Kamis, 22 Maret 2018

DARI TIMIKA SAMPAI ASMAT



      Perajalanan kali ini ke Timika,  agak berbeda dari biasanya , karena selama 24  hari mulai  tanggal 26 Februari samapai 22 maret 2018, biasanya  sabtu Ahad saya gunakan untuk kemakassar, namun kali ini  saya habiskan waktu di Timika kabupaten Mimika  Provinsi Papua Barat, banyak sebab diantaranya adalah  sudah selesai semua kegiatan perkuliahan saya  di Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Makassar , Ikut antrian jadwal penerbangan menuju kabupaten Asmat, ,dan juga tidak kalah penting harus mengeluarkan isi dompet minimal 3  juta, ,   perjalanan kali ini bersama  teman teman dari tim 19 B Satuan Pengawasan Intern Maluku Papua, ada Yulianto Dwi Putra, Muhammad Yasir keduanya alumni Universitas Hasanuddin Jurusan Elektro , ada Herdian Raditya alumuni Universitas Gajamada Yogyakarta jurusan fisika, ada Muchammad akbar Ghozali alumni Universitas diponegoro Semarang Jurusan  Mesin,  ada Jessica, Fernandes Alumni Universitas Trisakti Jakarta Jurusan Teknik Industri, ada  Fajar Akbar Fandiangan,dan Yusuf  Syahtiar,  keduanya  Alumni jurusan Elektro Sekolah Tinggi  Teknologi  PLN  Jakarta, ada Riyo  Husain Alumni  Institut Teknologi  sepuluh Nopember Surabaya Jurusan Fisika , ada Petra Monika Sunme Alumni Universitas Samratulagi jurusan Akuntansi yang satu satunya orang papua dalam tim ini,  kesepuluh Anggota Tim Ini semuanya berumur dibawah 26  tahun  selisih 10 tahun dari umur saya, dan saya sendiri diberi tugas sebagai Ketua  Tim  sesuai tugas selaku Deputy Group Head
Dari Ambon transit menginap di Hotel Swiss Bell Panakukan makassar,  karena jadwal penerbangan  ke Timika semuanya mulai dari dini hari dari 02,00 WIT  sampai jadwal terakhir  garuda jam 05.15 , pada hari senin dini hari jam 05,15 tanggal 26 Februari 2018 kami menuju Timika via Garuda Airlines, bersama Inspektur Regional Maluku dan Papua Bapak Heryawan dan staff beliau saudara Dani.  Kami tiba di bandara Mozes Kelangin, setibanya kami dijemput sama teman teman dari PLN Area Timika, kemudian menuju Ossa De Villa yang terletak dijalan Hasanuddin Timika Mimika Baru,.
Selama saya di Timika saya menginap di Ossa  De Villa tepatnya dikamar 201, selama 3 hari dan 2 hari dikamar 110, selebihnya menginap di Horison Ultima Timika,  yang juga bersebelahan dengan ossa,dengan pertimbangan utamanya  adalah hotel horison disamping bintang 4 juga dekat dengan Masjid Al Ihsan  Timika.
Disana ketemu dengan adik Sepupu dua kali dari Mama yakni  Andi Elyudistira pangerang dengan istrinya di Ossa De villa  , Teman SMU 1 Sengkang Suriadi Yusuf di Hotel Horison merupakan Putra belawa yang merantau ke timika sejak tamat SMA, begitu juga menjalin silaturahim dengan jamaah masjid Al ihsan, Imam masjid Ust Ismail Alumni Hafids As’adiyah, H Ikhsan orang Palattae Soppeng, Haji Ilyas Orang Bone,  Mas Sumpala Orang Pangkep, Ada Mas Haerun Orang jawa kebetulan kerja di Kantor pajak,dan ketemu dengan senior Elektro dari universitas Hasnuddin alumni tahun 1990 kanda Taslim yang bertugas di Freeport Tembaga Pura, semuanya sudah memilih untuk menetap di Timika, dari nyalah banyak informasi tentang Timika, baik saat menunggu isya, maupun setelah shalat subuh menunggu syuruq, bahkan sempat diajak main badminton di Masjid Alazhar Pasar Lama,
Selama berada ditimika saya mendapat tugas lagi  ke Jayapura selama dua hari tanggal 6 Maret 2018, menghadiri  rapat pendahuluan konsultansi pelaksanaan Listrik pedesaan di Wilayah papua dan papuan barat, Ternyata sampai disana semua hotel bintang 4 full,  akhinnya saya menginap di hotel fave dekat kantor, itupun hanya semalam, karena  besoknya juga full, menurut info dari teman  karena  betepatan hari jadinya jayapura, ke esokan harinya sehabis rapat sekitar jam 11.00 saya menuju ke airport sentani,  di temani sama  Andi Ma arif merupakan pegawai Auditor Regional 18 dan ternyata merupakan Yunior dari bapak DR.Amir ilyas, SH MH di Fakultas Hukum Unhas,  Amir ilyas merupakan  teman sekolah saya waktu kelas 3 di sekolah Unggulan Kabupaten Wajo,
Setiba dibandara saya memutuskan kembali ke Timika yang sebelumnya  mau ke Yahukimo mendampingi  Riyo dan Gozali , namun sampai disana seat full untuk pesawat penerbangan kesana baik Trigana maupun  Wings, akhirnya saya memutuskan menuju Timika dengan Garuda,
Setiba di Timika, saya merencanakan untuk mengunjungi kabupaten Asmat, namun terdapat hambatan penerbangan,  dimana transfortasi udara menuju kesana  sangat terbatas sehari satu penerbangan, baik tarif subsidi maupun tarif non subsidi, akhirnya karena belum ada  kejelasan  kapan berangkat,  saya memilih alternatif laut, lewat pelabuhan Pomako yang berjarak 35 Km dari kota Timika, tanggal 13 Maret 2018 jam 09 ,saya, herdi dan yasir naik kapal PELNI  KM   Tatamaila dengan kamar  6009 dek 6,perjalanan kesana ditempuh .selama 11 jam perjalanan, dalam perjalanan  ketemu dengan Tim dari Ikatan Dokter Indonesia yang mendapat tugas kemanusiaan ke Asmat, dalam perjalanan  mesin KM mengalami trouble selama 30 menit , kami agak khawatir karena tiba tiba mesin KM mati. Namun kami dihibur sama penumpang yang biasa berlaut yang keliatan dari wajahnya  dan ucapannya bahwa ini biasa saja.



Jam 19.30 kami  berlabuh di pelabuhan Agats kabupaten Asmat, dari pelabuhan ke tempat penginapan jalan Yos sudarso  milik CV Firman Jaya, kami naik Ojek dengan menggunakan  Motor Listrik, di Agats tidak akan ditemukan Roda Empat, hanya Roda Dua itupun harus bersumber dari listrik, ,  Motor Listrik adalah kebijakan Pemda Asmat, yang diperkenankan beroperasi di Agats, dengan salah satu pertimbangan lebar jalan  yang terbatas. Sebenarnaya banyak penginapan disana, namun pertimbangan dekat pasar, dekat masjid dan dekat pelabuhan speed Baot kami pilih penginapan firman Jaya, Saat adsan subuh dikumandankan juga terdapat suara menangis sangat keras, anggapan awal mungkin karena ada kedukaan, namun setelah dicek sama petugas hotel, ternayata mereka semuanya Mabok
Sekitar Jam 09.30  pagi dihari rabu tanggal 14 maret 2018 kami ditemani Koordinator Kantor Jaga Agats saudara Laurense menuju  ke Distrik Atsj dengan Speed boat KDI selama kurang lebih 4 jam perjalanan pulang pergi dengan melewati muara sungai,  namun saat balik dari  Distrik Atsj ke Agats kondisi air sungai dalam keadaan surut , menyebabkan speed boat didorong oleh kemudi sekitar 2 km perjalanan.
Setibanya di agats kami bergegas melihat keunikan kabuapten asmat  seperti Airnya sangat tergantung sama air hujan makanya tiap rumah pasti memiliki lebih dari satu tandon, Infrastruktur hampil semua kayu termasuk Lapangan sepak bolanya, makanya dijuluki kota seribu satu Kayu, begitu juga motor yang ada disana semuanya motor listrik,  dan, tiba tiba ada sekelompok orang berlairian saat kami makan malam disari laut dekat hotel, menurut info  ada perkelahian antar sesama orang asmat. Dan menurut penjual sari laut bahwa itu biasa disini mas ,

Pada esok harinya tanggal 16 maret 2018  kami menyebrangi sungai  menuju bandara Eweer,  merupakan bandara perintis yang ada di kabupaten Asmat, dalam speed boat ada tambahan penumpang selain kami bertiga  yakni Hiroki Yatama dari Tokyo, hiroki ke asmat  hanya ingin Mancing Ikan , setelah berbincang bincang akhirnya kami menjadi berteman difacebook dari tokyo,
Hari itu juga Asmat mendapat kunujungan menteri pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat  Bapak Basuki Hadimulyono diRuang tunggu kami ketemu dengan Unsur Muspida Kabupaten Asmat, termasuk bupati asmat, dengan menaiki pesawat Airfast yang sama dengan pak menteri , selama dua hari di kabupaten Asmat  saya sudah mengunjungi 3 Distrik dari 23 Distrik yang ada di daerah asmat, dan menurut info bahwa semua distrik  disana telah mewabah penyakit campak dan gizi buruk selain sebagai daerah endemik malaria.

Setiba di Timika,kami  kembali menghabisakan waktu dengan kegiatan rutin, , disamping itu kami juga sempatkan berwisata kuliner dibeberapa tempat,  ada Bakso beranak Hasanuddin, Ada Warung pecel mas Agus budiutomo, Ada Warung makan Andika yang menjadi langganan makan siang selama di Timika,   Ada Coto Makassar galaxi, dan Swalayan paling besar dan terlengkap  di kota timika adalah Diana swalayan, disamping kuliner juga ibadah rutin shalat berjamaah dimasjid seperti di masjid al ikhsan dekat hotel horison ,masjid Alazha dekat pasar lama, ada masiid yang belokasi dalam area kantor polisi Militer yang berdekatan  kantor PLN ,   ada masjid Agung Babusalam sebagai tempat jumatan, Ada Masjid 
Sepertinya tidak  ke Timika kalau tidak ke Kuala kencana, dan saya sendiri  menyempatkan kuala kencana sebanyak dua kali,dan yang paling seru adalah   kunjungan terakhir sehari sebelum balik dari Timika, karena semua lokasi kita kunjungi, disana ada Masjid, Ada Hero Swalayan, Ada lapangan Golf, Ada Wisma Karyawan, bahkan ada lokasi pemakaman,disamping itu  personilnya juga lengkap kecuali jesica dan yusuf yang berangkat duluan kejakarta mengikuti Diklat,   ditambah Pak izhar sebagai  Group Head yang baru  pengganti Bapak  toni komara yang sudah memasuki purnabakti , Kuala kencana dijuluki  kota dalam kota,  disinilah kami akhiri segala kunjungan kami di Timika sebelum kembali kedaerah masing masing. Dan tanggal 22 Maret 2018 pukul 12.15 menit kami kembali kemakassar via Sriwijaya..






Minggu, 04 Maret 2018

PUANG TAMBASA YANG KUKENAL

Menjemput Keteguhan Puang Tambasa: Catatan Silsilah, Prinsip, dan Doa yang Dikabulkan

Setiap orang memiliki jangkar masa lalu yang membentuk siapa dirinya hari ini. Bagi saya, jangkar itu bernama Puang Tambasa Dg Pasore. Seorang kakek, guru kehidupan, sekaligus benteng kokoh tempat saya berlindung di masa kecil. Orang-orang, termasuk mertua saya, Andi Tajuddin Pasong Petta Rani, kerap menyapanya Puang Bassa’. Namun bagi saya, beliau adalah "Puang"—sebuah panggilah penuh penghormatan yang melampaui sekadar hubungan darah.

Melalui tulisan ini, saya ingin merawat ingatan, bukan hanya tentang sosoknya yang bersahaja, tetapi juga tentang darah dan nasab luhur yang mengalir dalam tubuhnya, sebuah warisan yang ia jaga dengan keteguhan prinsip hingga napas terakhirnya.

Tautan Darah Dua Silsilah Luhur

Puang Tambasa tidak lahir dari ruang kosong. Garis keturunannya adalah jalinan erat para penjaga adat dan pemimpin di tanah Sulawesi.

Jalur Ibu: Arung Matowa Wajo ke-32

Dari rahim ibunya, nasab beliau menyambung lurus hingga ke puncak pimpinan kekerajaan Wajo:

  • La Maddanaca (Arung Matowa Wajo ke-32) yang memperisterikan Petta Kambara

  • Menurunkan Latokko Petta Penrang

  • Menurunkan La Mappanganro Arung Penrang

  • Menurunkan Lasappaile Petta Pabate Penrang

  • Menurunkan Latekke Arung Mabbicarae Penrang (Kepala Kampung Cellue)

  • Menurunkan I Kala

  • Lahirlah A. Tambasa Dg Pasore

Jalur Bapak: Trah Sulewatang Laree, Pammana

Sementara dari garis sang ayah, beliau adalah cicit langsung dari Abdurahman Sulewatang Laree, penguasa di wilayah Pammana:

  • Abdurahman Sulawatan Lare

  • Menurunkan Lasiida Daeng Situju

  • Menurunkan La Pananrangi A. Andeng Dg Mangati

  • Lahirlah A. Tambasa Dg Pasore

(Catatan mendalam mengenai jalur emas Sulewatang Laree hingga bermuara pada Raja Bone, La Patau, akan saya ulas secara khusus di akhir tulisan ini).

Keteguhan Di Tengah Badai Masa Kecil

Puang Tambasa adalah anak zaman yang ditempa oleh getirnya sejarah. Hidupnya mencerminkan garis takdir yang mirip dengan saya: sejak masih balita, beliau sudah ditinggal wafat oleh ibunya. Ujian belum selesai, sang ayah kemudian diasingkan oleh penjajah Belanda karena sebuah peristiwa pertumpahan darah (membunuh seseorang demi kehormatan).

Sejak belasan tahun, beliau tumbuh di bawah asuhan pamannya, Puang H. Sau Andi Wero (saudara kandung mamanya, yang juga ayah dari Pung Buba, Pung Wale, dan Pung Sahelaton). Begitu pula dengan keempat saudara kandungnya yang lain—Puang Wawo, Puang Kuma, Puang Madda, dan Puang Intan—semuanya tersebar diasuh oleh keluarga garis ibu. Dari kelima bersaudara tersebut, takdir hanya mengizinkan saya bertemu dengan Puang Kuma dan Puang Intan. Sementara almarhum Puang Wawo, sang Pallontara yang paling menguasai silsilah keluarga kami, telah berpulang lebih dulu setelah menunaikan tugas terakhirnya sebagai utusan keluarga besar ayah saat melamar ibu saya.

Akibat pergolakan masa lalu, Puang Tambasa nyaris tidak pernah mencicipi bangku sekolah formal. Beliau berkisah, dulu sempat ingin sekolah, namun panggilan sang paman menghentikan langkahnya. Beliau putus sekolah dan buta huruf.

Namun, apakah keterbatasan aksara mengubur kecerdasannya? Sama sekali tidak.

Puang Tambasa dianugerahi ingatan yang tajam. Meski tak bisa membaca teks, beliau hafal di luar kepala surah-surah Al-Qur'an seperti Al-A’la, Al-Ghasyiyah, dan surah-surah pendek lainnya.

Keterbatasan itu justru melahirkan tekad baja agar keturunannya tidak mengalami nasib yang sama. Beliau sangat peduli pada pendidikan saya. Beliaulah yang menggandeng tangan saya saat pertama kali mendaftar mengaji dan belajar barazanji. Kalimatnya yang paling saya ingat adalah:

"Saya hanya akan berhenti membiayaimu kalau kamu sendiri yang sudah capai sekolah."

Bukan hanya saya, anak semata wayangnya pun dikawal ketat pendidikannya hingga ke Kota Makassar. Konon, beliau baru mau melangkah pulang dari Makassar menuju Kemaroangin setelah mendapat kepastian hitam di atas putih bahwa anaknya telah resmi diterima di Sospol Universitas Hasanuddin (UNHAS).

Sang Pekerja Keras dan Benteng Perlindungan

Puang Tambasa adalah personifikasi dari keuletan orang Bugis. Beliau adalah petani yang tangguh dan pekerja keras. Semua tanah sawah miliknya dikelola dengan manajemen yang rapi; tidak ada sejengkal tanah pun yang dibiarkan menganggur atau telantar. Beliau merangkul warga sekitar untuk mempekerjakan mereka dengan adil. Keberhasilan ini terbukti setelah beliau tiada; sawah legendaris bernama "Sampi-Sampie" itu begitu luas dan rumit, hingga kini tak ada satu orang pun yang mampu menggarap seluruh areanya sendirian seperti yang dilakukan Puang dulu.

Di balik tangan besinya mengelola tanah, beliau memiliki hati yang teramat lembut kepada saya. Sejak kecil hingga akhir hayatnya, tidak pernah sekalipun tangan beliau mendarat di tubuh saya, bahkan sekadar cubitan kecil pun tidak pernah. Beliau adalah suaka. Jika ayah saya marah dan bersiap menghukum saya, tempat pelarian pertama saya adalah berlindung di balik punggung Puang Tambasa. Di sana, saya selalu merasa aman.

"Adat Teguh, Prinsip Tak Goyah" : Kisah Sompa Tanah

Beliau adalah lelaki yang hidup dengan prinsip Siri’ dan martabat yang teguh. Jika beliau sudah berkata "Tidak", maka tidak akan ada kata "Iya" di belakang hari. Hal ini paling tampak saat berbicara tentang masa depan keturunannya. Jauh-jauh hari, beliau sudah memberi peringatan dini kepada saya:

"Jika Baso mau menikah dengan pilihanmu sendiri, silahkan urus dirimu sendiri."

Bagi beliau, memahami nasab (garis keturunan) bukanlah kesombongan, melainkan cara memilih keluarga dan menjaga keluhuran budi pekerti yang mengalir dalam darah.

Prinsip kokoh ini benar-benar diuji saat saya memantapkan hati untuk meminang umminya Althaf. Setelah diselidiki dengan saksama, beliau sebenarnya sudah merestui pilihan saya. Namun, sebuah batu sandungan besar muncul dari ranah adat: perihal "Sompa Tanah" (mahar berupa tanah).

Negosiasi ini berlangsung alot berbulan-bulan, menguras energi emosional saya dan paman saya, Puang Andi Munawar Petta Senggeng di Bone, yang harus bolak-balik Bone–Pammana untuk menjembatani komunikasi. Kakek saya dengan tegas menolak, “Tidak ada pendahulu saya yang menggunakan mahar Sompa Tanah.” Ini adalah benturan adat antara tradisi Pammana/Penrang dengan tradisi Bone yang mewajibkan perempuan bangsawan memiliki Sompa Tanah. Pihak calon mertua bahkan sempat berpendapat, jika memang tidak ada Sompa Tanah, maka pesta pernikahan tidak usah digelar di Bone, cukup di Makassar saja.

Titik terang akhirnya datang dari calon mertua perempuan saya yang kebetulan orang Soppeng. Beliau memberikan penjelasan yang sangat bijak: bahwa tanah yang diminta itu sebenarnya bukan substansi SOMPA (mahar utama), melainkan sebagai "Pallapi Sompa" (penyelaras/pelapis adat).

Begitu mendengar penjelasan tersebut, barulah Puang Tambasa luluh dan setuju. Di sinilah saya melihat kedalaman prinsip beliau. Beliau bukan tidak setuju memberikan tanah—karena terbukti setelah menikah, beliau justru menghadiahi kami sebidang tanah yang dikenal sebagai Pattampa—tetapi beliau menolak keras penyebutan istilah "Tanah sebagai Sompa" yang dianggapnya tidak sesuai dengan garis adat leluhurnya. Beliau menjaga makna, bukan sekadar materi.

Doa di Batas Kota dan Keberangkatan yang Sempurna

Hubungan batin saya dengan Puang Tambasa terajut begitu kuat melalui untaian doa. Kejadian itu bermula saat saya pulang kampung memanfaatkan libur semesteran kuliah di UNHAS. Ketika waktu libur usai dan saya harus kembali ke Makassar, Puang tiba-tiba jatuh sakit parah. Kondisinya begitu mengkhawatirkan hingga keluarga besar melarang saya berangkat dan meminta saya tetap tinggal.

Namun, entah mengapa, ada keyakinan kuat di dalam hati saya bahwa kakek saya adalah orang yang tangguh dan umurnya masih panjang. Saya nekat berangkat. Sepanjang perjalanan di atas sasis mobil, air mata saya menetes, mengalir bersama doa yang saya bisikkan langsung ke langit:

"Ya Allah, jangan matikan kakek saya kecuali di depan mata saya sendiri."

Tuhan Maha Mendengar. Doa di batas kota itu disimpan-Nya dengan rapi.

Empat tahun berlalu sejak sakit parah itu. Pada awal April 2007, saya baru saja menyelesaikan Diklat PLN di Mawang. Sebelum berangkat menjalankan tugas ke Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, saya dan istri (saat itu kami belum dikaruniai Althaf) menyempatkan diri pulang ke Maroangin untuk bersilaturahmi dan berpamitan kepada keluarga.

Setibanya di Maroangin, entah mengapa tiba-tiba Puang Tambasa mengeluh sakit perut. Malam harinya, beliau memanggil saya mendekat. Dengan suara lirih beliau bertanya:

"Baso, adaji uangmu nak?" "Adaji, Puang," jawab saya menenangkan hatinya.

Keesokan harinya, kondisi beliau menurun drastis hingga berada dalam fase sakaratul maut. Di saat-saat kritis itulah, saya mendampinginya secara langsung. Saya bimbing telinganya, saya talkinkan lisannya dengan kalimat tauhid: Lailaha Illallah...

Di depan mata saya sendiri, Puang Tambasa menghembuskan napas terakhirnya dengan begitu tenang. Doa yang saya panjatkan empat tahun lalu di atas mobil kuliah terjawab tuntas. Beliau berpulang pada hari Sabtu, 7 April 2007, pukul 08.47 WITA.

Saat beliau pergi, di tengah rasa kehilangan yang mendalam, saya kembali berdoa, "Ya Allah, karuniakanlah kami penggantinya." Kerinduan atas sosoknya membuat kami kemudian menyematkan nama "Bassam" di bagian belakang nama anak kami—sebuah nama yang senada dengan panggilan kesayangan mertua saya kepada beliau: Puang Bassa'.

Lampiran Sejarah: Nasab Emas Menuju Raja Bone (La Patau)

Sebagai penutup, sekaligus menepati janji di awal tulisan, berikut adalah alur silsilah jalur bapak (Pammana) yang menyambung langsung hingga ke La Patau Matanna Tikka, salah satu penguasa terbesar di Tanah Bugis:

La Patau Matanna Tikka (Raja Bone) x We Ummung Datu Larompong
  │
  └──► We Patimana Ware (Arung Timurung / Datu Larompong) x La Rumanga Daeng Soreang (Opu Janggo Patunru Luwu)
         │
         └──► We Amirah Opu Pawellai Sabbe x Lakambau Batalae (Opu Lamunre Maddika Bua)
                │
                └──► La Settiaraja La Cella Opu Maddikabua x I Dallong Opu Daeng Tamami
                       │
                       └──► I Sabbe Opu Daeng Ripoji x La Paso Daeng Mallimpo (Wijan'na Datu Cinnong)
                              │
                              └──► I Sitti Tahira Petta Indo Karame x Kadhi Pammana Ahmad (Wijan'na Arungnge Labarasiang)
                                     │
                                     └──► I Tenri Sampeang x La Kattena Daeng Marowa (Arung Ujung Kalakkang)
                                            │
                                            └──► Abd. Rahman Daeng Pawekkeng (Sulewatang Lare' Pammana) x I Bonga Opu Pabbalu
                                                   │
                                                   └──► Lasidda Daeng Situju
                                                          │
                                                          └──► Lapananrangi Daeng Mangati
                                                                 │
                                                                 └──► La Tambasa Daeng Pasore x I Sangka Daeng Mawaji*
                                                                        │
                                                                        └──► H. A. Mattalata (Ayah Saya)
                                                                               │
                                                                               └──► La makkaraka

Sabtu, 03 Maret 2018

MASA KECIL DI PAMMANA


Akar Silsilah di Bumi Pammana: Takdir Perjodohan, Wasiat Terakhir, dan Ketegaran Masa Kecil

Setiap orang memiliki awal cerita yang membentuk garis hidupnya, dan kisah saya bermula di Sengkang pada tahun 1981. Saya lahir sebagai anak bungsu dari pasangan Andi Mattalatta Tambasa dan ibu tercinta, putri dari Andi Mallawi. Namun, takdir memiliki jalannya sendiri. Baru setahun saya mencicipi hangatnya dekapan seorang ibu, beliau harus berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa akibat penyakit gagal ginjal yang dideritanya. Kehilangan yang teramat dini ini menyisakan saya dan kakak sulung saya, Andi Rosmianti. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, almarhumah ibu rupanya telah menitipkan sebuah wasiat yang begitu menyentuh hati mengenai masa depan kami berdua. Menurut cerita dari nenek, Pung Hj. Mintang Paleppang, almarhumah berpesan agar pengasuhan kami dibagi demi keadilan bagi kedua belah pihak keluarga: anak laki-laki diserahkan kepada keluarga pihak bapak, sementara anak perempuan diasuh oleh keluarga pihak ibu.


Tumbuh dalam Dekapan Kehangatan Maroangin

Memenuhi amanah wasiat tersebut, sejak usia satu tahun, langkah kaki kecil saya dibawa ke Maroangin, Pammana, Kabupaten Wajo. Di sanalah saya dididik, dibesarkan, dan dilimpahi kasih sayang oleh nenek dari garis bapak, Puang Sangka. Di bawah asuhannya di Maroangin, saya tumbuh menjadi anak laki-masing yang belajar tentang arti ketegaran dan nilai-nilai kehidupan pedesaan yang kental dengan kekerabatan. Sementara itu, kakak sulung saya, Andi Rosmianti, dibesarkan di pusat kota Sengkang oleh nenek dari pihak ibu, Pung Hj. Mintang Paleppang. Meskipun raga kami terpisah jarak antara Maroangin dan Sengkang, jalinan batin sebagai saudara kandung tidak pernah memudar, karena kami tahu ada cinta yang besar dari para nenek yang luar biasa di balik pengasuhan kami.


Romantika Sejarah Orang Tua: Sebuah Rahasia Jodoh dan Takdir Singkat

Jika memutar kembali jarum jam ke masa sebelum saya lahir, kisah pernikahan kedua orang tua saya adalah potret klasik indahnya sebuah perjodohan tanpa melalui proses pacaran atau perkenalan sebelumnya. Menurut versi kakek saya, Pung Tambasa, garis jodoh itu bermula dari peran sang ipar, Pung Tunru (suami dari saudarinya, Pung Kuma). Pung Tunru meminta Pung Tambasa untuk melamar seorang anak gadis dari seorang Hakim terpandang di Sengkang. Setelah serangkaian prosesi adat Bugis yang sakral mulai dari mammanu-manu (mencari informasi) hingga mappettu ada (memutuskan kesepakatan tertulis), ikatan suci itu akhirnya diresmikan.

Pesta pernikahan yang agung pun digelar pada hari Ahad, 6 Februari 1977 Masehi atau bertepatan dengan 16 Safar 1397 Hijriah. Sayangnya, badai ujian datang begitu cepat. Bahtera rumah tangga yang baru seumur jagung itu hanya bertahan kurang lebih 3 tahun. Sang ibu lebih dahulu dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Hidup, meninggalkan cerita pernikahan yang singkat namun abadi dalam sanubari, serta mewariskan dua buah hati yang akan terus melanjutkan estafet perjuangan hidup ini.

Serpihan Memori Maroangin: Perjuangan Hidup, Tabungan Masa Kecil, dan Ikrar di Bawah Gerimis

Kehilangan pelukan ibu di usia satu tahun menyisakan ruang hampa yang begitu nyata dalam fase awal kehidupan saya. Tanpa asupan ASI yang sempurna, tubuh kecil saya tumbuh menjadi anak yang selalu sakit-sakitan. Setiap kali demam menyerang, suhu tubuh saya melonjak drastis hingga mata berputar ke atas—kondisi yang dalam istilah Bugis sangat ditakuti dan dikenal dengan sebutan “sulla matanna”. Di era itu, saya mungkin sudah dikategorikan sebagai bayi yang mengalami kurang gizi dengan harapan hidup yang sangat tipis. Konon, setiap kali diberi susu formula, perut saya selalu menolak dan berujung mencret, hingga akhirnya sepanjang masa kecil saya hanya bisa bertahan dengan suguhan teh manis hangat. Namun, mukjizat itu hadir lewat ketekunan, ketelatenan, dan cinta tanpa batas dari nenek saya, Puang Sangka. Tangan dingin beliaulah yang dengan sabar menuntun saya melewati masa-masa kritis antara hidup dan mati tersebut.

Sejak saat itu, saya resmi menjalani takdir sebagai anak piatu. Sosok fisik ibu sama sekali tidak terekam di benak saya, dan satu-satunya jembatan ingatan itu hanyalah selembar foto usang yang saya simpan dengan sangat rapi hingga hari ini.

“Ibu kamu cantik, ibu kamu sangat baik.”

Ungkapan senada selalu meluncur dari bibir setiap orang yang saya temui ketika mereka tahu siapa ibu saya. Bahkan kakek saya, Puang Tambasa, begitu terpesona oleh keluhuran budi pekerti almarhumah. Di kemudian hari, ketika saya mulai beranjak dewasa dan mencari pendamping hidup, kakek pernah berpesan dengan nada sangsi bahwa akan sangat sulit bagi saya untuk menemukan sosok istri yang bisa menyamai kemuliaan hati mama saya.


Dunia Kecil di Maroangin: Bahasa Ibu dan Riuhnya Permainan Kampung

Seluruh masa kecil hingga tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya habiskan di Maroangin. Dunia saya begitu ciut saat itu; saya tumbuh bersama kakek, nenek, dan bapak dengan bahasa Bugis sebagai alat komunikasi sehari-hari. Begitu kentalnya lingkungan Bugis di Maroangin membuat saya menjadi anak yang sangat pemalu dan penakut untuk keluar daerah. Saya sangat takut jika diajak ke rumah Om di Bone, apalagi kalau harus ke Makassar. Alasan utamanya sederhana: saya belum berani dan belum lancar berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Perjalanan terjauh saya hanyalah sesekali ikut bapak menjenguk Pung Mintang dan kakak sulung saya di Sengkang, atau saat menyambut kedatangan paman saya, Puang Muhtar, bersama keluarganya dari Makassar. Itu pun kami tidak pernah bermalam. Rasanya, mata ini tidak akan bisa terpejam jika malam hari tidak merebah di atas ranjang rumah sendiri di Maroangin.

Meskipun pemalu terhadap dunia luar, Maroangin adalah surga petualangan bagi masa kecil saya. Rutinitas harian saya tertata dengan padat namun menyenangkan. Sepulang dari Sekolah Dasar dan istirahat siang, saya langsung melanjutkan sekolah sore di Madrasah As’adiyah No. 58 Maroangin. Begitu azan ashar berkumandang dan kami selesai menunaikan salat berjamaah di Masjid Zainal Abidin, saya langsung berlari menuju Lapangan Sepak Bola Andi Pallawarukka. Di sanalah energi masa muda kami tumpah. Kami bermain apa saja tanpa lelah: mulai dari sepak bola, sepak takraw, bola voli, hingga permainan tradisional yang berganti mengikuti musimnya. Kami bermain gasing, cukke, ca’-ca’, kelereng, main tongkat, tempurung, lompat tali, petak umpet, hingga duduk melingkar bermain domino dan kartu. Riuhnya tawa kami baru akan mereda dan bubar sesaat sebelum azan magrib dikumandangkan dari Masjid Babuttaqwa.

Setelah membersihkan diri, malam hari kami habiskan di masjid untuk salat magrib dan isya berjamaah. Di antara jeda waktu dua waktu salat tersebut, kami duduk melingkar mengikuti kegiatan belajar mengaji yang dibina langsung oleh Imam Masjid, KH. Mustafa Ahmad. Memori indahnya masa itu selalu melekat bersama nama teman-teman sepermainan saya: Andi Adi dan Andi Arman (keduanya sepupu tiga kali dari bapak), Kamaruddin, Asrisan, Anca, Sunardi, Hamka, Asri, Rustamin, Sabran, Ambo Angka, dan Hamzah.


Petani Cilik yang Mandiri dan Ikrar di Atas Sepeda Mustang

Ketika hari libur atau Sabtu dan Ahad tiba, kakek saya, Puang Tambasa, sering mengajak saya ke sawah. Kami berjalan kaki menyusuri pematang sawah milik orang lain, menuju lokasi yang paling sering kami datangi di daerah Sampi-sampie Lagosi. Di sana, saya tidak hanya duduk diam. Saya belajar ikut membajak sawah dengan bantuan kerbau. Jika para penjaga kerbau kakek—seperti Palaloi, Ladulla, Ambo Tuo, Sukri, atau Tahang—sedang mendapatkan tugas lain, sayalah yang turun tangan menjadi palaloi (penggembala) darurat menjaga kerbau-kerbau tersebut.

Momen yang paling saya tunggu adalah saat panen kacang tanah. Saya ikut membaur bersama para buruh tani lainnya untuk memanen. Hebatnya, kakek adalah sosok yang sangat adil; seluruh hasil jerih payah saya dari memanen kacang tidak pernah diambilnya, melainkan diberikan sepenuhnya untuk saya. Berkat kebijakan kakek, sejak kecil saya sudah memiliki tabungan sendiri. Sekali panen, saya bisa mengantongi hasil hingga dua karung kacang tanah. Setelah dijual, uangnya saya tabung dan gunakan untuk membeli barang-barang impian anak-anak masa itu: video game, alat-alat musik, hingga sebuah sepeda. Bahkan, ada kebanggaan tersendiri ketika terkadang saya bisa meminjamkan uang tabungan saya kepada bapak, yang saat itu memang belum memiliki pekerjaan tetap karena setiap hari hanya pulang-pergi Sengkang tanpa hasil pasti. Menjadi anak "semata wayang" yang tinggal bersama kakek membuat saya sangat dimanja dalam hal fasilitas; boleh dikata, kakek-lah yang membiayai seluruh hidup saya sejak kecil.

Rutinitas membantu kakek di sawah perlahan mulai berkurang ketika saya mulai menginjak bangku SMP Kampiri. Namun, tugas saya berganti menjadi pengantar bekal makanan untuk kakek saat musim hujan tiba, dengan mengendarai sepeda Mustang kesayangan. Ada satu momen yang menjadi titik balik dan membekas seumur hidup saya. Suatu sore yang dingin diiringi hujan gerimis, tubuh saya terasa teramat lelah. Bayangkan saja, dari Senin sampai Sabtu saya sudah rutin mengayuh sepeda Mustang itu pulang-pergi menempuh jarak 4 km antara Maroangin dan Kampiri untuk sekolah. Sore itu, saya masih harus menguras tenaga menembus rintik hujan demi mengantarkan makanan ke sawah kakek. Di tengah jalan, sambil terus mengayuh dengan napas terengah-engah, saya menatap langit dan berikrar di dalam hati dengan sangat kuat:

"Saya harus tekun dan sukses belajar, agar nasib saya kelak tidak seperti kakek yang harus bersusah payah mencari sesuap nasi dengan memeras keringat di sawah di bawah terik dan hujan."


Khitanan sang “Dattulu” dan Langkah Pertama Keluar dari Zona Nyaman

Saat liburan kenaikan kelas SMP, sebuah fase pendewasaan fisik harus saya lewati. Saya dikhitan oleh Mantri Silaja, seorang mantri senior yang sangat dihormati di Maroangin. Kata Pak Mantri, saya dikhitan di usia yang terbilang sangat terlambat. Hal itu terjadi karena postur tubuh saya yang sangat kecil dan pendek untuk anak seusia saya, sehingga orang-orang masih menganggap saya sebagai anak kecil. Karena tubuh mungil itu pula, saya kerap mendapatkan berbagai nama panggilan akrab di kampung. Ada yang memanggil saya “Dattulu”, ada yang menjuluki “Cincong” karena wajah saya yang dianggap mirip orang Jepang, hingga panggilan “Banggulu” karena kepala saya yang terlihat lebih besar dibanding ukuran tubuh yang kecil.

Masa pasca-disunat menjadi tonggak sejarah baru bagi saya. Untuk menyembuhkan luka dan mengisi waktu liburan, saya memutuskan untuk pergi berlibur ke Kabupaten Bone, tepatnya di kediaman om saya dari pihak mama, Puang Muna. Di sana, saya berkumpul dan bermain bersama sepupu-sepupu saya, Andi Cuncun dan Andi Lutfi. Perjalanan ke Bone ini menjadi momentum pertama kalinya dalam hidup saya berani melangkahkan kaki keluar dan meninggalkan tanah kelahiran Maroangin.

Lebih dari sekadar liburan, lingkungan di rumah Pung Muna memberikan tamparan spiritual yang luar biasa bagi saya. Menyaksikan sepupu-sepupu saya dengan kesadaran penuh dan rutin menegakkan salat lima waktu tepat pada waktunya, hati saya tergerak. Terinspirasi dari kebiasaan baik mereka, di sinilah titik awal saya mulai belajar disiplin dan berkomitmen penuh untuk menjaga salat lima waktu dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah langkah awal yang kecil di tanah rantau, yang kelak membentuk fondasi karakter dan prinsip hidup saya di masa-masa yang akan datang.

Orang Tua
Ayah
Ayah saya Merupakan Anak tunggal dari Pasangan Andi Tambasa Dg Pasore dengan Andi Sangka Dg Mawaji lahir di Lare’e 31 Desember 1953 itu yang terdaftar, walaupun lahir kisaran 1950 menurut penuturan sepupunya pung tahira yang kelahiran 51 dengan nasab seperti berikut:
·       Silisilah dari Ayah, 
    Andi Mattalatta Anak dari  Andi Tambasa,  bin  La Paranrengi Dg Mangati  bin   Lasidda Dg Situju Bin Abdu Rahman Dg Pawekkang Sulewatang Lare,  Bin  La Kattena  dg marowa arung Ujung Kalakkang Bin  Lasiruwa dg situju arung ujung  kalakkang,  Bin Lamuhammad Arung  bocco dan silisilah ini juga dari pung sangka, karena kakek saya  dengan nenek saya  Sepupu dua kali ternyata, dimana bapaknya Nenek saya Andi Pasampoi yang biasa di panggil puang Nampo saudara sepupu dengan puang Sidda ayah dari kakek saya puang tambasa, 
 
         A. Mattalatta Anak dari  Andi Sangka Dg Mawaji, bin  A.Pasampoi puang Nampo, Bin I Mappamadeng binti  Abdu Rahman Sulewatang Laree Bin I Tenri Sampeang Binti Sitti tahira Indo Karame Tasa Binti  I sabbe Opu Dg Rifuji Binti La Cella  settiaraja Maddikabuwa Matinroe Ripadang Kaluwa Bin We Amirah  Opu Pawellai Sabe Binti  I Patimana Ware Arung Timurung Matinro Ribola Ukirinna Larompong  Binti Sultan Alimuddin Muh Idris Lapatau Matinroe Ri Naga Uleng Mangkau 1696 menggantikan Latenri Tatta  Dan Datu Soppeng 1696 Menggantikan Latenri Senge.
    Andi Mattalatta Bin   Andi Tambasa,  bin  Paranrengi Dg mangati  bin   Lasidda Bin Abdu Rahman Dg Pawekkeng Sulewatang Lare,  Bin  La Kattena  dg marowa arung ujung Kalakkang Bin  Lasiruwa dg situju arung ujung  kalakkang Bin Petta Sekke( petta Singke) Bin Toallomo Cakkuridie Wajo 
   Sumber : Silsilah yang ditulis Puang A. Mappasere ( merupakan cicit abdurahman sulewatang Lare  dan masih tersimpan di Penulis
·     kalau  dari La Maddanaca Arung Waetuo Arung Matowa Wajo yang 32, dan petta PENRANG  yakni Andi Mattalatta Anak dari Andi  Tambasa  Anak dari  A.kala   , Anak dari  A.Mallawa Dg pateke Arung Mabbicarae Penrang Ka Dusun Cellue,Anak Dari La Sappile Petta Pabate Penrang,  Anak dari  La Mappanganro Arung penrang,  Anak dari  Latokko Petta penrang, anak dari La Maddanaca Arung Matoa wajo yang 32 dan  Arung Waetuwo 1754-1755
Sumber : Tulisan yang dikirimkan oleh sepupu satu kali Pung Tambasa dari POMALA pung Mappasala
Ibu
ibu saya  Andi Nanna Anak ketiga dari 4 bersaudara yang pasangan Pung Mallawi dan Pung Hj Mintang Paleppang , Lahir di sengkang  tahun 1951, mempunyai saudara Alm Hj, Andi Sederhana, Alm H.Andi Mukhtar Mallawi dan Andi Munawwar Mallawi. Bapaknya seorang hakiim berdomisili dikota sengkang jl bali no 11, yang sekarang ini sudah berubah menjadi Masjid,
Ibu saya di makamkan di pemakaman Labellang sengkang berdekatan dengan Ayahnya Pung Mallawi  yang lebih duluan meninggal dunia
·         Silsilah A,Mallawi,  ibu saya Anak dari Andi Mallawi Anak dari Petta Pance Matoa Bakke (sauadara Arung bettempola wajo ke 27 Datu Makkaraka) Anak dari La Mallaleanng Datu Mario Riawa bergelar Petta Yattangnge  anak dari  La Mappatola Datu Bakke MatinroE ri LalangE bin  Larumpang Mega Datu Mario Riwawo, Ar Tanete, Datu Lamuru Bin La Mappeware Datu Lamuru Bin Mappasunra Datu Lamuru Matinroe Rimangile Bin Latenri Sanga Petta Janggo Datu/Dulung Lamuru Vi Matinroe Ri Tengngana Lamuru Bin Lacella Ar.Ujumpulu Mstinroe Ritengngana Soppeng Datu Lamuru 5 Bin La Mallewai Adt Sidenreng 5 Matinroe Ri Tanah Maridie Bin Latenri Tippe Add Sidenreng Matinroe Ri Tamantinga ( 1681 – 1700 ) Bin La Taranatie Dg Mabela Mabbola Batue Datu Pammana Bin La Mappakella Ri Passariedatu Pammana Bin La Mappapoli To Pasajoi Datu Pammana  1702 M Pertama Masuk Islam Sultan Abd Rasyid Bin La Tenri Pata To Kellingnge Datu Pammana Bin We Tenri Lallo Ar Liu /Datu Pammana ( Kemanakan Datu Sangaji Pammana Datu Cina
L dari Luwu

Y Mallawi Bin La Pantje Bin La Malleleang Bin La Mappatola Datu Bakke Bin La Rumpang Megga Datu Lamuru Bin  La Mappaware Datu Lamuru Bin  We Panangareng Datu Mario Riwawo Binti Pasangan dari La Mallarangeng Bin Lapage To Samallangi Datu Lompulle dengan Wetenri Leleang Pajung Luwu Matinroe Ri Soreang.

YM La Malleleang Bin La Mappatola Datu Bakke Bin We Pancaitana Ar Akkamparen Binti La Mappalonro Datu Soppeng Bin La Mappajanci Datu Soppeng Bin Pasangan dari La Mappasiling Datu Pattojo dengan WeTenri Leleang Pajung Luwu Matinroe Ri Soreang.

La Mallaleang Bin La Mappatola Datu Bakke Bin La Rumpang Megga Datu Lamuru Bin We Asia Datu Lompulle Bin La Tenri Sessu Oppu Cenning Datu Tanete Arung Pancana Bin Pasangan dari La Mallarangeng  Datu Lompulle, Datu Marioriwawo dengan We Tenri Leleang Pajung Luwu Matinroe Ri Soreang.

La Mallaleang Bin We Pada  Datu Marioriawa Attang salo Binti Latelleng Datu Mario riawa Attang Salo Bin La Makkaraka Langi Baso Tancung Datu Marioriawa Attang Salo Bin Latenri Sessu Oppu Cenning Datu Tanete Arung Pancana Bin Pasangan dari La Mallarangeng Bin Lapage To Samallangi Datu Lompulle, Datu Marioriwawo dengan Wetenri Leleang Pajung Luwu Matinroe Ri Soreang.

Nasab Beliau Sampai Sultan Hasanuddin 

A.Mallawi bin La Pantje bin La Malleleang Bin La Mappatola Datu Bakke Bin La Rumpang Megga Datu Lamuru Bin  La Mappaware Datu Lamuru Bin La Mappasunra Datu Lamuru  Bin I Pawilloi Datu Bolli Binti La Masselomo Petta Ponggawae Bin La Mappareppa sappewali Raja Gowa ke 20, Arung Pone Ke 19 dan Datu Soppeng Bin pasangan dari sultan Alimuddin Muh Idris Lapatau mangkau bone 16, datu soppeng ke 18  matinroE Ri Nagauleng dengan  I Mariama Kr Pattukangan Binti Mappadulung Bin Mallombasi Sultan Hasanuddin

Nasab Beliau Sampai syekh Yusuf 

A.Mallawi bin La Pantje bin La Malleleang Bin La Mappatola Datu Bakke Bin LaRumpang Megga Datu Lamuru Bin  La Mappaware Datu Lamuru Bin La Mappasunra Datu Lamuru  Bin I Pawilloi Datu Boli Binti La Masselomo Petta Ponggawae Bin I Gumittiri / Sitti Labiba Binti Pasangan syekh Yusuf Puange salamata  dengan Syarifah Fatimah / Kare Kontu Binti Sultan Ageng Tirtayasa ( Sultan Banten)

Silsilah   Dari Liu

    Ibu Saya Binti A.Mallawi Bin Andi Hajju Binti A.Sagala Bin Mappangewa Petta Manyoroe Ri Liu Bin Samallangi Datu Cilellang  Bin Datu Sao Bin La Sappenne Petta Labattowa Arung Liu Cakkuridi Wajo( saudara La Tenri Werrung Arung Matoa Wajo)
      Silsilah dari Sengkang ( Belawa)  Anak dari Pung Hj Jintahera / Pung Hj Mintang anak dari Mayoro Brigade Paleppang Anak dari Kapitang Walinga Anak Iyaba Anak dari I Ambo buba bin I pagattang ( saudara Anakoda Latonro) binti puang Siame  anak dari Puang Launrung wijanna arung Wetta, dengan Puang Laiccu Baso Madeetia 
 
se
 untuk melihat lebih dekat Manyoro Paleppang  bisa link http://wasobo.blogspot.com/2016/12/manyoro-brigadir-paleppang-alias-pung.html

Sumber : Silsiilah Kapitang Tambasa dan Kapitang Walinga Johor Malaysia

Kesetiaan Bapak dan Jejak Langkah Akademik: Dari Lompatan Madrasah hingga Almamater Kampiri

Di balik perjalanan hidup saya yang tumbuh tanpa ingatan tentang sosok ibu, ada cerita ketegaran lain dari bapak saya. Sepeninggal almarhumah ibu, bapak—atau yang akrab saya sapa Ettaku—memilih jalan hidup yang sunyi dalam hal asmara. Beliau praktis tidak pernah menikah lagi, kecuali sebuah cerita singkat sewaktu saya masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Saat itu, Ettaku sempat membangun bahtera rumah tangga baru bersama Andi Simpursia, putri dari pasangan Petta Baso Jamaro dan Petta Bau Tenri. Namun, takdir rupanya belum berpihak pada kebersamaan mereka; pernikahan tersebut kandas di tengah jalan. Sejak perceraian itu hingga untaian kata ini saya tuliskan, Ettaku tetap memilih sendiri, mendedikasikan sisa hidupnya dalam kesetiaan yang tenang tanpa pernah berniat mencari pendamping lagi.


Awal Mula Pendidikan: Dua Tahun Ceria di TK Pertiwi

Gerbang dunia pendidikan pertama kali saya masuki di tanah kelahiran. Selama kurang lebih dua tahun, saya menghabiskan masa-masa bermain dan belajar di TK Pertiwi Maroangin, Kecamatan Pammana. Di sekolah masa kecil inilah dasar-dasar karakter saya mulai dibentuk dalam suasana yang penuh kasih sayang. Fase awal ini terasa begitu hangat berkat bimbingan lembut dari dua guru pendidik kami saat itu, Ibu Maryam dan Ibu Farida, yang dengan sabar mengenalkan kami pada huruf, angka, dan indahnya bersosialisasi.


SDN 247 Larompo: Cerita "Lulus" di Kelas Lima

Menginjak usia sekolah dasar, saya terdaftar sebagai murid di SDN 247 Larompo Maroangin, Pammana, menempuh pendidikan dari tahun 1987 hingga tahun 1993. Namun, sekolah ini menyisakan sebuah kisah yang unik: secara administratif di sekolah umum ini, saya hanya mengenyam pendidikan sampai di bangku kelas lima saja. Di sekolah dasar ini, saya melewati hari-hari bersama teman sekelas seperti Mardiana, Rusdi, Sunardi, Marhani, Nurcaya, Kamaruddin, Asrisan, Sudirman, dan Ambo Angka.

Kami tumbuh di bawah asuhan wali kelas yang berganti setiap tahunnya dengan penuh kedisiplinan: Ibu Marhan di kelas 1, Ibu Ros di kelas 2, Ibu Erni di kelas 3 dan 4, serta Ibu Nahar di kelas 5. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah (Alm.) Bapak Sholeh, kami juga dibimbing oleh guru-guru hebat lainnya seperti Ibu Patiha dan Pak Syarifuddin di pelajaran Agama, Pak Sudirman yang selalu semangat mengajar Olahraga, serta Ibu Ernia dan Pak Muhtaram. Lalu, mengapa saya hanya sampai kelas lima? Jawabannya ada pada dinamika sekolah sore saya.


MIA As’adiyah No. 58 Maroangin: Karomah Lompat Kelas sang Juara Rangking

Alasan saya menyudahi kelas lima SD lebih awal adalah karena lompatan prestasi yang terjadi di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 58 Maroangin. Ini adalah sekolah sore—atau biasa kami sebut Sekolah Arab—yang merupakan cabang resmi dari Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang. Di sinilah mental akademik saya benar-benar terasah. Saat pertama kali mendaftar, saya langsung ditempatkan di kelas 2 karena sekolah tersebut memang tidak membuka kelas 1 saat itu. Karena selalu berhasil meraih prestasi sebagai peraih rangking pertama secara berturut-turut, pihak sekolah memberikan kebijakan khusus yang luar biasa bagi saya: dari kelas 2 saya langsung dilompatkan ke kelas 4, dan dari kelas 4 dilompatkan lagi langsung ke kelas 6!

Berkat kebijakan akselerasi alami tersebut, saya hanya menghabiskan waktu 3 tahun lamanya di MIA 58 Maroangin. Di bawah bimbingan para pendidik yang ikhlas seperti Pak H. Mustafa Ahmad, Pak Hamka Kasim, dan sesekali Pak Syamsu Alam, saya diikutkan dalam Ujian Nasional tingkat madrasah dan alhamdulillah dinyatakan lulus. Lembar ijazah madrasah sore inilah yang kemudian menjadi "senjata utama" saya untuk melangkah ke jenjang Sekolah Menengah Pertama.


Menembus Batas Birokrasi: Berlabuh di SMP Negeri 1 Kampiri

Perjalanan menuju SMP tidaklah berjalan mulus begitu saja. Setelah tamat dari madrasah, saya mendapatkan informasi berharga dari seorang pegawai Departemen Agama Kabupaten Wajo bernama Bapak Rusdi—yang kebetulan bertetangga dekat dengan nenek saya, Pung Mintang, di Jalan Bali, Sengkang. Beliau meyakinkan bahwa ijazah madrasah yang saya miliki legal dan sah untuk digunakan melanjutkan sekolah ke SMP Negeri. Bermodal info itu, Ettaku dengan setia menemani saya mencoba mendaftar di SMP Negeri 2 Sengkang di Jalan Kelapa. Namun sayang, pihak sekolah saat itu masih kaku dan menolak, dengan alasan mereka hanya menerima lulusan Sekolah Dasar biasa.

Tidak patah arang, Ettaku kembali mengantar saya beralih ke SMP Negeri 1 Kampiri (1993–1996). Di sana, nasib baik mempertemukan kami dengan Wakasek Kesiswaan, Bapak Muhammad Amin. Lewat kebijakan beliau, saya resmi diterima dan menyandang status sebagai siswa baru.

Sebenarnya, jika dipikir-pikir, ada SMP Negeri 2 Pammana yang lokasinya tepat berada di belakang rumah saya, dekat dengan Lapangan Sepak Bola Andi Pallawarukka tempat saya bermain tiap sore. Namun, saat itu ada dua pertimbangan yang membuat kami urung memilihnya. Selain karena sekolah tersebut terhitung masih sangat baru, di dalam hati kecil saya terbersit kekhawatiran yang menggelitik: saya takut suatu saat akan dicari dan digerebek oleh guru-guru SD saya karena ketahuan "kabur" dan mendaftar SMP padahal belum menyelesaikan kelas 6 di SDN 247 Larompo. Tentu saja itu hanyalah ketakutan kekanak-kanakan saya waktu itu.

Di SMP Negeri 1 Kampiri, masa-masa remaja saya tumbuh dengan sangat indah di bawah didikan guru-guru yang berdedikasi tinggi. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Bapak Drs. Jamaluddin yang kemudian dilanjutkan oleh Bapak Suyuti, kami dibimbing oleh:

  • Sains, Matematika & Bahasa: Pak Muhammad Amin (Wakasek sekaligus guru Fisika), Pak Ambo Uma dan Pak Syafril (Biologi), Ibu Hasna (Fisika), Pak Suaeb dan Pak Nasir (Matematika), serta Ibu Norma dan Ibu kartini yang dengan sabar mengajar Bahasa Inggris dan Ibu Andi Fadillah bersama Pak Haeruddin di pelajaran Bahasa Indonesia.

  • Sosial, Agama & Seni: Ada Pak Misran (PPKN/PMP), Pak Mustain Latta (Agama), Pak Idris (Geografi), serta para pengajar seni yang membuat sekolah terasa berwarna seperti Pak Mappanyompa, Ibu Sundari, dan Ibu Andi Alang Pas yang mengajarkan Seni Tari. Tak ketinggalan Pak Karjono yang selalu bugar memimpin pelajaran Olahraga.

Puluhan tahun telah berlalu, namun ikatan emosional itu tidak pernah putus. Melalui grup WhatsApp Alumni SMP Kampiri 96, saya masih beruntung bisa menyambung silaturahmi dan bertukar kabar dengan teman-teman hebat masa remaja dulu, seperti Faisal Muslimin, Candra, Murniati Said, Firman Jaya, Muhammad Nur, Muasmar, Sahir, Maryam, Indo Anja, Indo Ugi, Anwar, Murni Said, Gusni, Herianti Sudud, Andi Asima, Aries, Wahyuddin Patila, Muliadi, Anton Susanto, Musni, Besse Najemiah, serta pasangan suami istri Rudianto Rosneng dan Ummul Khair. Di sinilah, di Kampiri, fondasi pengetahuan saya semakin diperkokoh sebelum akhirnya saya siap terbang lebih tinggi lagi.

            Setelah menyeleseaikan  Sekolah menengah Pertama  di SMP Negeri  Kampiri, saya melanjutkan sekolah di SMU Negeri 1 Sengkang, otomatis sejak saat itu, saya meninggalkan  Maroangin  , berpisah dengan keluarga di maroangin walaupun sabtu sehabis sekolah kembali lagi kemaroangin.