Senin, 28 Agustus 2023

Kerinduan yang Menemukan Jalan Pulang: Catatan Perjalanan Silaturahmi Akbar Wijanna Lapatau di Bumi Arung Palakka

Ada sebuah ikatan yang tidak akan pernah luntur oleh jarak, bahkan oleh waktu. Ikatan itu bernama garis leluhur.

Setelah sempat tertunda dari jadwal semula pada 21 Agustus 2021 akibat hantaman badai PPKM dan merebaknya varian Delta, kerinduan mendalam para wija (keturunan) akhirnya menemukan jalan pulang. Alhamdulillah, pada tanggal 20 hingga 21 November 2021, Silaturahmi Akbar Wijanna Lapatau Matanna Tika Arung Pone ke-16 dan Datu Soppeng ke-18 sukses digelar di Planet Cinema, Watampone.

Sebuah momentum sakral yang mempertemukan kembali serpihan keluarga besar dalam satu balutan rindu.

Hari Pertama: Romansa Kuliner Viral dan Hangatnya Tudang Sipulung

Perjalanan saya dan keluarga kecil (istri dan anak) kali ini terasa sangat spesial. Kami bertolak ke Bone tepat setelah subuh, setelah sebelumnya menghabiskan waktu tiga hari menikmati pesona Pantai Bira, Bulukumba. Di tengah perjalanan, kami menyempatkan diri singgah sarapan di Sinjai sebelum akhirnya membelah jalan menuju Watampone.

Setibanya di Watampone, sebagai "tugas negara" domestik, saya menyempatkan diri memantau progres renovasi saluran air di B7 Home terlebih dahulu. Setelah itu, barulah kami meluncur ke lokasi acara. Karena mendapat informasi bahwa acara inti baru dimulai pukul 14.00 WITA, kami memutuskan untuk berburu kuliner Bone yang sedang viral: Warung Latanete. Di sana, kami memanjakan lidah dengan manisnya Pisang Ijo dan gurihnya Bakso khas Latanete.

Menariknya, di warung inilah kehangatan silaturahmi itu langsung dimulai sebelum acara resmi dibuka. Kami berpapasan dan berbincang hangat dengan:

  • Pung Hj. Bau Denrawalie

  • Petta Bau Tenri

  • Petta Ma'me Patiroi

  • Petta Baso Muhtar Yahya (Penasihat Taro Ada Taro Gau)

  • Petta Andi Cage (Lurah Botto)

Sembari menunggu jarum jam mendekati pukul dua siang, obrolan mengalir santai namun penuh makna.

Kemeriahan Acara Inti

Mendekati pukul 14.00 WITA, kami bergegas ke Planet Cinema. Ratusan peserta sudah memadati lokasi, dan total ada sekitar 1.000 wija yang hadir memenuhi ruangan. Suasana begitu megah sekaligus haru.

Acara ini dibuka oleh Sekda Bone, Andi Islamuddin, yang mewakili Bapak Bupati Bone yang kebetulan berhalangan hadir karena kurang sehat. Deretan tokoh penting turut mengawal jalannya sejarah ini, di antaranya:

  • Bapak Amin Syam (Gubernur Sulawesi Selatan pada masanya)

  • Anggota DPR RI: Andi Aras dan Andi Rio Padjalangi

  • Sombaya Gowa, Andi Kumala Idjo, serta Andi Iwan Datu Luwu

  • Pemangku Adat Bone, Petta Baso Hamid

  • Datu Sawitto beserta permaisuri.

Sejak pagi, mata para pengunjung sudah dimanjakan dengan Pameran Benda Pusaka yang sarat nilai sejarah serta Kuliner Tradisional yang menggugah selera. Setelah pertemuan formal selesai dengan sukses sebelum Maghrib, malam harinya dilanjutkan dengan prosesi Tudang Sipulung—sebuah tradisi duduk bersama untuk bermusyawarah dan mempererat persaudaraan.

Malam itu, kami memilih beristirahat di Hotel Novena dengan hati yang sarat akan rasa syukur.

Hari Kedua: Sarapan Penuh Berkah, Ziarah Nagauleng, dan Palette yang Menawan

Hari kedua dibuka dengan momen yang tidak terduga saat sarapan di hotel. Kami melihat Sombaya Gowa bersama permaisuri tampil kompak mengenakan dress code Kaos Lapatau. Saya dan istri pun memberanikan diri menghampiri beliau untuk memperkenalkan diri sebagai warga yang tinggal di Gowa sekaligus cucu samping dari Petta Pakki.

Alhamdulillah, selama setengah jam kami mendapat wejangan dan pencerahan yang sangat berharga dari beliau. Tak lama berselang, suasana ruang sarapan makin ramai dengan kehadiran teman-teman Facebook seperti Andi Bau Ramlan dan AbdiMahesa, disusul Bapak Amin Syam beserta Ibu, hingga Opu Prof. Irma bersama suami yang sempat berdiskusi hangat mengenai potensi wisata Lejja.

Selain sahabat-sahabat di atas, sepanjang perhelatan ini saya juga sangat bersyukur bisa bertatap muka langsung dengan teman-teman media sosial yang selama ini hanya bersapa di jagat maya, seperti Andi Paranrengi, Andi Mushaffar, Feand, Mappasosong, dan Andi Ida Wawo Petta Cenning.

Menuju Nagauleng dan Tanjung Palette

Usai sarapan dan check-out, dengan modal panduan Google Maps, kami memacu kendaraan menuju Desa Nagauleng di Kecamatan Cenrana untuk melakukan ziarah ke makam leluhur, Yang Mulia Lapatau Matanna Tika.

Setibanya di kompleks pemakaman yang sakral tersebut, takdir kembali mempertemukan kami dengan rumpun keluarga. Kami bertemu dengan kakak sepupu dari rumpun Petta Celleng Datu Malleleang, yaitu Hj. Andi Mis beserta rombongannya yang datang jauh-jauh dari Batu-Batu, Soppeng. Doa-doa pun terlantun khusyuk, mengirimkan pahala sekaligus merawat ingatan atas jasa-jasa besar sang leluhur.

Sebagai pamungkas dari seluruh rangkaian agenda, seluruh rombongan bergerak menuju Wisata Tanjung Palette. Di bawah embusan angin laut yang segar dan pemandangan tebing pantai yang eksotis, Silaturahmi Akbar ke-16 ini resmi ditutup.

Kami pulang membawa bukan hanya cerita, tetapi juga api semangat kekeluargaan yang akan terus menyala hingga generasi-generasi berikutnya. Taro Ada Taro Gau—semoga ikatan suci ini tetap kokoh terjaga. Sampai jumpa di silaturahmi akbar berikutnya!