Menjemput Keteguhan Puang Tambasa: Catatan Silsilah, Prinsip, dan Doa yang Dikabulkan
Setiap orang memiliki jangkar masa lalu yang membentuk siapa dirinya hari ini. Bagi saya, jangkar itu bernama Puang Tambasa Dg Pasore. Seorang kakek, guru kehidupan, sekaligus benteng kokoh tempat saya berlindung di masa kecil. Orang-orang, termasuk mertua saya, Andi Tajuddin Pasong Petta Rani, kerap menyapanya Puang Bassa’. Namun bagi saya, beliau adalah "Puang"—sebuah panggilah penuh penghormatan yang melampaui sekadar hubungan darah.
Melalui tulisan ini, saya ingin merawat ingatan, bukan hanya tentang sosoknya yang bersahaja, tetapi juga tentang darah dan nasab luhur yang mengalir dalam tubuhnya, sebuah warisan yang ia jaga dengan keteguhan prinsip hingga napas terakhirnya.
Tautan Darah Dua Silsilah Luhur
Puang Tambasa tidak lahir dari ruang kosong. Garis keturunannya adalah jalinan erat para penjaga adat dan pemimpin di tanah Sulawesi.
Jalur Ibu: Arung Matowa Wajo ke-32
Dari rahim ibunya, nasab beliau menyambung lurus hingga ke puncak pimpinan kekerajaan Wajo:
La Maddanaca (Arung Matowa Wajo ke-32) yang memperisterikan Petta Kambara
Menurunkan Latokko Petta Penrang
Menurunkan La Mappanganro Arung Penrang
Menurunkan Lasappaile Petta Pabate Penrang
Menurunkan Latekke Arung Mabbicarae Penrang (Kepala Kampung Cellue)
Menurunkan I Kala
Lahirlah A. Tambasa Dg Pasore
Jalur Bapak: Trah Sulewatang Laree, Pammana
Sementara dari garis sang ayah, beliau adalah cicit langsung dari Abdurahman Sulewatang Laree, penguasa di wilayah Pammana:
Abdurahman Sulawatan Lare
Menurunkan Lasiida Daeng Situju
Menurunkan La Pananrangi A. Andeng Dg Mangati
Lahirlah A. Tambasa Dg Pasore
(Catatan mendalam mengenai jalur emas Sulewatang Laree hingga bermuara pada Raja Bone, La Patau, akan saya ulas secara khusus di akhir tulisan ini).
Keteguhan Di Tengah Badai Masa Kecil
Puang Tambasa adalah anak zaman yang ditempa oleh getirnya sejarah. Hidupnya mencerminkan garis takdir yang mirip dengan saya: sejak masih balita, beliau sudah ditinggal wafat oleh ibunya. Ujian belum selesai, sang ayah kemudian diasingkan oleh penjajah Belanda karena sebuah peristiwa pertumpahan darah (membunuh seseorang demi kehormatan).
Sejak belasan tahun, beliau tumbuh di bawah asuhan pamannya, Puang H. Sau Andi Wero (saudara kandung mamanya, yang juga ayah dari Pung Buba, Pung Wale, dan Pung Sahelaton). Begitu pula dengan keempat saudara kandungnya yang lain—Puang Wawo, Puang Kuma, Puang Madda, dan Puang Intan—semuanya tersebar diasuh oleh keluarga garis ibu. Dari kelima bersaudara tersebut, takdir hanya mengizinkan saya bertemu dengan Puang Kuma dan Puang Intan. Sementara almarhum Puang Wawo, sang Pallontara yang paling menguasai silsilah keluarga kami, telah berpulang lebih dulu setelah menunaikan tugas terakhirnya sebagai utusan keluarga besar ayah saat melamar ibu saya.
Akibat pergolakan masa lalu, Puang Tambasa nyaris tidak pernah mencicipi bangku sekolah formal. Beliau berkisah, dulu sempat ingin sekolah, namun panggilan sang paman menghentikan langkahnya. Beliau putus sekolah dan buta huruf.
Namun, apakah keterbatasan aksara mengubur kecerdasannya? Sama sekali tidak.
Puang Tambasa dianugerahi ingatan yang tajam. Meski tak bisa membaca teks, beliau hafal di luar kepala surah-surah Al-Qur'an seperti Al-A’la, Al-Ghasyiyah, dan surah-surah pendek lainnya.
Keterbatasan itu justru melahirkan tekad baja agar keturunannya tidak mengalami nasib yang sama. Beliau sangat peduli pada pendidikan saya. Beliaulah yang menggandeng tangan saya saat pertama kali mendaftar mengaji dan belajar barazanji. Kalimatnya yang paling saya ingat adalah:
"Saya hanya akan berhenti membiayaimu kalau kamu sendiri yang sudah capai sekolah."
Bukan hanya saya, anak semata wayangnya pun dikawal ketat pendidikannya hingga ke Kota Makassar. Konon, beliau baru mau melangkah pulang dari Makassar menuju Kemaroangin setelah mendapat kepastian hitam di atas putih bahwa anaknya telah resmi diterima di Sospol Universitas Hasanuddin (UNHAS).
Sang Pekerja Keras dan Benteng Perlindungan
Puang Tambasa adalah personifikasi dari keuletan orang Bugis. Beliau adalah petani yang tangguh dan pekerja keras. Semua tanah sawah miliknya dikelola dengan manajemen yang rapi; tidak ada sejengkal tanah pun yang dibiarkan menganggur atau telantar. Beliau merangkul warga sekitar untuk mempekerjakan mereka dengan adil. Keberhasilan ini terbukti setelah beliau tiada; sawah legendaris bernama "Sampi-Sampie" itu begitu luas dan rumit, hingga kini tak ada satu orang pun yang mampu menggarap seluruh areanya sendirian seperti yang dilakukan Puang dulu.
Di balik tangan besinya mengelola tanah, beliau memiliki hati yang teramat lembut kepada saya. Sejak kecil hingga akhir hayatnya, tidak pernah sekalipun tangan beliau mendarat di tubuh saya, bahkan sekadar cubitan kecil pun tidak pernah. Beliau adalah suaka. Jika ayah saya marah dan bersiap menghukum saya, tempat pelarian pertama saya adalah berlindung di balik punggung Puang Tambasa. Di sana, saya selalu merasa aman.
"Adat Teguh, Prinsip Tak Goyah" : Kisah Sompa Tanah
Beliau adalah lelaki yang hidup dengan prinsip Siri’ dan martabat yang teguh. Jika beliau sudah berkata "Tidak", maka tidak akan ada kata "Iya" di belakang hari. Hal ini paling tampak saat berbicara tentang masa depan keturunannya. Jauh-jauh hari, beliau sudah memberi peringatan dini kepada saya:
"Jika Baso mau menikah dengan pilihanmu sendiri, silahkan urus dirimu sendiri."
Bagi beliau, memahami nasab (garis keturunan) bukanlah kesombongan, melainkan cara memilih keluarga dan menjaga keluhuran budi pekerti yang mengalir dalam darah.
Prinsip kokoh ini benar-benar diuji saat saya memantapkan hati untuk meminang umminya Althaf. Setelah diselidiki dengan saksama, beliau sebenarnya sudah merestui pilihan saya. Namun, sebuah batu sandungan besar muncul dari ranah adat: perihal "Sompa Tanah" (mahar berupa tanah).
Negosiasi ini berlangsung alot berbulan-bulan, menguras energi emosional saya dan paman saya, Puang Andi Munawar Petta Senggeng di Bone, yang harus bolak-balik Bone–Pammana untuk menjembatani komunikasi. Kakek saya dengan tegas menolak, “Tidak ada pendahulu saya yang menggunakan mahar Sompa Tanah.” Ini adalah benturan adat antara tradisi Pammana/Penrang dengan tradisi Bone yang mewajibkan perempuan bangsawan memiliki Sompa Tanah. Pihak calon mertua bahkan sempat berpendapat, jika memang tidak ada Sompa Tanah, maka pesta pernikahan tidak usah digelar di Bone, cukup di Makassar saja.
Titik terang akhirnya datang dari calon mertua perempuan saya yang kebetulan orang Soppeng. Beliau memberikan penjelasan yang sangat bijak: bahwa tanah yang diminta itu sebenarnya bukan substansi SOMPA (mahar utama), melainkan sebagai "Pallapi Sompa" (penyelaras/pelapis adat).
Begitu mendengar penjelasan tersebut, barulah Puang Tambasa luluh dan setuju. Di sinilah saya melihat kedalaman prinsip beliau. Beliau bukan tidak setuju memberikan tanah—karena terbukti setelah menikah, beliau justru menghadiahi kami sebidang tanah yang dikenal sebagai Pattampa—tetapi beliau menolak keras penyebutan istilah "Tanah sebagai Sompa" yang dianggapnya tidak sesuai dengan garis adat leluhurnya. Beliau menjaga makna, bukan sekadar materi.
Doa di Batas Kota dan Keberangkatan yang Sempurna
Hubungan batin saya dengan Puang Tambasa terajut begitu kuat melalui untaian doa. Kejadian itu bermula saat saya pulang kampung memanfaatkan libur semesteran kuliah di UNHAS. Ketika waktu libur usai dan saya harus kembali ke Makassar, Puang tiba-tiba jatuh sakit parah. Kondisinya begitu mengkhawatirkan hingga keluarga besar melarang saya berangkat dan meminta saya tetap tinggal.
Namun, entah mengapa, ada keyakinan kuat di dalam hati saya bahwa kakek saya adalah orang yang tangguh dan umurnya masih panjang. Saya nekat berangkat. Sepanjang perjalanan di atas sasis mobil, air mata saya menetes, mengalir bersama doa yang saya bisikkan langsung ke langit:
"Ya Allah, jangan matikan kakek saya kecuali di depan mata saya sendiri."
Tuhan Maha Mendengar. Doa di batas kota itu disimpan-Nya dengan rapi.
Empat tahun berlalu sejak sakit parah itu. Pada awal April 2007, saya baru saja menyelesaikan Diklat PLN di Mawang. Sebelum berangkat menjalankan tugas ke Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, saya dan istri (saat itu kami belum dikaruniai Althaf) menyempatkan diri pulang ke Maroangin untuk bersilaturahmi dan berpamitan kepada keluarga.
Setibanya di Maroangin, entah mengapa tiba-tiba Puang Tambasa mengeluh sakit perut. Malam harinya, beliau memanggil saya mendekat. Dengan suara lirih beliau bertanya:
"Baso, adaji uangmu nak?" "Adaji, Puang," jawab saya menenangkan hatinya.
Keesokan harinya, kondisi beliau menurun drastis hingga berada dalam fase sakaratul maut. Di saat-saat kritis itulah, saya mendampinginya secara langsung. Saya bimbing telinganya, saya talkinkan lisannya dengan kalimat tauhid: Lailaha Illallah...
Di depan mata saya sendiri, Puang Tambasa menghembuskan napas terakhirnya dengan begitu tenang. Doa yang saya panjatkan empat tahun lalu di atas mobil kuliah terjawab tuntas. Beliau berpulang pada hari Sabtu, 7 April 2007, pukul 08.47 WITA.
Saat beliau pergi, di tengah rasa kehilangan yang mendalam, saya kembali berdoa, "Ya Allah, karuniakanlah kami penggantinya." Kerinduan atas sosoknya membuat kami kemudian menyematkan nama "Bassam" di bagian belakang nama anak kami—sebuah nama yang senada dengan panggilan kesayangan mertua saya kepada beliau: Puang Bassa'.
Lampiran Sejarah: Nasab Emas Menuju Raja Bone (La Patau)
Sebagai penutup, sekaligus menepati janji di awal tulisan, berikut adalah alur silsilah jalur bapak (Pammana) yang menyambung langsung hingga ke La Patau Matanna Tikka, salah satu penguasa terbesar di Tanah Bugis:
La Patau Matanna Tikka (Raja Bone) x We Ummung Datu Larompong
│
└──► We Patimana Ware (Arung Timurung / Datu Larompong) x La Rumanga Daeng Soreang (Opu Janggo Patunru Luwu)
│
└──► We Amirah Opu Pawellai Sabbe x Lakambau Batalae (Opu Lamunre Maddika Bua)
│
└──► La Settiaraja La Cella Opu Maddikabua x I Dallong Opu Daeng Tamami
│
└──► I Sabbe Opu Daeng Ripoji x La Paso Daeng Mallimpo (Wijan'na Datu Cinnong)
│
└──► I Sitti Tahira Petta Indo Karame x Kadhi Pammana Ahmad (Wijan'na Arungnge Labarasiang)
│
└──► I Tenri Sampeang x La Kattena Daeng Marowa (Arung Ujung Kalakkang)
│
└──► Abd. Rahman Daeng Pawekkeng (Sulewatang Lare' Pammana) x I Bonga Opu Pabbalu
│
└──► Lasidda Daeng Situju
│
└──► Lapananrangi Daeng Mangati
│
└──► La Tambasa Daeng Pasore x I Sangka Daeng Mawaji*
│
└──► H. A. Mattalata (Ayah Saya)
│
└──► La makkaraka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar