajo, adapun upaya rakyat wajo meminta Lataddampare Puang Rimaggalatung menjadi arung matowa sebagai berikut:
      • Permintaan Pertama Menjadi Arung Mataesso , Setelah Arung Saotanre ( Raja yang Tinggi rumahnya) yang bernama La Tiringen ToTaba yang pada masa itu memiliki kedudukan yang istimewa disamping batara wajo dan  atas keinginan rakyat wajo memecat  Lapateddungi To samallangi selaku batara wajo ketiga,  maka pada saat itu Arung Saotanre mengutarakan  "bahwa jika kalian rakyat wajo ingin mencari arung mataesso yang baru  maka pilihlah orang luar saja, saya akan mengangkatnya dan membuatkan perjanjian untuk kebaikan kita bersama" Kebetulan pada masa itu ada seorang toko besar Yang bernama Lataddampare Puang Rimaggalatung masuk ketanah wajo, Beliau meninggalkan bone karena melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh raja bone pada saat itu,setelah tiba di wajo maka pamannya Arung Saotanre Totaba memerintahkan ke Latadampare Puang Rimaggalatung untuk mengusir Lapateddungi Tosamallangi keluar dari wajo atau membunuhnya, dan setelah rakyat wajo memberi bukti bukti yang cukup atas kesalahan Lapateddungi Tosamallangi, maka Latadampare bersama pasukannya membawa Lapateddungi ke salah satu tempat sebelah timur ibukota wajo, disanalah rakyat wajo menusuk Lapateddungi dengan tombak sehingga Lapateddungi Mati dilokasi tersebut, dan lokasi itu dinama LAPABBESSI,  permintaan  rakyat wajo ini di tolak oleh Lataddampare karena merasa malu sebab beliaulah yang pernah memenuhi permintaan rakayat wajo atas pengusiran Lapateddungi To Samallangi.beliau enggak mau dituduh  inginkan jabatan batara wajo, bahkan pada saat itu Latadampare lebih suka memilih kembali ke Palakka jika  rakyat wajo memaksakan kehendak.
      • permintaan kedua  Setelah To Palipung Wafatx, menjabat Arung Matowa Wajo Pertama selama tujuh tahun dari tahun 1480 sampai 1488. Latadampare Pun menolak, 
      • Permintaan Ketiga Setelah La Obbi Settiware Wafat  menjabat Arung Matowa Wajo selama lima tahun dari tahun 1488 sampai 1493
    •  dan akhirnya permintaan ke empat  Latadampare dilantik Menjadi Arung Matowa Wajo pada tahun 1498 dengan jumlah rakyat wajo pada saat itu tidak cukup 1000 orang ,walaupun dalam literatul lain mengatakan sekitar 2500 dimana daerah wajo saat itu adalah wanua Tosora dan Paria yang bergabung sukarela pada awalnya namun karena ada pembangkangan  akhirnya saat itu dijadikan abdi oleh wajo,termasuk yang sudah ditaklukkan pada saat itu Macanang, Atata dan Sekkanasu,  namun waktu yang relatif singkat beliau mempu melipat gandakan sampai ratusan ribu rakyatnya, menjadikan wajo menjadi kerajaan besar, adil dan makmur, Beliau seorang Raja yang cerdas mempunyai cita cita yang tinggi, bijaksana, dan mempunyai banyak petuah petuah dan perbuatan beliau yang ditulis dalam beberapa buku  lontara yang menjadi tauladan bagi arung matowa penggantinya dan rakyat wajo secara keseluruhan .
    • Setelah dua tahun memimpin wajo,  pada tahun 1493  Arung Timurung Yang bergelar Pawanna  Mana Ma'jali' MpulawengngE meminta bergabung dengan wajo  sebagai ana, Sakkoli sebagai abdi dimasukkan dalam wilayah limpo Bettempola, Gilireng  sebagai anak makessing, setahun kemudian Kera dan akkotengen bermohon bergabung dengan status ana, namun tidak masuk dalam limpo, setelah itu terjadi sengketa antara paria melawan macanang dan atata,  dimana saat itu macanang dan atata meminta bantuan pada luwu dan ana'banua,  berkat keberanian Latadampare maka ketiga daerah itu yakni Paria turun menjadi abdi, semntara Macanang dan Atata sudah 2 kali menjadi abdi, sehingga tidak mungkin memperoleh kedudukan yang tinggi. kemudian disusul bergabung Pallipu, Data, Totinco dengan kedudukan Seajing Senraja (Sanak yang sama besar),mereka menyebut 3 itu sebagai wajo barat sedangkang negeri Latadampare Wajo Timur, karena Latadampare berselisih dengan Luwu, dimana luwu meminta wajo ikut berkabung atas meninggalnya Datu Luwu Labusatana dan rakyat wajo menolak, maka diseranglah Tempe, Wage, Siengkang, Tampangeng, wilayah luwu saat itu ( Tana sitonraE) sesudah dikalahkan ke empat daerah itu kedudukannya abdi, masuk dalam wilayah betempola kecuali Wage dalam limpo Talo Tenreng, sebulan setelah itu maka datu Pammana  bersama datu Patila meminta bantuan ke Wajo untuk menyerang Limpuwa, dengan kesepakatan jika limpuwa kalah , maka limpuwa  menjadi daerah takluan, hanya sehari limpuwa takluk sebagai abdi,setahunkemudian Timurung bergabung dengan kedudukan sebagai ana', Dua Bulan kemudian wajo dan jasa arung penrang  menaklukan Bola yang selalu membuat keonaran maka bergabung  di bawah limpo talo tenreng ( kurang lebih  20 Tahun Latadampare menjadi Arung matoa wajo)

    • Setelah 20 tahun lamanya memimpin wajo dengan berbagai macam persoalan, dan sudah merasa kecewa, maka beliau mengumpulkan orang Wajo dan berkata " Wahai orang Wajo, Kasihanilah saya, supaya kamu mengambil kerajaan mu, karena saya tidak dapat lagi berbakti pada negeri ini, dan Tidak Juga aku bisa mewriskan ke anak cucuku" atasnya itu masyarakat wajo kebingunan dan ketiga paddanreng tidak bersatu atas usulan tersebut,karena jabatan arung matowa tidak bisa turun temurun,  dan setelah 3 bulan lamanya maka terjawablah permintaan tersebut dari seorang anak yang bernama Lapaturusi putra Arung bettempola LaTiringen Totaba memberi solusi dihadapan para paddanreng di balairung dan mereka menghadap ke arung matowa dan mengatakan" Kami rakyatmu datang kemari dan setuju atas permintaanmu, Namun kami tidak menghendaki yang mewarisi kerajan wajo adalah orang yang tidak baik walupun putra biologismu, karena sebenarnya orang itu tidak menghendaki kebaikan bagi kerajaan wajo maka orang itu bukan anak dan cucumu,, yang mewarisi kerajaan mu adalah yang mewarisi perbuatan dan pemikiranmu, memperbaiki negeri dan memelihara baik baik usahamu, orang yang tidak mewarisi perbautanmu maka tidak boleh mewrisi kerajaanmu" Maka latadampare membalas perkataan rakyat wajo " Bukanlah generasiku yang tidak                             mengikutiku, maka siapa saja yang mengikuti perbuatanku maka itulah generasiku:"
    • sebulan setelah perjanjian tersebut Jampu ditaklukkan dengan kedudukan ana bukan abdi dibawah limpo tuwa, karena orang jampu menerima permintaan wajo untuk turun kedaratan yang sekarang disebut Canru, kemudian berturut turut Sompe, Ugi, Liu dengan kedudukan ana' keempat negeri itu dipersatukan  dengan nama gabungan patampanuae,  dan ke empat negeri itu memotong kerbau untuk merayakannya, 
    • kemudian semua lontara mengisahkan persengketaan antara datu luwu To sengereng Dewa raja dengan  Addatuang sidenreng ( yang tidak disebut namanya),yang disebabkan pengembalian seekor kura kura pemberian datu luwu,  menyebakan sidenreng diserang, namun penyerangan oleh luwu tak berhasil mengalahkan sidenreng, walaupun sudah dua kali dilakukan penyerangan  , maka Datu Luwu  meminta bantuan ke wajo  dengan mengirim tiga orang abdi, tiga helai kain tanpa jahitan,dan tiga pasang gelang tangan emas berbentuk naga, sebagai bentuk tawaran ke Wajo untuk bersaudara, namun Lataddampare dengan kerendahan hatinya  menolak ajakan itu, karena tidak mungkin luwu yang besar dan agung bersaudara dengan wajo yang kecil, kemudian di hadiahkanlah wajo  Larompong dan Mallusesaloe sebagai penambah wilayah wajo, dengan perjanjian  Singkeru Patolae ri Topaceddo yang isiinya bahwa luwu dan wajo akan saling membantu, dan tak akan saling menyerang, dan teknisnya akan bersama menyerang sidenreng, dengan  perjanjian wilayah wajo akan diperluas jika berhasil mengalahkan sidenreng, Latadampare berhasil  menetak pimpinan sidenreng dengan kalewang, saat itulah Utting, belawa, bulucenrana dan rappang  menjadi daerah takluan   wajo , adapun sidenreng diluar 4 daerah diatas menjadi anak oleh luwu
    • Lataddampare  digelari sebagai  Puang Ri Mallalatung  ( Tuan Pembakar negeri) saat menyerang sidenreng,  karena beliau gemar membakar daerah yang diserangnya, dalam perjalanan sejarah gelar ini berubah menjadi Pung Rimaggalatung 
    • setahun setelah Sidenreng ditaklukkan, maka luwu menyerang lagi bone tanpa memberi tahu Wajo, dan saat itu luwu bahkan  datu luwu dirampas payung kebesarannya dan  hampir tewas dan pulang membawa kekalahan, maka luwu meminta bantuan ke wajo, dan wajo menyerang sehingga arungpone menyerahkan kembali payung, namun datu luwu menolak,dan menyatakan simpanlah untuk dipusakai turun temurun, maka saat itu Latenrisukki digelari Mappajungnge, dan  saat itu luwu dan bone berserikat persahabatan, atas jasa latadampare menyerang bone, maka datu luwu menawarkan lompo dan Patangkai menjadi wilayah taklukan wajo, namun latadampare hanya minta Malluse saloe yang terletak ditepi sungai walannae,
    • Tiga malam setelah pembakaran daerah lompo dan patangkai oleh luwu, maka orang mario menyingkir ke wajo dan dihadiahi daerah oleh bola, disanalah orang orang mario mebentuk kerajaan kecil yang diberi nama PENEKI, sebagai raja pertama di peneki adalah putra latadampare yakni La Maddaremmeng bergelar Mapottosewalie  bergelar kematiannya petta Ri Lapalemping
    • sebulan setelah lompo dibakar , maka  datu soppeng VII La pawiseang, memohon ke wajo, untuk menggabungkan negerinya ke wajo,karena khawatir serangan luwu, dan kedudukan soppeng adalah anak, dan tidak dimasukkan dalam limpo, langsung dalam pemerintah pusat,
    • setelah 3 tahun 8 bulan Timurung dan Amali bergabung dengan wajo, maka wajo minta untuk menyerang Wewolonrong yang berada sebelah barat dan selatan negeri pammana ( yang menjadi nama kecamatan sekarang, dan  merupakan tempat penulis dibesarkannamun saat itu datu pammana kedua Latenripatang marah karena memilik hub erat dengan wewolonrong, beliau menyatakan tidak takluk lagi kewajo, sehingga pammana diserang dan kembali ditaklukkan dengan status dua kali sudah jadi abdi, maka latadampare menetapkan bahwa "kalau dahulu wajo wajib mencontoh kedatuan pammana sebagai kedatuan yang tertua yang dihormati maka saat ini pammana harus ikut adat kemerdekaan wajo dan dimasukkan dalam limpo Tua,
    • Setahun setelah pammana ditaklukkan, maka Enrekang, Mansenrepulu, Batulappa bergabung dengan wajo dengan kedudukan sebagai adik
    • sebelumya Wajo mendapat hadiah  dari datu luwu sebagian orang orang pattilang , Wajo telah membantu luwu menyerang pattilang, dan orang orang tersebut dibawa ke ceppaga dan menunjuk pabbicra penrang sebagai raja disana, Pattilang diserang oleh luwu karena  Ma'dika Pattilang dituduh membunuh Puang sangalla yang bernama Duma atau Rajamawellang. Latadampare mengawini putri cantik duma' yang bernama we Marellang setelah pindah ke wajo diubah namanya menjadi we Tessiwoja   
    •            
    • Daerah takluan wajo saat Latadampare
    • Dengan ditaklukkan wajo barat , maka kerajaan wajo  berada di puncak kejayaannya dengan wilayah  sebagai berikut: disebelah utara, Larompong, Enrekang, Batulappa, Masserempulu, di sebelah barat: Wajo barat,Belawa, Utting, Rappeng, dan Bulucenrana, Suppa ( Pare pare) kemudian menjadi anak dari wajo, di sebelah selatan : Lamuru( bone), Baringen( soppeng), duakaserae,bate( soppeng), soppeng. di sebelah timur :Peneki, Timurung, Amali, Mallusesaloe, Lanca dan Mampu

    • Beliau pemimpin dengan banyak kemanangan gemilang dan menaklukkan dan memasukakkan daerah daerah tersebut dalam daerah kekuasaan wajo antara lain Larompong, Lamuru, Timurung, Batulappa, kassa, Maiwa, enrekang , Mario riawa, dan lain lain, 
    • Puang ri Maggalatung Putra Dari La Tompiwanu keturunan langsung dari batara Wajo Latenri bali dengan istrinya We Tenrilawi putri dari Arung palakka, Beliau meninggalkan bone dan pergi tinggal di wajo dikarenakan perbautan perbuatan baik yang dilakukan di bone, 

    • Setelah 30 tahun lamanya mengendalikan wajo , dan sudah kondisi sakit sakitan dan merasa hidupnya tidak lama lagi, maka kembali megumpulkan masyarakat wajo dan berwasiat " Penggatiku Hanya orang yang mempunyai sifat ini yakni kejujuran, Kepintaran, Kemurahan hati dan keberanian, ,Ranreng Bettempola  La To Maddualeng  bertanya kepada puangrimaggalatung siapakah gerangan yang beliau usulkan untuk penggantinya, maka beliau berkata  adalah putranya La Tenri Pakado Tonampe, dan setelah meninggalnya berselang 3 tahun rakyat wajo mengangkat Latenri Pakado menjadi Arung matowa namun selama 3 tahun maka yang mengendalikan adalah To Maddualeng dengan cara sesuai nasehat Latadampare ke Tomaddualeng dan orang wajo. Bahwa selama 3 tahun lamanya simpanlah abuku , dan abukulah yang akan memutuskan perkara, dan suruhlah yang berperkara duduk didepan abuku, dan menuju mana asap abuku maka pihak itulah yang benar,dan engkaulah To Maddualeng yang menyatakan siapa yang benar atau yang salah, 
    •  Setelah sudah 3 tahun lamanya setelah wafatnya, maka abunya di simpan dalam balubu dan ditanam dekat pohon yang dinamai 'Aju Uleng yang terletak disebelah selatan ibu kota wajo, setelah itu barulah Tonampe resmi diangkat menjadi Arung Matowa dan didampingi oleh Lapaturusi Tomaddualeng sebagai Ranreng Bettempola saat itu.
  sumber: sejarah wadjo  abd razak dg patunru & sejarah hukum adat kerajaan wajo abad 15 & 16 oleh Prof A.Zainal Abidin
By Lamakkaraka ( wasobo)

Minggu, 18 Oktober 2020

KELUARGA TARO ADA TARO GAU MULAI BERAKTIFITAS KEMBALI

Sabtu 17 oktober 2020, Taro Ada  Taro Gau kembali melaksanakan silaturahim bulanan yang dikemas dalam bentuk arisan keluarga di Buguri Jalan pelita Raya , setelah covid 19 melanda nusantara, termasuk negeri Taro Ada Taro Gau, saya sendiri baru pertama kali ikut kegiatan silaturahim TATG, walaupun sudah  dua kali pertemuan dalam putaran kedua Arisan TATG yang dilaksanakan di Pantai Losari dan Rumah Pung bau wentri yang dihadiri oleh sultan pasir sekaligus penyerahan SK Mars Jeneponto,

peserta putaran kedua  mengalami peningkatan baik dari sisi jumlah peserta dan asal daerah  bahkan bukan cuma dari makassar tapi ada dari sidrap ,pare pare, gowa dan Takalar, pada arisan kali ini menjadi tuan Rumah  dan mentraktir kami adalah Pung Datu Tenri Bali Sunra (Ketua Arung Matowa Makassar)  dan Ketua Kerukunan Keluarga Bugis Bersatu sering disapa Etta Mami, Inilah silaturahim  Arisan Taro Ada taro Gau yang paling ramai, sejak PSBB makassar sampai zona merah minggat dari  sulawesi selatan,  dengan menggunakan  1 gazebo besar dan 3 Gasebo kecil, dari pukul 11 WITA keluarga sudah mulai berdatangan, dan betul lantai dua Buguri hanya diramaikan oleh  Anggota Taro Ada Taro Gau , adapun peserta yang hadir sesuai list konfirmasi yang ada di group adalah Petta Yaya,Petta Fitri,Bau Jai,Bau Nemmi,Bau Denra,Petta Mame,Bau Wentri ,Petta wana,Murni Krg Maktaring,Andi Wahida machmud,Petta Mangkau,Petta Insana,Andi Makkaraka,Andi Batari Makkaraka,Pettà Arsia,Petta srimurni, Petta sriwangsa,Petta Dalauleng,Petta lia,Andi Tenri Akko,Karaeng Sayang,Andi Edison,Andi Sriwi,Andi Simpuru,Andi gerhana bau sakti, saya pun hadir setelah selesai sholat dhuhur, mungkin sudah ada peserta yang sudah pulang dan siap siap pulang,itupun langkah tercepat saya, karena sebelumnya gowes di padivaley Golf Club dan sampai dirumah jam 11.30 WITA.

putaran kedua ini sepertinya agak beda dengan putran pertama, karena setiap bulan akan ada dua anggota arisan yang naik, dan diharapkan pelaksanaanya dirumah anggota arisan, dan jika dilakukan di resto/ Cafe atau diluar rumah maka masing masing peserta untuk membayar sesuai bookingan menu yang dipesan,  dan bagi yang tidak hadir untuk mentransfer sebelum  hari H, dan kali ini dilakukan pengundian yang berbeda putaran pertama sesuai pesanan keluarga ( fleksibel)

Add caption

Adapun jumlah peserta peserta arisan putaran kedua ini sebanyak 25 peserta, sesuai nama  di group whats app Taro Ada Taro Gau sebagai berikut:
1.Andi Bau Denra.                 
2. Petta Sridaya.                       
3. Petta Idiel                              
4.Petta Sriwana
5. Petta Sriwi
6. Karaeng Sayang
7. Petta Arsia
8. Bau Jai
9. Bau Nemmi
10. Petta Dalauleng
11. Petta Kasma
12. Petta Srimurni
13. Petta Insana
14. Bau Wentri
15. Petta Mangkau
16. Pung Datu Tenri Bali
17. Pung Datu Sompa Ebe
18. Murni Karaeng Mattaring
19. A. Bataria Pasong
20. Andi Welda
21. Andi Wahida
22. Andi Simpuru
23.Andi Tenri Akko
24. Andi Edison
25. To malebbiku Petta Baso
26 Petta Sriwangsa
27 Petta Marlia
28. Petta Bau Mame Patiroi
29  Etta Mami Nuh

By Lamakkaraka

Rabu, 14 Oktober 2020

MENGHADIRI PESTA DISELINGI GOWES WASOBO

Jumat ,9 oktober 2020,  saya  bersama ummi, althaf,  dan kakak menuju watangsoppeng via mobil DD 1363 S,untuk menghadiri acara tudang penni adek sepupu nyonya, dalam perjalanan saya pun di hubungi olehAndi ilham pammusureng ditawari  makan di triple 8 atau bebek, saya pilih makan bebek,,  sekitar tiga jam kami sudah tiba di Desa Timusu, tepatnya warung itik palekko yag terletak dipinggiran sawah, ternyata teman saya   dan umminya aufa yang bertugas dirumah sakit soppeng sebagai dokter spesialis saraf sudah memesan  itik palekko, itik goreng, dan itiik rasa asam dengan porsi 10 orang,  setiba disana,tidak lama kami menunggu, kami lansung menikmati menu itik, sementara menikmati menu andalang kota soppeng ini, timusu diguyur hujan, setelah itu , kami  menuju rumah kakeknya ilham  almarhum pung Andi Makkasau yang berada di jalan kesatria untuk istirahat, walaupun sebenarnya sudah disiapkan kamar di lalabenteng untuk istirahat, karena pertimbangan banyak keluarga dari luar  soppeng berdatangan, maka kami pilih jalan ksatria untuk istirahat, setelah sholat ashar jama dengan dhuhur , kami gowes  bertiga menuju taman kalong yang terletak  depan masjid agung, namun ditengah perjalanan umminya althaf  tidak mampu lagi gowes mengkituti rute kami, memang kota soppeng banyak pendakian, umminya  memilih pergi dirumah neneknya yang terletak di lala benteng. saya dengan ilham melanjutkan gowes  menuju desa ganra dengan rute Pao- Ganra, namun saat masuk di kampung Pao hujan menghampiri kami diserta angin kencang, kami istirahat sejenak, namun hujan tak kunjung berhenti, kami putuskan gowes dalam kehujanan, menjelang magrib kami berdua tiba kembali di jalan  ksatria, dengan rute yang lumayan menantang dengan tanjakan jalan samudra kami lewati, tanjakan depan taman sutra, setelah magrib   kami berempat menuju  ke acara tudang penni anak dari H.Andi Sri dengan Hj Andi Pappang, setelah acara pengajian yang dibawakan oleh Bapak ust Drs Patang, maka acara Tudang penni juga berakhir dengan foto bersama dan menikmati hidangan malam yang sudah disiapkan, kemudian  kami pamit menuju pammana,sekaligus izin untuk tidak mengikuti acara besok harinya,  dan kami tiba di maroanging sekitar 22,00 Wita.

sabtu 10 oktober 2020, sehabis sholat subuh bersama ummi, kami berdua gowes menuju arah kota sengkang, dengan rute Maroangin- Patila - Calodo - Lempa/Ulugalulung dan Tampangeng, rencana sampai masjid agung sengkang baru balik kembali ke maroangin, namun setiba di pasar Tampangeng  lagi lagi hujan menghampiri kami, kami memilih berteduh didepan pasar tampangeng, sekaligus menikmati kue putu , yang memang tiap ke sengkang , saya sempatkan beli putu di pasar tampangen. sekitar 20 menit kami menunggu dan hujan pun tak reda, walaupun nyonya ingin sekali  gowes sambil hujanan seperti disoppeng , karena pertimbangan banyak agenda,dan takut masuk angin  maka sepeda nyonya saya lipat, sementara mau lipat sepeda saya, tiba tiba datang angkot, ternyata angkot itu milik teman sewaktu SMP kampiri ( kalau sekarang SMP 1 Pammana), sehingga dalam perjaalan menuju maroangin kami saling memberi info tentang siapa siapa teman smp yang  stay di kampiri / pammana, dan ketika masuk di desa patila , hujan sudah reda, maka kami pilih untuk turun dari angkot dan melanjutkan gowes, karena rute pagi ini tidak terlalu menantang, maka kami rencana mau lanjutkan ke daerah Lagosi, namun setiba di maroangin langit memperlihatkan tanda mau hujan kembali, maka pilihannya adalah membersihkan dua  sepeda dari banyak nya kotoran yang melekat di sepeda akibat jalannan lumpur disekitar patila, , sekitar jam 10,30 kami menuju desa tanrung kabuapten bone, menghadiri  aqiqahan dari adik sepupu, sekaligus acara silaturahim serta arisan perdana rumpun sulewatang lare,yang sudah dijadwalkan  bulan lalu, namun tertunda  karena adanya agenda dinas di kendari, alhamdulillah acaranya sukses dan lancar, dan kami pun meninggalkan Tanrung menjelang magrib.


Ahad,11 oktober 2020,salah  satu agenda  kami pulang ke sengkang adalah untuk menghadiri acara akad nikad kemanakan saya sekaligus  mengantar pengantin dari Jalan Tomaddulaeng kota Sengkang  ke kota Watampone tepatnya di Bajoe, mempelai laki lakinya anak dari sepupu satu kali yakni Andi Muh Hazemi Rafsanjani bin H.A.saharuddin yang mempersunting Fitha Prastita Laweani, baru tiba di pintu pagar mempelai laki lakinya langsung menyayikan Mars paleppang,kami pun tersenyum akan ulah mempelai laki laki,  alhamdulillah kumpul lagi rumpun keluarga pung Mallawi, dan Pung Hj Mintang,saya pun datang lebih awal dari jadwal, karena kegiatan seperti ini moment untuk ketemu  dengan keluarga dekat, sekaligus mengganti waktu atas batalnya hadir pada malam harinya,yang rencana mau kumpul semua cucu pung mallawi,  namun tidak sempat hadir karena  ada kendala teknis pada mobil, dan kakak saya A.Rosmianti sejak berada disoppeng mengalami sakit perut, bahkan sudah hampir membatalkan hadir di acara karena masih sakit, syafakallahu pung,,,

pukul  8:12 Wita kami start menuju bone dan tiba di bajoe 10:42,  sekitar jam 11,05 pengucapan akad nikah pun dimulai dan sekali pengucapan langsung SAH, pukul  12.24 acara mapparola yang berlokasi disebelah rumah keluarga mempelai perempuan, , setelah itu kami menuju ke warung Latanete yg terletak di jalan ahmad yani ,untuk menikmati  menu piasng ijo yang lumayan terkenal di kota watampone,  kami berkumpul wija epponna pung mallawai  plus pung Pangerang dan tante kami Nurhayati Pangerang, konon kabarnya tidak sah ke bone  kalau tidak menikmati pisang hijau atau bakso Latanete, setelah keluarga balik ke daerah Masing masing , saya menuju jalan besse kajuara  rumah mertua, setelah itu kami pamit  untuk istirahat di B7 Home,  setetelah ashar  kami berdua melanjutkan gowes dari kampus STKIP muhammadiyah bone menuju rumah adat, kemudian menuju taman arung Palakka, lanjut menuju kerumah sakit persada, melalui jalur jalan ahmad yani ,Rumah Sakit tenri Awaru, di RS persada kami menjengut keluarga yang habis melahirkan anak keduanya. menjelang magrib kami mendayung sepeda menuju ke jalan Biru samping Rumah sakit tantara, ketemu sebentar dengan kakak kandung nyoya, setelah itu kami balik istirahat di B7 Home. sekitar Jam 03 .00 WITA  kami menuju makassar, Tepat pukul 07:16 saya sudah sampai dikantor di jalan Mongisidi Makassar untuk lanjutkan aktifitas kantor, SALAM SEHAT

                                    

       

                            




Minggu, 11 Oktober 2020

FLIGHT dan SWAB TEST PERTAMA SEJAK PANDEMI COVID MARET 2020

        

Tiba tiba  ada tugas dinas kekota  kendari sebagai ketua Tim dengan agenda yang cukup menantang mulai tanggal 13 sampai 19 sepetember 2020,menantangnya karena disamping masa pandemi, anggota tim yang ikut bersama saya semuanya masih single belum ada yang berkeluarga, dan saya sendiri sebagai ketua tim karena berumur dibawah 50 tahun, dua hari sebelum berangkat sudah melakukan rapid test di Kimia Farma yang  berkedududkan di jalan petta rani makassarsekitar 20 menit  hasil rapid testnya dinayatakan non reaktif, ini  rapid perdana bagi saya, , setelah itu kami booking tiket dengan maskapai garuda, GA 604 tanggal 13 sepetember 2020 makassar kendari  seat 23 H,  sekitar satu jam perjalanan kami berlima tiba di bandara kendari  pukul 10.30. kami dijemput dengan dua mobil hilux, dalam perjalanan menuju hotel saya tertarik dengan nenas yang dijual dipinggir jalan, yang harganya lumayan murah hanya 15 ribu dua kantong, dan ternyata buahnya memang manis, maka ingatan tertuju dengan nenas kotamobagu, 

    Kami langsung menuju Hotel Plaza inn merupakan group by horison , awalnya saya rencana mau  nginap di hotel claro kendari , namun dapat info kalau beberapa hari yang lalu hotel yang berdekatan dengan claro ada indikasi covid disana, maka saya putuskan menginap di hotel Plaza inn, kamar deluxe 502, selama  enam hari saya nginap di hotel ini, alhamdulillah pelayanan lumayan  memuaskan , sampai disiapakan untuk makan sahur , rental sepeda  sesampai disana kami istrirahat, menjelang ashar kami breafing dengan anggota tim, breakfast nya sendiri menyediakan makanan tradisonal  kendari.

    Hari kedua, saya bagi dua tim, Tim yang satu menuju jalur Ladongi, sementara saya  menuju jalur Asinua Jaya desa abuki, untuk melakukan observasi dilapangan, selama dikendari kegiatan kami  mulai dari 07.30 bahkan kadang selesai sampai 21,00. sehingga kebiasan menghubungi keluarga, kerabat, teman kuliah tidak sempat lagi, kecuali kakak sepupu dari bapak, yang juga merupakan pensiunan di instansi yang saya kunjungi. beliau pernah menjadi kepala di unaha, kepala dikolaka, informasi ini dari sepupu kakek saya , yakni puang Andi Mappasala dua tahun lalu sebelum beliau meninggal didunia di Pomala,  bahwa  ada cucunya puang billa di kolaka, 

        Jumat, 18 sepetember 2020 kami sholat jumat di masjid terapung kendari masjid al alam, kecuali mas fairuz karena non muslim,  kemuadian makan siang  di warung padang sederhana, dan selama kendari kami ketemu orang orang dari selatan, ada pak ishaq rauf merupakan cicit dari ishak manggabarani, ada pak muhammad asmad orang wajo paria, 

        

Sabtu pagi saya dengan mas wisnu gowes bareng, kebertulan di hotel ada fasilitas  sepeda rental , rutenya juga tidak terlalu jauh dari hotel ke tugu religus sultra, masuk ke loaksi mtq nasional, kemudian menuju masjid tarapung, kembali ke hotel algi, sekitar 14 km, persiapan  balik makasar dengan via garuda GA 065 sebelumnya kami isi HAC ( Health Alert Card) , kemudian setibanya singgah di prodia panakukang untuk booking swabt test untuk keesokan harinya. dilakukan swab test perdana juga, dan alhamdulillah hasil tanpa indikasi.

RUMPUN SULEWATANG LARE BERTEMU

10.10.20.20  bagaikan pasword untuk masuk aplikasi tertentu, atau kalau kekinian merupakan nomor cantik yang dipilih oleh kaum Millenial untuk acara tertentu seperti akad nikah dll, ini juga dijadikan  sebagai babak baru bagi rumpun keluarga Sulewatang Lare. dimana tanggal 10 oktober 2020 terjadi pertemuan perdana yang insya allah akan dirutinkan tiap bulannya,walaupun mungkin komunikasinya selama ini hanya  lewat group Whatsapp sulewatang Lare, alhamdulillah pada pertemuan perdana ini hampir terwakili dari semua rumpun, hadir kakek, Tante, paman, sepupu dari berbagai daerah seperti makassar, soppeng, bone, sengkang , dan terkhusus dari pammana yang secara geografis Lare,E  berada dalam distrik Pammana.