Rencana manusia adalah coretan di atas kertas, namun ketetapan Allah adalah takdir yang mutlak berjalan. Kisah perjalanan umrah full Ramadhan 1447 Hijriah kami bermula pada tanggal 17 Februari 2026. Sebanyak 21 jemaah dari berbagai daerah telah berkumpul di Bandara Soekarno-Hatta, bersiap mengangkasa menuju baitullah menggunakan maskapai IndiGo. Namun, ruang tunggu bandara mendadak menjadi ruang ujian kesabaran pertama kami. Kabar megejutkan datang sore itu: visa belum juga terbit. Alih-alih melangkah ke pintu pesawat, kami justru diarahkan untuk menginap di hotel transit kawasan Cengkareng, sebuah awal yang langsung membuyarkan rencana matang kami untuk menyambut malam-malam awal Ramadhan di Madinah Al-Munawwarah.
Di dalam kamar hotel transit, kepasrahan diuji hingga titik tertinggi. Hambatan administrasi ini memaksa manajemen keberangkatan memutar otak, hingga akhirnya diputuskan bahwa 21 jemaah harus diberangkatkan secara bertahap demi mengejar waktu yang terus berjalan. Sebagian besar dari kami bergerak secara swadaya, saling bahu-membahu mengatasi kendala yang muncul satu demi satu. Gelombang pertama akhirnya pecah saat Tim purbolinggo, Jayani, Yanti Budayasti, Risal, dan Zainal Muttaqien berhasil terbang lebih dulu, membuka jalan bagi rombongan yang masih tertahan di Jakarta dengan doa yang terus mengalir.
Menyusul rombongan pertama, gelombang kedua diberangkatkan pada pagi hari tanggal 21 Februari 2026. Di dalam manifest tersebut, rombongan diisi oleh Tuan Guru H. Amanah, Baiq Setiawati, Titik, dan Mustirah. Suasana haru dan lega mulai mengalir, meskipun kelompok kami masih harus terpisah-pisah. Setiap jemaah memegang teguh keyakinan bahwa setiap langkah, sekecil apa pun pergeserannya, adalah bagian dari skenario terbaik yang sudah digariskan oleh Sang Pemilik Ka'bah.
Saya sendiri akhirnya mendapat giliran berangkat pada tahap ketiga, menggunakan maskapai Qatar Airways pada tanggal 21 Februari 2026 pukul 18.20 WIB. Penerbangan malam itu terasa begitu panjang, membawa rombongan gabungan dari Makassar, Lombok, dan Bandung. Di dalam pesawat, saya bersama Sulaiman Husain, Anis Rahman, Ardis, Ermiwaty, Yusuf Hamzah, Juniaty, dan Sutriani Matta dari Makassar, berbaur bersama Ibu Suarti dari Lombok serta Bapak Jaeni beserta istri, Ibu Latifa, dari Bandung. Setelah sempat transit di Doha, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan Madinah pada 22 Februari pukul 03.20 dini hari. Sementara itu, tahap terakhir yang terdiri dari Bapak Nurdan, Damar, dan Ibu Haeriah menyusul di belakang kami.
Setibanya di Bandara Madinah, rasa lelah mendadak menguap berganti haru saat kami disambut hangat oleh Bapak Mutawwif Yusuf. Kami kemudian diarahkan menaiki bus menuju sebuah apartemen alternatif—sebuah perubahan rencana lagi, karena semula kami dijadwalkan menginap di Taiba Suite. Di apartemen ini, kami tinggal berenam dalam satu kamar. Keterbatasan ruang justru mencairkan sekat, melahirkan rasa persaudaraan yang begitu erat. Di sinilah rutinitas indah dimulai: menjaga shalat lima waktu berjamaah, berburu berkah buka puasa bersama di dalam Masjid Nabawi yang syahdu, hingga berjuang masuk ke Raudhah, taman surga yang selalu dirindukan.
Waktu-waktu di Madinah kami manfaatkan dengan maksimal untuk berziarah. Pada tanggal 24 Februari, kami mengunjungi Masjid Quba untuk menunaikan shalat dua rakaat yang pahalanya setara dengan umrah. Keesokan harinya, 25 Februari, tiba saatnya bagi kami untuk bergerak menuju Mekkah Al-Mukarramah menggunakan bus Muassasah. Kami berhenti sejenak di Bir Ali untuk mengambil miqat, berniat ihram dengan hati yang bergetar. Setibanya di kota suci Mekkah, kami langsung menuju Hotel Al Saha, tempat yang akan menjadi rumah kedua kami selama kurang lebih 40 hari ke depan. Di kamar 1201 lantai 12 itulah, segala cerita, tawa, dan doa-doa panjang kami bersemi. Pada tanggal 26 Februari saat subuh merekah, kami telah resmi menyelesaikan ibadah umrah pertama kami.
Rutinitas harian di Mekkah menjadi ritme hidup yang sangat dinamis dan penuh perjuangan fisik. Setiap kali hendak beribadah ke Masjidil Haram, kami harus menaiki bus hotel yang mengantar hingga ke dekat Terowongan Jarwal. Dari titik drop-off tersebut, perjuangan yang sesungguhnya dimulai: berjalan kaki sekitar 2 kilometer menelusuri lorong terowongan yang panjang, atau sesekali menumpang mobil golf jika beruntung. Panas dan lelahnya langkah kaki di dalam terowongan itu menjadi saksi bisu bagaimana kerinduan terhadap baitullah mengalahkan segala rasa payah di fisik kami.
Ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, suasana berubah menjadi jauh lebih khusyuk. Kami memfokuskan diri untuk beritikaf, memburu keutamaan malam Lailatul Qadar di pelataran dan dalam masjid. Kebersamaan di antara jemaah terasa begitu indah; saling berbagi makanan, menjaga tempat shalat, dan saling menyemangati. Di saat jemaah lain ada yang mampu melaksanakan umrah hingga dua atau tiga kali, saya memilih fokus membadalkan umrah untuk dua wanita terhebat dalam hidup saya: ibu kandung dan ibu mertua saya. Semoga Allah menerima sumbangsih ibadah yang tak seberapa ini.
Di sela-sela ibadah wajib, kegiatan ziarah luar ruangan tetap dilaksanakan. Pada tanggal 2 Maret, kami dibawa mengunjungi Padang Arafah yang luas dan menapaki sejarah di Gua Tsur. Beberapa hari setelahnya, tepatnya 4 Maret, sebagian besar jemaah melanjutkan ziarah ke kota sejuk Taif. Namun, karena satu dan lain hal, saya memilih untuk tidak ikut dan tetap tinggal di Mekkah demi menjaga ritme ibadah. Dinamika rombongan pun terus berputar, di mana gelombang pertama jemaah yang harus kembali ke tanah air adalah rombongan Pak Zainal pada tanggal 28 Februari 2026.
Namun, ketenangan ibadah kami sempat terusik oleh kabar geopolitik dunia. Tepat di akhir Februari, menyeruak informasi mengenai pecahnya ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat. Dampaknya langsung terasa di dunia penerbangan; banyak maskapai yang membatalkan penerbangan secara massal, terutama yang rutenya harus transit di Dubai, Doha, dan kota-kota Timur Tengah lainnya. Kondisi ini menjadi awal dari rumitnya perjuangan kami mencari tiket pulang ke Indonesia. Saya sendiri bahkan sampai tiga kali masuk ke dalam waiting list penerbangan untuk tanggal 18 Maret dan 21 Maret, namun semuanya berujung gagal karena kursi telah penuh seiring masuknya peak season penerbangan langsung ke tanah air.
Akhirnya, takdir perjalanan memaksa saya untuk berpisah jalan dengan rombongan lainnya. Pada tanggal 28 Maret, saya melangkah sendiri menuju Bandara Jeddah untuk pulang ke Indonesia menggunakan maskapai Saudi Airlines. Sementara itu, jemaah yang lain pulang melalui Madinah menggunakan Malaysia Airlines dengan rute menuju Kuala Lumpur dan dijadwalkan menginap transit di sana. Sebuah akhir perjalanan yang mandiri, menutup lembaran umrah penuh Ramadhan 1447 Hijriah yang sarat dengan ujian kesabaran, perubahan rencana, namun dipenuhi oleh berkah persaudaraan dan air mata kebahagiaan yang tak akan pernah terlupakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar