Sabtu, 03 Maret 2018

MASA KECIL DI PAMMANA


Akar Silsilah di Bumi Pammana: Takdir Perjodohan, Wasiat Terakhir, dan Ketegaran Masa Kecil

Setiap orang memiliki awal cerita yang membentuk garis hidupnya, dan kisah saya bermula di Sengkang pada tahun 1981. Saya lahir sebagai anak bungsu dari pasangan Andi Mattalatta Tambasa dan ibu tercinta, putri dari Andi Mallawi. Namun, takdir memiliki jalannya sendiri. Baru setahun saya mencicipi hangatnya dekapan seorang ibu, beliau harus berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa akibat penyakit gagal ginjal yang dideritanya. Kehilangan yang teramat dini ini menyisakan saya dan kakak sulung saya, Andi Rosmianti. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, almarhumah ibu rupanya telah menitipkan sebuah wasiat yang begitu menyentuh hati mengenai masa depan kami berdua. Menurut cerita dari nenek, Pung Hj. Mintang Paleppang, almarhumah berpesan agar pengasuhan kami dibagi demi keadilan bagi kedua belah pihak keluarga: anak laki-laki diserahkan kepada keluarga pihak bapak, sementara anak perempuan diasuh oleh keluarga pihak ibu.


Tumbuh dalam Dekapan Kehangatan Maroangin

Memenuhi amanah wasiat tersebut, sejak usia satu tahun, langkah kaki kecil saya dibawa ke Maroangin, Pammana, Kabupaten Wajo. Di sanalah saya dididik, dibesarkan, dan dilimpahi kasih sayang oleh nenek dari garis bapak, Puang Sangka. Di bawah asuhannya di Maroangin, saya tumbuh menjadi anak laki-masing yang belajar tentang arti ketegaran dan nilai-nilai kehidupan pedesaan yang kental dengan kekerabatan. Sementara itu, kakak sulung saya, Andi Rosmianti, dibesarkan di pusat kota Sengkang oleh nenek dari pihak ibu, Pung Hj. Mintang Paleppang. Meskipun raga kami terpisah jarak antara Maroangin dan Sengkang, jalinan batin sebagai saudara kandung tidak pernah memudar, karena kami tahu ada cinta yang besar dari para nenek yang luar biasa di balik pengasuhan kami.


Romantika Sejarah Orang Tua: Sebuah Rahasia Jodoh dan Takdir Singkat

Jika memutar kembali jarum jam ke masa sebelum saya lahir, kisah pernikahan kedua orang tua saya adalah potret klasik indahnya sebuah perjodohan tanpa melalui proses pacaran atau perkenalan sebelumnya. Menurut versi kakek saya, Pung Tambasa, garis jodoh itu bermula dari peran sang ipar, Pung Tunru (suami dari saudarinya, Pung Kuma). Pung Tunru meminta Pung Tambasa untuk melamar seorang anak gadis dari seorang Hakim terpandang di Sengkang. Setelah serangkaian prosesi adat Bugis yang sakral mulai dari mammanu-manu (mencari informasi) hingga mappettu ada (memutuskan kesepakatan tertulis), ikatan suci itu akhirnya diresmikan.

Pesta pernikahan yang agung pun digelar pada hari Ahad, 6 Februari 1977 Masehi atau bertepatan dengan 16 Safar 1397 Hijriah. Sayangnya, badai ujian datang begitu cepat. Bahtera rumah tangga yang baru seumur jagung itu hanya bertahan kurang lebih 3 tahun. Sang ibu lebih dahulu dipanggil pulang oleh Sang Pemilik Hidup, meninggalkan cerita pernikahan yang singkat namun abadi dalam sanubari, serta mewariskan dua buah hati yang akan terus melanjutkan estafet perjuangan hidup ini.

Serpihan Memori Maroangin: Perjuangan Hidup, Tabungan Masa Kecil, dan Ikrar di Bawah Gerimis

Kehilangan pelukan ibu di usia satu tahun menyisakan ruang hampa yang begitu nyata dalam fase awal kehidupan saya. Tanpa asupan ASI yang sempurna, tubuh kecil saya tumbuh menjadi anak yang selalu sakit-sakitan. Setiap kali demam menyerang, suhu tubuh saya melonjak drastis hingga mata berputar ke atas—kondisi yang dalam istilah Bugis sangat ditakuti dan dikenal dengan sebutan “sulla matanna”. Di era itu, saya mungkin sudah dikategorikan sebagai bayi yang mengalami kurang gizi dengan harapan hidup yang sangat tipis. Konon, setiap kali diberi susu formula, perut saya selalu menolak dan berujung mencret, hingga akhirnya sepanjang masa kecil saya hanya bisa bertahan dengan suguhan teh manis hangat. Namun, mukjizat itu hadir lewat ketekunan, ketelatenan, dan cinta tanpa batas dari nenek saya, Puang Sangka. Tangan dingin beliaulah yang dengan sabar menuntun saya melewati masa-masa kritis antara hidup dan mati tersebut.

Sejak saat itu, saya resmi menjalani takdir sebagai anak piatu. Sosok fisik ibu sama sekali tidak terekam di benak saya, dan satu-satunya jembatan ingatan itu hanyalah selembar foto usang yang saya simpan dengan sangat rapi hingga hari ini.

“Ibu kamu cantik, ibu kamu sangat baik.”

Ungkapan senada selalu meluncur dari bibir setiap orang yang saya temui ketika mereka tahu siapa ibu saya. Bahkan kakek saya, Puang Tambasa, begitu terpesona oleh keluhuran budi pekerti almarhumah. Di kemudian hari, ketika saya mulai beranjak dewasa dan mencari pendamping hidup, kakek pernah berpesan dengan nada sangsi bahwa akan sangat sulit bagi saya untuk menemukan sosok istri yang bisa menyamai kemuliaan hati mama saya.


Dunia Kecil di Maroangin: Bahasa Ibu dan Riuhnya Permainan Kampung

Seluruh masa kecil hingga tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) saya habiskan di Maroangin. Dunia saya begitu ciut saat itu; saya tumbuh bersama kakek, nenek, dan bapak dengan bahasa Bugis sebagai alat komunikasi sehari-hari. Begitu kentalnya lingkungan Bugis di Maroangin membuat saya menjadi anak yang sangat pemalu dan penakut untuk keluar daerah. Saya sangat takut jika diajak ke rumah Om di Bone, apalagi kalau harus ke Makassar. Alasan utamanya sederhana: saya belum berani dan belum lancar berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Perjalanan terjauh saya hanyalah sesekali ikut bapak menjenguk Pung Mintang dan kakak sulung saya di Sengkang, atau saat menyambut kedatangan paman saya, Puang Muhtar, bersama keluarganya dari Makassar. Itu pun kami tidak pernah bermalam. Rasanya, mata ini tidak akan bisa terpejam jika malam hari tidak merebah di atas ranjang rumah sendiri di Maroangin.

Meskipun pemalu terhadap dunia luar, Maroangin adalah surga petualangan bagi masa kecil saya. Rutinitas harian saya tertata dengan padat namun menyenangkan. Sepulang dari Sekolah Dasar dan istirahat siang, saya langsung melanjutkan sekolah sore di Madrasah As’adiyah No. 58 Maroangin. Begitu azan ashar berkumandang dan kami selesai menunaikan salat berjamaah di Masjid Zainal Abidin, saya langsung berlari menuju Lapangan Sepak Bola Andi Pallawarukka. Di sanalah energi masa muda kami tumpah. Kami bermain apa saja tanpa lelah: mulai dari sepak bola, sepak takraw, bola voli, hingga permainan tradisional yang berganti mengikuti musimnya. Kami bermain gasing, cukke, ca’-ca’, kelereng, main tongkat, tempurung, lompat tali, petak umpet, hingga duduk melingkar bermain domino dan kartu. Riuhnya tawa kami baru akan mereda dan bubar sesaat sebelum azan magrib dikumandangkan dari Masjid Babuttaqwa.

Setelah membersihkan diri, malam hari kami habiskan di masjid untuk salat magrib dan isya berjamaah. Di antara jeda waktu dua waktu salat tersebut, kami duduk melingkar mengikuti kegiatan belajar mengaji yang dibina langsung oleh Imam Masjid, KH. Mustafa Ahmad. Memori indahnya masa itu selalu melekat bersama nama teman-teman sepermainan saya: Andi Adi dan Andi Arman (keduanya sepupu tiga kali dari bapak), Kamaruddin, Asrisan, Anca, Sunardi, Hamka, Asri, Rustamin, Sabran, Ambo Angka, dan Hamzah.


Petani Cilik yang Mandiri dan Ikrar di Atas Sepeda Mustang

Ketika hari libur atau Sabtu dan Ahad tiba, kakek saya, Puang Tambasa, sering mengajak saya ke sawah. Kami berjalan kaki menyusuri pematang sawah milik orang lain, menuju lokasi yang paling sering kami datangi di daerah Sampi-sampie Lagosi. Di sana, saya tidak hanya duduk diam. Saya belajar ikut membajak sawah dengan bantuan kerbau. Jika para penjaga kerbau kakek—seperti Palaloi, Ladulla, Ambo Tuo, Sukri, atau Tahang—sedang mendapatkan tugas lain, sayalah yang turun tangan menjadi palaloi (penggembala) darurat menjaga kerbau-kerbau tersebut.

Momen yang paling saya tunggu adalah saat panen kacang tanah. Saya ikut membaur bersama para buruh tani lainnya untuk memanen. Hebatnya, kakek adalah sosok yang sangat adil; seluruh hasil jerih payah saya dari memanen kacang tidak pernah diambilnya, melainkan diberikan sepenuhnya untuk saya. Berkat kebijakan kakek, sejak kecil saya sudah memiliki tabungan sendiri. Sekali panen, saya bisa mengantongi hasil hingga dua karung kacang tanah. Setelah dijual, uangnya saya tabung dan gunakan untuk membeli barang-barang impian anak-anak masa itu: video game, alat-alat musik, hingga sebuah sepeda. Bahkan, ada kebanggaan tersendiri ketika terkadang saya bisa meminjamkan uang tabungan saya kepada bapak, yang saat itu memang belum memiliki pekerjaan tetap karena setiap hari hanya pulang-pergi Sengkang tanpa hasil pasti. Menjadi anak "semata wayang" yang tinggal bersama kakek membuat saya sangat dimanja dalam hal fasilitas; boleh dikata, kakek-lah yang membiayai seluruh hidup saya sejak kecil.

Rutinitas membantu kakek di sawah perlahan mulai berkurang ketika saya mulai menginjak bangku SMP Kampiri. Namun, tugas saya berganti menjadi pengantar bekal makanan untuk kakek saat musim hujan tiba, dengan mengendarai sepeda Mustang kesayangan. Ada satu momen yang menjadi titik balik dan membekas seumur hidup saya. Suatu sore yang dingin diiringi hujan gerimis, tubuh saya terasa teramat lelah. Bayangkan saja, dari Senin sampai Sabtu saya sudah rutin mengayuh sepeda Mustang itu pulang-pergi menempuh jarak 4 km antara Maroangin dan Kampiri untuk sekolah. Sore itu, saya masih harus menguras tenaga menembus rintik hujan demi mengantarkan makanan ke sawah kakek. Di tengah jalan, sambil terus mengayuh dengan napas terengah-engah, saya menatap langit dan berikrar di dalam hati dengan sangat kuat:

"Saya harus tekun dan sukses belajar, agar nasib saya kelak tidak seperti kakek yang harus bersusah payah mencari sesuap nasi dengan memeras keringat di sawah di bawah terik dan hujan."


Khitanan sang “Dattulu” dan Langkah Pertama Keluar dari Zona Nyaman

Saat liburan kenaikan kelas SMP, sebuah fase pendewasaan fisik harus saya lewati. Saya dikhitan oleh Mantri Silaja, seorang mantri senior yang sangat dihormati di Maroangin. Kata Pak Mantri, saya dikhitan di usia yang terbilang sangat terlambat. Hal itu terjadi karena postur tubuh saya yang sangat kecil dan pendek untuk anak seusia saya, sehingga orang-orang masih menganggap saya sebagai anak kecil. Karena tubuh mungil itu pula, saya kerap mendapatkan berbagai nama panggilan akrab di kampung. Ada yang memanggil saya “Dattulu”, ada yang menjuluki “Cincong” karena wajah saya yang dianggap mirip orang Jepang, hingga panggilan “Banggulu” karena kepala saya yang terlihat lebih besar dibanding ukuran tubuh yang kecil.

Masa pasca-disunat menjadi tonggak sejarah baru bagi saya. Untuk menyembuhkan luka dan mengisi waktu liburan, saya memutuskan untuk pergi berlibur ke Kabupaten Bone, tepatnya di kediaman om saya dari pihak mama, Puang Muna. Di sana, saya berkumpul dan bermain bersama sepupu-sepupu saya, Andi Cuncun dan Andi Lutfi. Perjalanan ke Bone ini menjadi momentum pertama kalinya dalam hidup saya berani melangkahkan kaki keluar dan meninggalkan tanah kelahiran Maroangin.

Lebih dari sekadar liburan, lingkungan di rumah Pung Muna memberikan tamparan spiritual yang luar biasa bagi saya. Menyaksikan sepupu-sepupu saya dengan kesadaran penuh dan rutin menegakkan salat lima waktu tepat pada waktunya, hati saya tergerak. Terinspirasi dari kebiasaan baik mereka, di sinilah titik awal saya mulai belajar disiplin dan berkomitmen penuh untuk menjaga salat lima waktu dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah langkah awal yang kecil di tanah rantau, yang kelak membentuk fondasi karakter dan prinsip hidup saya di masa-masa yang akan datang.

Orang Tua
Ayah
Ayah saya Merupakan Anak tunggal dari Pasangan Andi Tambasa Dg Pasore dengan Andi Sangka Dg Mawaji lahir di Lare’e 31 Desember 1953 itu yang terdaftar, walaupun lahir kisaran 1950 menurut penuturan sepupunya pung tahira yang kelahiran 51 dengan nasab seperti berikut:
·       Silisilah dari Ayah, 
    Andi Mattalatta Anak dari  Andi Tambasa,  bin  La Paranrengi Dg Mangati  bin   Lasidda Dg Situju Bin Abdu Rahman Dg Pawekkang Sulewatang Lare,  Bin  La Kattena  dg marowa arung Ujung Kalakkang Bin  Lasiruwa dg situju arung ujung  kalakkang,  Bin Lamuhammad Arung  bocco dan silisilah ini juga dari pung sangka, karena kakek saya  dengan nenek saya  Sepupu dua kali ternyata, dimana bapaknya Nenek saya Andi Pasampoi yang biasa di panggil puang Nampo saudara sepupu dengan puang Sidda ayah dari kakek saya puang tambasa, 
 
         A. Mattalatta Anak dari  Andi Sangka Dg Mawaji, bin  A.Pasampoi puang Nampo, Bin I Mappamadeng binti  Abdu Rahman Sulewatang Laree Bin I Tenri Sampeang Binti Sitti tahira Indo Karame Tasa Binti  I sabbe Opu Dg Rifuji Binti La Cella  settiaraja Maddikabuwa Matinroe Ripadang Kaluwa Bin We Amirah  Opu Pawellai Sabe Binti  I Patimana Ware Arung Timurung Matinro Ribola Ukirinna Larompong  Binti Sultan Alimuddin Muh Idris Lapatau Matinroe Ri Naga Uleng Mangkau 1696 menggantikan Latenri Tatta  Dan Datu Soppeng 1696 Menggantikan Latenri Senge.
    Andi Mattalatta Bin   Andi Tambasa,  bin  Paranrengi Dg mangati  bin   Lasidda Bin Abdu Rahman Dg Pawekkeng Sulewatang Lare,  Bin  La Kattena  dg marowa arung ujung Kalakkang Bin  Lasiruwa dg situju arung ujung  kalakkang Bin Petta Sekke( petta Singke) Bin Toallomo Cakkuridie Wajo 
   Sumber : Silsilah yang ditulis Puang A. Mappasere ( merupakan cicit abdurahman sulewatang Lare  dan masih tersimpan di Penulis
·     kalau  dari La Maddanaca Arung Waetuo Arung Matowa Wajo yang 32, dan petta PENRANG  yakni Andi Mattalatta Anak dari Andi  Tambasa  Anak dari  A.kala   , Anak dari  A.Mallawa Dg pateke Arung Mabbicarae Penrang Ka Dusun Cellue,Anak Dari La Sappile Petta Pabate Penrang,  Anak dari  La Mappanganro Arung penrang,  Anak dari  Latokko Petta penrang, anak dari La Maddanaca Arung Matoa wajo yang 32 dan  Arung Waetuwo 1754-1755
Sumber : Tulisan yang dikirimkan oleh sepupu satu kali Pung Tambasa dari POMALA pung Mappasala
Ibu
ibu saya  Andi Nanna Anak ketiga dari 4 bersaudara yang pasangan Pung Mallawi dan Pung Hj Mintang Paleppang , Lahir di sengkang  tahun 1951, mempunyai saudara Alm Hj, Andi Sederhana, Alm H.Andi Mukhtar Mallawi dan Andi Munawwar Mallawi. Bapaknya seorang hakiim berdomisili dikota sengkang jl bali no 11, yang sekarang ini sudah berubah menjadi Masjid,
Ibu saya di makamkan di pemakaman Labellang sengkang berdekatan dengan Ayahnya Pung Mallawi  yang lebih duluan meninggal dunia
·         Silsilah A,Mallawi,  ibu saya Anak dari Andi Mallawi Anak dari Petta Pance Matoa Bakke (sauadara Arung bettempola wajo ke 27 Datu Makkaraka) Anak dari La Mallaleanng Datu Mario Riawa bergelar Petta Yattangnge  anak dari  La Mappatola Datu Bakke MatinroE ri LalangE bin  Larumpang Mega Datu Mario Riwawo, Ar Tanete, Datu Lamuru Bin La Mappeware Datu Lamuru Bin Mappasunra Datu Lamuru Matinroe Rimangile Bin Latenri Sanga Petta Janggo Datu/Dulung Lamuru Vi Matinroe Ri Tengngana Lamuru Bin Lacella Ar.Ujumpulu Mstinroe Ritengngana Soppeng Datu Lamuru 5 Bin La Mallewai Adt Sidenreng 5 Matinroe Ri Tanah Maridie Bin Latenri Tippe Add Sidenreng Matinroe Ri Tamantinga ( 1681 – 1700 ) Bin La Taranatie Dg Mabela Mabbola Batue Datu Pammana Bin La Mappakella Ri Passariedatu Pammana Bin La Mappapoli To Pasajoi Datu Pammana  1702 M Pertama Masuk Islam Sultan Abd Rasyid Bin La Tenri Pata To Kellingnge Datu Pammana Bin We Tenri Lallo Ar Liu /Datu Pammana ( Kemanakan Datu Sangaji Pammana Datu Cina
L dari Luwu

Y Mallawi Bin La Pantje Bin La Malleleang Bin La Mappatola Datu Bakke Bin La Rumpang Megga Datu Lamuru Bin  La Mappaware Datu Lamuru Bin  We Panangareng Datu Mario Riwawo Binti Pasangan dari La Mallarangeng Bin Lapage To Samallangi Datu Lompulle dengan Wetenri Leleang Pajung Luwu Matinroe Ri Soreang.

YM La Malleleang Bin La Mappatola Datu Bakke Bin We Pancaitana Ar Akkamparen Binti La Mappalonro Datu Soppeng Bin La Mappajanci Datu Soppeng Bin Pasangan dari La Mappasiling Datu Pattojo dengan WeTenri Leleang Pajung Luwu Matinroe Ri Soreang.

La Mallaleang Bin La Mappatola Datu Bakke Bin La Rumpang Megga Datu Lamuru Bin We Asia Datu Lompulle Bin La Tenri Sessu Oppu Cenning Datu Tanete Arung Pancana Bin Pasangan dari La Mallarangeng  Datu Lompulle, Datu Marioriwawo dengan We Tenri Leleang Pajung Luwu Matinroe Ri Soreang.

La Mallaleang Bin We Pada  Datu Marioriawa Attang salo Binti Latelleng Datu Mario riawa Attang Salo Bin La Makkaraka Langi Baso Tancung Datu Marioriawa Attang Salo Bin Latenri Sessu Oppu Cenning Datu Tanete Arung Pancana Bin Pasangan dari La Mallarangeng Bin Lapage To Samallangi Datu Lompulle, Datu Marioriwawo dengan Wetenri Leleang Pajung Luwu Matinroe Ri Soreang.

Nasab Beliau Sampai Sultan Hasanuddin 

A.Mallawi bin La Pantje bin La Malleleang Bin La Mappatola Datu Bakke Bin La Rumpang Megga Datu Lamuru Bin  La Mappaware Datu Lamuru Bin La Mappasunra Datu Lamuru  Bin I Pawilloi Datu Bolli Binti La Masselomo Petta Ponggawae Bin La Mappareppa sappewali Raja Gowa ke 20, Arung Pone Ke 19 dan Datu Soppeng Bin pasangan dari sultan Alimuddin Muh Idris Lapatau mangkau bone 16, datu soppeng ke 18  matinroE Ri Nagauleng dengan  I Mariama Kr Pattukangan Binti Mappadulung Bin Mallombasi Sultan Hasanuddin

Nasab Beliau Sampai syekh Yusuf 

A.Mallawi bin La Pantje bin La Malleleang Bin La Mappatola Datu Bakke Bin LaRumpang Megga Datu Lamuru Bin  La Mappaware Datu Lamuru Bin La Mappasunra Datu Lamuru  Bin I Pawilloi Datu Boli Binti La Masselomo Petta Ponggawae Bin I Gumittiri / Sitti Labiba Binti Pasangan syekh Yusuf Puange salamata  dengan Syarifah Fatimah / Kare Kontu Binti Sultan Ageng Tirtayasa ( Sultan Banten)

Silsilah   Dari Liu

    Ibu Saya Binti A.Mallawi Bin Andi Hajju Binti A.Sagala Bin Mappangewa Petta Manyoroe Ri Liu Bin Samallangi Datu Cilellang  Bin Datu Sao Bin La Sappenne Petta Labattowa Arung Liu Cakkuridi Wajo( saudara La Tenri Werrung Arung Matoa Wajo)
      Silsilah dari Sengkang ( Belawa)  Anak dari Pung Hj Jintahera / Pung Hj Mintang anak dari Mayoro Brigade Paleppang Anak dari Kapitang Walinga Anak Iyaba Anak dari I Ambo buba bin I pagattang ( saudara Anakoda Latonro) binti puang Siame  anak dari Puang Launrung wijanna arung Wetta, dengan Puang Laiccu Baso Madeetia 
 
se
 untuk melihat lebih dekat Manyoro Paleppang  bisa link http://wasobo.blogspot.com/2016/12/manyoro-brigadir-paleppang-alias-pung.html

Sumber : Silsiilah Kapitang Tambasa dan Kapitang Walinga Johor Malaysia

Kesetiaan Bapak dan Jejak Langkah Akademik: Dari Lompatan Madrasah hingga Almamater Kampiri

Di balik perjalanan hidup saya yang tumbuh tanpa ingatan tentang sosok ibu, ada cerita ketegaran lain dari bapak saya. Sepeninggal almarhumah ibu, bapak—atau yang akrab saya sapa Ettaku—memilih jalan hidup yang sunyi dalam hal asmara. Beliau praktis tidak pernah menikah lagi, kecuali sebuah cerita singkat sewaktu saya masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Saat itu, Ettaku sempat membangun bahtera rumah tangga baru bersama Andi Simpursia, putri dari pasangan Petta Baso Jamaro dan Petta Bau Tenri. Namun, takdir rupanya belum berpihak pada kebersamaan mereka; pernikahan tersebut kandas di tengah jalan. Sejak perceraian itu hingga untaian kata ini saya tuliskan, Ettaku tetap memilih sendiri, mendedikasikan sisa hidupnya dalam kesetiaan yang tenang tanpa pernah berniat mencari pendamping lagi.


Awal Mula Pendidikan: Dua Tahun Ceria di TK Pertiwi

Gerbang dunia pendidikan pertama kali saya masuki di tanah kelahiran. Selama kurang lebih dua tahun, saya menghabiskan masa-masa bermain dan belajar di TK Pertiwi Maroangin, Kecamatan Pammana. Di sekolah masa kecil inilah dasar-dasar karakter saya mulai dibentuk dalam suasana yang penuh kasih sayang. Fase awal ini terasa begitu hangat berkat bimbingan lembut dari dua guru pendidik kami saat itu, Ibu Maryam dan Ibu Farida, yang dengan sabar mengenalkan kami pada huruf, angka, dan indahnya bersosialisasi.


SDN 247 Larompo: Cerita "Lulus" di Kelas Lima

Menginjak usia sekolah dasar, saya terdaftar sebagai murid di SDN 247 Larompo Maroangin, Pammana, menempuh pendidikan dari tahun 1987 hingga tahun 1993. Namun, sekolah ini menyisakan sebuah kisah yang unik: secara administratif di sekolah umum ini, saya hanya mengenyam pendidikan sampai di bangku kelas lima saja. Di sekolah dasar ini, saya melewati hari-hari bersama teman sekelas seperti Mardiana, Rusdi, Sunardi, Marhani, Nurcaya, Kamaruddin, Asrisan, Sudirman, dan Ambo Angka.

Kami tumbuh di bawah asuhan wali kelas yang berganti setiap tahunnya dengan penuh kedisiplinan: Ibu Marhan di kelas 1, Ibu Ros di kelas 2, Ibu Erni di kelas 3 dan 4, serta Ibu Nahar di kelas 5. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah (Alm.) Bapak Sholeh, kami juga dibimbing oleh guru-guru hebat lainnya seperti Ibu Patiha dan Pak Syarifuddin di pelajaran Agama, Pak Sudirman yang selalu semangat mengajar Olahraga, serta Ibu Ernia dan Pak Muhtaram. Lalu, mengapa saya hanya sampai kelas lima? Jawabannya ada pada dinamika sekolah sore saya.


MIA As’adiyah No. 58 Maroangin: Karomah Lompat Kelas sang Juara Rangking

Alasan saya menyudahi kelas lima SD lebih awal adalah karena lompatan prestasi yang terjadi di Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah No. 58 Maroangin. Ini adalah sekolah sore—atau biasa kami sebut Sekolah Arab—yang merupakan cabang resmi dari Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang. Di sinilah mental akademik saya benar-benar terasah. Saat pertama kali mendaftar, saya langsung ditempatkan di kelas 2 karena sekolah tersebut memang tidak membuka kelas 1 saat itu. Karena selalu berhasil meraih prestasi sebagai peraih rangking pertama secara berturut-turut, pihak sekolah memberikan kebijakan khusus yang luar biasa bagi saya: dari kelas 2 saya langsung dilompatkan ke kelas 4, dan dari kelas 4 dilompatkan lagi langsung ke kelas 6!

Berkat kebijakan akselerasi alami tersebut, saya hanya menghabiskan waktu 3 tahun lamanya di MIA 58 Maroangin. Di bawah bimbingan para pendidik yang ikhlas seperti Pak H. Mustafa Ahmad, Pak Hamka Kasim, dan sesekali Pak Syamsu Alam, saya diikutkan dalam Ujian Nasional tingkat madrasah dan alhamdulillah dinyatakan lulus. Lembar ijazah madrasah sore inilah yang kemudian menjadi "senjata utama" saya untuk melangkah ke jenjang Sekolah Menengah Pertama.


Menembus Batas Birokrasi: Berlabuh di SMP Negeri 1 Kampiri

Perjalanan menuju SMP tidaklah berjalan mulus begitu saja. Setelah tamat dari madrasah, saya mendapatkan informasi berharga dari seorang pegawai Departemen Agama Kabupaten Wajo bernama Bapak Rusdi—yang kebetulan bertetangga dekat dengan nenek saya, Pung Mintang, di Jalan Bali, Sengkang. Beliau meyakinkan bahwa ijazah madrasah yang saya miliki legal dan sah untuk digunakan melanjutkan sekolah ke SMP Negeri. Bermodal info itu, Ettaku dengan setia menemani saya mencoba mendaftar di SMP Negeri 2 Sengkang di Jalan Kelapa. Namun sayang, pihak sekolah saat itu masih kaku dan menolak, dengan alasan mereka hanya menerima lulusan Sekolah Dasar biasa.

Tidak patah arang, Ettaku kembali mengantar saya beralih ke SMP Negeri 1 Kampiri (1993–1996). Di sana, nasib baik mempertemukan kami dengan Wakasek Kesiswaan, Bapak Muhammad Amin. Lewat kebijakan beliau, saya resmi diterima dan menyandang status sebagai siswa baru.

Sebenarnya, jika dipikir-pikir, ada SMP Negeri 2 Pammana yang lokasinya tepat berada di belakang rumah saya, dekat dengan Lapangan Sepak Bola Andi Pallawarukka tempat saya bermain tiap sore. Namun, saat itu ada dua pertimbangan yang membuat kami urung memilihnya. Selain karena sekolah tersebut terhitung masih sangat baru, di dalam hati kecil saya terbersit kekhawatiran yang menggelitik: saya takut suatu saat akan dicari dan digerebek oleh guru-guru SD saya karena ketahuan "kabur" dan mendaftar SMP padahal belum menyelesaikan kelas 6 di SDN 247 Larompo. Tentu saja itu hanyalah ketakutan kekanak-kanakan saya waktu itu.

Di SMP Negeri 1 Kampiri, masa-masa remaja saya tumbuh dengan sangat indah di bawah didikan guru-guru yang berdedikasi tinggi. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Bapak Drs. Jamaluddin yang kemudian dilanjutkan oleh Bapak Suyuti, kami dibimbing oleh:

  • Sains, Matematika & Bahasa: Pak Muhammad Amin (Wakasek sekaligus guru Fisika), Pak Ambo Uma dan Pak Syafril (Biologi), Ibu Hasna (Fisika), Pak Suaeb dan Pak Nasir (Matematika), serta Ibu Norma dan Ibu kartini yang dengan sabar mengajar Bahasa Inggris dan Ibu Andi Fadillah bersama Pak Haeruddin di pelajaran Bahasa Indonesia.

  • Sosial, Agama & Seni: Ada Pak Misran (PPKN/PMP), Pak Mustain Latta (Agama), Pak Idris (Geografi), serta para pengajar seni yang membuat sekolah terasa berwarna seperti Pak Mappanyompa, Ibu Sundari, dan Ibu Andi Alang Pas yang mengajarkan Seni Tari. Tak ketinggalan Pak Karjono yang selalu bugar memimpin pelajaran Olahraga.

Puluhan tahun telah berlalu, namun ikatan emosional itu tidak pernah putus. Melalui grup WhatsApp Alumni SMP Kampiri 96, saya masih beruntung bisa menyambung silaturahmi dan bertukar kabar dengan teman-teman hebat masa remaja dulu, seperti Faisal Muslimin, Candra, Murniati Said, Firman Jaya, Muhammad Nur, Muasmar, Sahir, Maryam, Indo Anja, Indo Ugi, Anwar, Murni Said, Gusni, Herianti Sudud, Andi Asima, Aries, Wahyuddin Patila, Muliadi, Anton Susanto, Musni, Besse Najemiah, serta pasangan suami istri Rudianto Rosneng dan Ummul Khair. Di sinilah, di Kampiri, fondasi pengetahuan saya semakin diperkokoh sebelum akhirnya saya siap terbang lebih tinggi lagi.

            Setelah menyeleseaikan  Sekolah menengah Pertama  di SMP Negeri  Kampiri, saya melanjutkan sekolah di SMU Negeri 1 Sengkang, otomatis sejak saat itu, saya meninggalkan  Maroangin  , berpisah dengan keluarga di maroangin walaupun sabtu sehabis sekolah kembali lagi kemaroangin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar