Selasa, 02 Juni 2026

Ketersambungan nasab Wasobo Dengan kedatuan Mario Riawa

Marioriawa adalah sebuah kerajaan mandiri dan berdiri sendiri dalam naungan Konfederasi Kerajaan Soppeng, dan pernah berada dalam naungan konfederasi kerajaan Wajo pada saat latadampare menjadi arung matoa wajo,dan saat itu La Mappaiyyo matinro Ri Lagosi,menjadi Datu Mario Riawa,  Dimana Raja pertamanya  adalah La Botting Langi Datu Tanetelangi, dan raja terakhirnya adalah Datu Mappejanci Merangkap Datu Soppeng XXXVII,

Pada tahun 1906,   pihak Belanda menjadikan Kedatuan Soppeng  menjadi bagian dari pada Afdeling Bone dengan status Onderafdelling Soppeng ,Kerajaan Marioriawa sebagai anggota Konfedarasi/Persekutuan Kedatuan Soppeng tidak mengalami perubahan berikut 3 Pabbica dan Matoa nya

Pada tahun 1923 pada masa A.J.L Couvreur menjadi Gubernur di Sulawesi Selatan, memberikan kekuasaan zelfbestuur (Swapraja) kepada Raja Bone, Raja Soppeng, dan Raja Wajo yang membawahi beberapa distrik dan onderdistrik., Maka Khusus pada Onderafdelling Soppeng wilayahnya dibagi menjadi 7 persekutuan adat dengan status distrik, dan  salah satunya Distriknya adalah Marioriawa.Dalam penataan ini Kerajaan Marioriawa ikut mengalami perubahan. Kerajaan Marioriawa yang dahulu merupakan anggota Kofedarasi / Persekutuan Kedatuan Soppeng berubah menjadi Wilayah Kesatuan Kerajaan dengan status Distrik.

Wilayah daerah yang diperintah langsung oleh kerajaan Marioriawa . sebagai berikut: Kampung Padali,  Kampung Lompoe,  Kampung Taluma Kaca ,Kampung Penre ,Kampung Tanete  Kampung Batu-Batu , Kampung Malumpe  Kampung Welonge  Kampung Bera,, Kampung Poro/Mario, Kampung Kajuara, Kampung Panincong dan Kampung Kawerang,

Pada tanggal 13 Maret 1957, daerah Soppeng menjadi daereh otonom Tingkat II Kabupaten Soppeng sekaligus pelantikan kepala daerah yang pertama yaitu Datu Haji Andi Wana dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. P.7/2/24 Tanggal 8 Februari 1957.

Pada  tahun 1959,   Kedatuan Marioriawa dibekukan dan berubah nama menjadi Kecamatan Marioriawa, sehingga , status kerajaan Marioriawa pun ikut berubah menjadi Kecamatan Mario Riawa dengan ibu kota batu batu.

 

Situs yang ada dikecamatan mario Riawa adalah Kompleks Pekuburan Raja Manio riawa di jaraE Madining, JaraE Panci, Objek Wisata Permandian Air Panas Lejja, Kompleks Rumah Adat Sao Mario

 

Nama-Nama Raja yang pernah memimpin Kerajaan (Akkarungeng) Marioriawa yang ketersambungan nasab dengan wasobo  adalah

 

1. La Mappaiyyo matinro Ri Lagosi,menjadi Datu Mario Riawa, lahirlah I Sitti menikah dengan Baso Mallarangen lahirlah  I Marangi Wija arung SERING menikah dengan la Tokko wijanna La Mataesso Sulle Datu soppeng lahirlah H.A.Babba Petta Pabbicara Soppeng Lahirlah H.A.Bali  Lahirlah H.A,Bennu Pajjawa lahirlah H.A.Ati Bennu Lahirlah A,Bataria Pasong

2. La Makkarakalangi Baso Tancung (Tancung) Datu (Raja) Marioriawa menikah dengan Idulu datu Mario lahir Latelleng  datu marioriawa menikah I Jai Arung Kalola (anak dari  La Wawo addatuang Sidenreng IX arung Tempe Arung Maiwa,Arung Berru X matinroe ri soreang  dengan I Bubeng Arung Kalola dan saudara dari la pasanrangi Muh arase arung malolo sidenreng) melahirkan anak bernama We Pada Datu Marioriawa ( ibu La Malleleang dari ibunya) 

3. We Pada Datu Marioriawa, dengan La Mappatola Datu Bakke melahirkan beberapa anak antara lain  La Malleleang Datu Mario Riawa

4. La Malleleang Datu Mario Riawa di kebumikan di jaraE Batu Batu pekuburan Petta Janggo,di La Malleleang menikah I duddu lahirlah Andi Pance petta lolo pance Matoa Bakke lahirlah A.Mallawi lahirlah A.Nanna Lahirlah saya

5. Dan setelah andi Mungkace yang meruapakan cucu juga dari La Malleleang menjadi Datu Mario riawa  berikut Datu Mario sampai akhir terakhir

1. Andi Mangkona Datu Marioriawa Petta Arung Matoa (Raja) Wajo ke-45 periode 1933-1949 kemudian menikah dengan Andi Addiluwu (Datu Addi') Datu Watu dan mempunyai anak bernamaAndi Muhammad Arsad (Datu Sade’) Datu Marioriawa

2. Andi Muhammad Arsad (Datu Sade’) Datu Marioriawa

3. Andi Galibe Datu Marioriawa (Datu Soppeng XXXVI)

4. Andi Mappejanci Datu Marioriawa Merangkap Datu Soppeng XXXVII

Siapakah La Mallelleang?

Beliau adalah anak dari pasangan La Mapatola Datu Bakke dengan We pada Datu Marioriawa , beliau mengambil akkarungen dari ibu belaiu yakni We Pada Datu Mario riawa


Siapakah ibu beliau

La Mallaleang Bin We Pada  Datu Marioriawa Binti Latelleng Datu Mario riawa  Bin La Makkaraka Langi Baso Tancung Datu Marioriawa

La Mallaleang Bin We Pada  Datu Marioriawa  Binti I JAE ARUNG KALOLA BINTI PASANGAN I BUBENG ARUNG KALOLA dengan  La Wawo addatuang Sidenreng IX arung Tempe Arung Maiwa,Arung Berru X  matinroe ri soreang  BINTI PASANGAN  I WALE DAENG RISOMPA DATU BAKKE  dengan LAPASAUNG AR KALOLA binti LA PATTIWARE TENRI PEPPANG DG PALIWENG PETTA MATINROE RISABBANG PARU PAJUNG LUWUK KE 27 Dengan I WAKKANG BATARI TOJA DAENG MATANNA OPU DATU BAKKE 

Di mana orang tua  La Pattiware adalah pasangan La KasEng To Sibengngareng Petta MatinroE ri Kaluku BodoE Raja/Pajung Luwu ke-25 and Isaoda Arung Pacciro 

Sementara I WAKKANG BATARI TOJA DAENG MATANNA OPU DATU BAKKE adalah anak pasangan  La Mallarangeng To Samallangi Datu Lompulle Datu Mario Riwawo, ' and We Tenri Leleang Petta Matinroe ri Soreang pajung ri Luwu ke-24 & 26, ( 1748 - 1778 M )

Turunan La Malleleang (Putra Putri Datu Malleleang)

dari beberapa istri maka lahirlah :

Andi Baso Panincong Datu Panincong, Andi Bumbeng / We Bube Datu Panincong, Andi Makkaraka Datu Bakke, Datu liu, Arung Bettempola ke27, Hj.Andi Sompa Datu Kalola, Andi Tenri  Datu Liu,Andi Mangkona, Andi Kadu, Andi Kumba, Andi Tarawu, Andi Pance, Andi Patellongi, Andi Celleng, Andi Rombe

La Malleleang  menikah I duddu ( Orang Lamuru) Lahirlah A.Pance petta lolo pance sulewatang Bakke

Petta Pance mempunya 5( lima Istri) Istri yakni:

1. Orang Takkalasi Madello (Barru) mempunyai 1 (satu) anak   Andi Ma'rifa

2. Orang Fenre (Batu Batu) mempunyai 1 (satu) anak yakni  Andi Mappenedding

3. Orang Liu  :mempunyai 6 (enam) anak yakni Andi Hakim,  Andi Mallawi,Andi Rabbana,  Andi Amba,  andi Amira,  Andi Haruna

4. Orang Madining (Batu Batu)  mempunyai 1 (satu) anak yakni  H.A.Aras ( pernah menjadi Sulewatang Batu Batu) xxxxx

5. Orang Ganra (Bakke) : mempunyai 4 (empat) anak yakni  Hj.Andi Hadera, Hj. Andi Tekke, Andi Kampe, Hj.Andi Tuo

Petta Lolo Pance menikah dengan A.Hajju bint A.Sagala bin Manyoro ri Liu bin La semmalangi datu cilellang bin Isao Arung Liu, Binti La sappaine Cakkuridi wajo arung liu lahirlah A.Mallawi, A.mallawi  menikah dengan Ijantahera Manyoro Paleppang bin Kapitang Walinga  wijanna Baso maddetia Puang Nge laureng lahirlah akni Alm Hj Andi Sederhana, Alm H,Andi Muhtar, Alm A,Nanna, dan A.Munawar

A,Nanna menikah dengan H.A.mattalatta  dari rumpun petta Penrang dan sulewatang Lare  lahirlah A.Rosmianti dan  Andi Makkaraka

A, Makkaraka Menikah Hj Andi Batria Pasong  lahirlah A.althaf B makkaraka.

Catatan dari Silaturahim Lapabbenteng Petta Bampe di Mare

Catatan dari Silaturahim Lapabbenteng Petta Bampe di Mare

Ada getaran tersendiri saat kita melangkah masuk ke dalam sebuah ruang yang dipenuhi oleh jalinan sejarah masa lalu. Bagi saya pribadi, saya bukanlah bagian dari rumpun darah Lapabbenteng Petta Bampe. Namun, takdir mempertemukan saya dengan istri, yang merupakan generasi keenam dari sang tokoh. Hari itu, Selasa, 7 Mei 2022, bertempat di Mare, sebuah perhelatan akbar digelar. Silaturahim akbar ini menjadi magnet yang menarik kembali garis-garis keturunan yang sempat terpencar, mulai dari generasi keempat hingga generasi ketujuh, untuk kembali duduk bersama dalam satu tongkonan spiritual.

Perjalanan kami dimulai pagi-pagi sekali. Kami berlima memulai start dari Maroangin, Pammana. Di dalam mobil, selain saya dan istri, ada ayah saya (Ettaku) serta  buah hati kami, Althaf dan Reivan. Bagi putra kami, perjalanan ini adalah napak tilas yang sangat penting, karena di dalam nadi mereka mengalir darah generasi ketujuh dari Petta Bampe. Sepanjang jalan menuju Mare, terselip harapan untuk melihat bagaimana besarnya rumpun keluarga ini ketika berkumpul.

Namun, setibanya kami di lokasi acara, suasana baruga masih terasa lengang. Ruangan luas itu belum sepenuhnya terisi, menyisakan gema langkah kaki kami yang datang terlalu awal. Di dalam baruga, tampak Puang Suradi Petta Sanrang sudah bersiap. Beliau adalah sepupu sekali dari mertua saya, Andi Tajuddin Pasong Petta Rani. Dengan sigap dan penuh kehangatan, Puang Suradi sudah mulai mengarahkan beberapa peserta yang hadir untuk berfoto bersama berdasarkan sub-rumpun masing-masing, sebuah upaya awal untuk merapikan dokumentasi silsilah yang rumit ini. Tak lama berselang, sosok Puang Momo Petta Lolo pun muncul, menambah kehangatan di pagi yang masih sepi itu.

Melihat beberapa kerabat mulai berdatangan, istri saya, Andi Batari Pasong Petta Sennang, bagaikan menemukan dunianya. Naluri kerinduannya membuncah, dan ia langsung berkeliling baruga, menyapa dari satu meja ke meja lain demi mencari dan menyambung kembali simpul keluarga yang lama tak bersua. Sementara istri saya asyik bernostalgia, saya memilih duduk membisu bersama Althaf. Untuk mengusir rasa canggung dan sepi, saya mengaktifkan kamera Android di tangan. Lensa ponsel saya berselancar ke segala sudut, merekam detail demi detail, ekspresi demi ekspresi, menjadikannya sebuah dokumentasi visual dari momen bersejarah ini.

Dari balik lensa kamera, ingatan saya mencoba merekam wajah-wajah yang hadir. Memang tidak sampai puluhan yang berhasil saya kenal secara mendalam, namun beberapa figur begitu membekas. Ada Petta Daya yang sudah saya kenal sejak awal, lalu ada Andi/Maseelomo Petta Lolo beserta kakaknya. Tampak pula hadir dari Sinjai,  Petta Ile yang merupakan sepupu dari mertua,. Di sudut lain, kesibukan panitia terlihat jelas lewat koordinasi sang Ketua Panitia bersama Bendahara, Puang Cumi. Saya juga melihat Andi Bustang, sosok yang saya kagumi dan saya anggap sebagai "Lontara Berjalan"-nya rumpun Petta Bampe. Saya pertama kali mengenal beliau saat pertemuan pra-acara bulan Maret lalu di Mare. Hadir pula Puang Hasan Ambarala, mengingatkan saya pada momen pertemuan perdana pembentukan grup WhatsApp keluarga yang diinisiasi oleh Andi Irsan Rukka.

Waktu terus bergulir, baruga mulai padat, dan acara resmi pun dibuka oleh protokol yang dipandu dengan apik oleh MC Lantunan ayat suci Al-Qur'an kemudian berkumandang, membawa keteduhan di dalam ruangan, yang langsung disambut dengan petuah bijak dalam hikmah Halal Bi Halal oleh Ustadz. Suasana takzim berganti riuh rendah tepuk tangan saat Ketua Panitia memberikan sambutannya, melaporkan kerja keras di balik layar hingga acara ini bisa terwujud.

Salah satu sesi yang paling menarik bagi saya adalah saat penjelasan singkat mengenai sosok Lapabbenteng yang dibawakan oleh Andi Suradi Petta Sanrang. Lewat untaian kalimatnya, sejarah seolah hidup kembali. Estafet sambutan kemudian dilanjutkan oleh Andi Amrad, dan disusul oleh perwakilan dari Anggota DPRD Bone yang juga merupakan wija Sulewatang Macege. Puncaknya, Dr. Andi Ilham Samallangi tampil mengurai silsilah dan makna persaudaraan ini secara mendalam, memberikan pemahaman baru bagi generasi muda yang hadir tentang betapa besarnya tanggung jawab menjaga nama baik leluhur.

Setelah rangkaian sambutan yang padat, tibalah waktu yang paling dinanti: Istirahat, Sholat, dan Makan (Ishoma). Inilah momen di mana janji manis istri saya terbukti. Jauh-jauh hari sebelum ke Mare, ia selalu mempromosikan "Lawa Udang" sebagai menu andalan yang wajib dicoba, sebuah taktik marketing personal yang sukses membuat saya penasaran. Benar saja, saat hidangan disajikan bersama kue-kue tradisional (Desa Ankue), kelezatan kuliner khas Mare ini langsung memanjakan lidah. Suasana makan bersama ini terasa begitu akrab, meruntuhkan sekat jarak dan waktu.

Sayangnya, kebersamaan kami di baruga harus berakhir lebih cepat. Sebelum seluruh rangkaian acara benar-benar selesai, kami sekeluarga sudah harus bergegas mengemas barang untuk kembali ke Sengkang. Langkah kami terburu oleh waktu karena pada hari yang sama, sebuah undangan penting telah menanti di Saoraja Bulu Sengkang, yaitu acara aqiqahan cucu dari Puang Datu Tenri Ebe dan Puang Datu Baso Mungkace. Agenda yang berhimpitan ini memaksa kami mengurungkan niat awal.

Padahal, rencana awal kami sangat ingin bermalam dan menikmati atmosfer Mare lebih lama. Dinamika perjalanan keluarga kami minggu itu memang luar biasa padat; sehari sebelum bertolak ke Mare, kami juga baru saja menghadiri pertemuan Wija keluarga Sulewatang Lare di Pammana. Meskipun lelah fisik mendera dan waktu terasa begitu singkat, ada kepuasan batin yang tak ternilai. Perjalanan ini bukan sekadar menghadiri seremonial, melainkan sebuah pembuktian bahwa sejauh apa pun melangkah, akar sejarah dan silaturahim keluarga akan selalu menjadi tempat kita untuk pulang dan berkaca.


semoga Wija Petta Bampe dalam Kekompakan aamiin.