Menjemput yang Berserak, Merajut yang Terpisah: Kilas Balik Gagasan Awal Silaturahim Rumpun Datu Malleleang
Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil. Bagi saya pribadi, kedekatan yang erat dengan Keluarga Besar Datu Malleleang baru benar-benar terajut intens dalam lima tahun terakhir. Jarak geografis saat saya harus berdinas dan menetap di Kota Ambon justru menjadi pemantik awal. Bermula dari interaksi di media sosial, ruang rindu itu menemukan wadah nyatanya melalui pertemuan rutin bulanan Arisan Keluarga yang kita kenal dengan semangat "Taro Ada Taro Gau".
Di balik riuhnya tawa dan kehangatan arisan tersebut, sebuah gagasan besar perlahan mulai menyala.
Percikan Ide dan Restu Para Senior
Setiap kali hadir di arisan, pendiri WhatsApp Group Taro Ada Gau, Petta Andi Idil Fitri Meru, kerap menyambung dan menyuarakan kembali gagasan dari Petta Andi Sultan Makkarateng. Sebuah ide mulia untuk mengumpulkan seluruh keturunan Datu Malleleang dalam sebuah pertemuan akbar.
Saya masih ingat betul momen ketika Petta Andi Sultan Makkarateng menelepon saya langsung saat saya sedang berada di ruang tunggu Airport Sultan Hasanuddin.
"Setuju, Pung. Namun perlu mungkin kita komunikasikan lebih lanjut dengan keluarga yang lebih senior," ujar saya memberikan dukungan penuh, namun tetap mengedepankan tata krama.
Langkah taktis pun dimulai. Menindaklanjuti usulan di Facebook, Andi Agil Sukiman berinisiatif membentuk WhatsApp Group pada tanggal 8 Juli 2022 untuk mempermudah koordinasi. Namun jauh sebelum grup itu lahir, benih rencana ini sebenarnya sudah mulai dimatangkan secara resmi pada pertemuan arisan di rumah H. Andi Ilham Hattas sekitar tanggal 9 Oktober 2021, tepat ketika pemerintah mulai melonggarkan aturan PSBB.
Sebagai generasi keempat sekaligus salah satu yang termuda di tengah-tengah rumpun keluarga saat itu, posisi saya jelas: mendukung penuh dan siap bergerak di belakang layar. Saya selalu memegang prinsip hidup: boleh pintar tapi jangan menggurui, boleh cepat asal jangan mendahului yang lebih senior. Kecuali jika hal tersebut sudah menjadi tugas dan tanggung jawab yang diamanahkan, maka pantang bagi saya untuk tidak serius. Dari sinilah kemudian grup WA Team KB Datu Malleleang resmi dibentuk.
Ikhtiar yang Tertunda dari Sengkang hingga Soppeng
Merajut sebuah pertemuan keluarga besar tentu bukan perkara instan. Gagasan awal untuk mengadakan wisata keluarga Datu Malleleang di Pantai Biru sempat menemui jalan buntu dan belum bisa terlaksana.
Semangat itu tidak padam. Pada tanggal 13 November 2021—sehari sebelum perhelatan MARS dan ARMAWA di Atakkae—pertemuan keluarga kembali digelar di Saoraja Bulu, Sengkang. Pertemuan sakral itu dihadiri oleh para sesepuh kita: Pung Datu Baso Mungkace, Pung Datu Tebba, Pung Datu Tenri Bali Sunra, Pung Datu Manutte, Pung Datu Sompa, serta Petta Fitri Meru. Sayang sekali, karena adanya agenda penting yang bertepatan, saya terpaksa berhalangan hadir.
Hasil dari Saoraja Bulu memutuskan untuk melaksanakan pertemuan di Sao Mario, Kabupaten Soppeng. Namun lagi-lagi, kesibukan masing-masing membuat rencana ini sempat "tertidur" selama hampir satu tahun.
Garis Tangan di Sudiang dan Amanah dari Malino
Titik balik itu akhirnya tiba pada tanggal 4 September 2022. Dalam acara Arisan Silaturahim yang diasuh langsung oleh Pung Datu Pada Mungkace di kediaman Petta Bau Rawe di Permata Sudiang Raya, gagasan yang sempat tertunda itu kembali ditiupkan. Hadir pula saat itu tokoh senior kita, Pung Prof. Husni Tanra.
Ketika Petta Fitri Meru dan Pung Bau Denrawalie kembali mengusulkan rencana pertemuan keluarga Datu Malleleang, Pung Prof. Husni Tanra menyambutnya dengan sangat antusias. Beliau bahkan langsung menawarkan villa pribadinya di Malino sebagai tempat pertemuan untuk membicarakan teknis pelaksanaan.
Menariknya, sore itu yang beruntung naik arisannya adalah Petta Fitri dan saya sendiri. Sebuah kebetulan? Saya rasa tidak. Ini adalah cara alam dan ketetapan Allah SWT untuk mendekatkan kami pada amanah ini.
Namun, manusia hanya bisa berencana, ketetapan Allah-lah yang berlaku. Sekitar dua pekan sebelum acara Malino digelar, Petta Fitri mendadak harus dimutasi ke Bualemo, Gorontalo. Kehilangan salah satu motor penggerak utama di saat-saat krusial tentu menjadi tantangan tersendiri.
Tiga Serangkai di Rumah Pung Husni Tanra
Tanggal 6 Oktober 2022, Pung Prof. Husni Tanra menelepon kami untuk segera merapatkan barisan membicarakan urusan teknis. Hari itu, bertempat di kediaman beliau, kami bertiga berkumpul: Pung Bau Wentri, Pung Bau Denrawalie, dan saya sendiri (tanpa Petta Fitri yang sudah berada di Gorontalo).
Di ruang tamu itulah, amanah kerja besar ini dibagi secara adil:
Pung Bau Wentri diamanahkan memegang komando bagian konsumsi.
Pung Bau Denrawalie bertanggung jawab penuh pada mobilisasi keluarga.
Saya sendiri dipercayakan untuk meramu seluruh rangkaian acara.
Dengan waktu yang sangat mepet, saya mencoba meramu konsep pertemuan ini agar tidak kaku, maka lahirlah konsep "Wisata Family Datu Malleleang". Sebuah konsep yang memadukan hangatnya silaturahim rindu dengan segarnya rekreasi keluarga.
Dan sejarah akhirnya mencatat, lewat kerja keras, keikhlasan, dan restu para leluhur serta sesepuh, agenda monumental tersebut berhasil kita laksanakan dengan penuh haru dan bahagia selama dua hari, tepat pada tanggal 8 – 9 Oktober 2022. Sebuah awal dari babak baru perjalanan rumpun keluarga kita yang akan terus kita ceritakan kepada anak cucu kelak.
Menjemput Amanah: Gagasan Awal di Balik Layar Silaturahmi Akbar
Pertemuan Malino hari itu bukan sekadar tempat berkumpul dan menikmati udara sejuk pegunungan. Bagi saya, momen tersebut menjadi titik balik sebuah tanggung jawab besar. Di tengah rembuk keluarga, sebuah amanah besar diletakkan di pundak kami. Pung Bau Wentri dipercaya sebagai bendahara, Pung Bau Denrawalie sebagai sekretaris, dan Pung Gegge diamanahkan menjadi koordinator untuk wilayah Soppeng.
Lalu, bagaimana dengan saya? Nama saya ditunjuk sebagai Ketua Panitia.
Sejujurnya, saat riuh kesepakatan itu menggema, ego dan logika saya belum berjalan seiringan. Saya belum mengiyakan secara tegas. Belum ada kata "SIAP" yang keluar dari lisan saya. Ada keraguan yang menggelitik: Lagipula, saya tahu betul ada rentetan diskusi dan pertemuan yang sudah berjalan sebelum momen Malino ini. Saya tidak ingin melangkah tanpa memikirkan kesinambungan yang sudah dibangun sebelumnya.
Sebuah Telepon dan Titik Temu
Sehari setelah riuh Malino mereda, sebuah panggilan masuk di ponsel saya. Di seberang telepon adalah sosok yang sangat kami tuakan dan hormati dalam lingkaran keluarga besar—yang sengaja tidak saya sebutkan namanya di sini demi menjaga takzim. Beliau menanyakan bagaimana pandangan saya mengenai hasil pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Mengingat dinamika yang ada, saya mencoba memberikan sebuah tawaran solusi.
"Bagaimana kalau konsepnya digabung saja, Pung? Saya siap mem-backup dan menyokong penuh kepanitiaan yang sudah terbentuk sebelumnya," ujar saya saat itu. Bagi saya, kebersamaan jauh lebih penting daripada sekadar pembagian jabatan.
Namun, garis cerita rupanya punya jalurnya sendiri. Keesokan harinya, beliau kembali menghubungi saya. Kali ini dengan nada yang lebih mantap dan meyakinkan. Beliau menyampaikan keputusan akhir: Biar kita saja yang memegang tongkat estafet sebagai Ketua Panitia.
Mengubah Arah: Dari Senam Menuju Silaturahmi Akbar
Mendengar ketegasan dan kepercayaan yang begitu besar dari orang tua kita, tidak ada lagi alasan untuk berbalik arah. Rasa ragu berganti menjadi tanggung jawab.
Saat itu juga, saya menarik napas dalam dan menjawab, "Siap, Pung."
Namun, kesiapan saya tentu bukan tanpa syarat. Saya mengajukan sebuah gagasan mendasar yang menjadi fondasi awal gerak panitia ini. Saya meminta dukungan penuh agar orientasi acara ini sedikit digeser fungsinya. Bukan sekadar acara senam atau kumpul-kumpul biasa, melainkan sebuah wadah yang jauh lebih inklusif dan sakral: Silaturahmi Akbar.
Mendengar ide tersebut, beliau langsung memberikan lampu hijau dan dukungan penuh. Kalimat dukungannya hari itu rasanya seperti mendapat "suplemen di siang bolong"—menyuntikkan energi baru yang luar biasa, membakar semangat yang tadinya redup, dan meyakinkan saya bahwa langkah besar ini tidak akan kami lalui sendirian.
Sebuah ide awal telah lahir, amanah telah dijemput, dan perjalanan menyatukan keluarga besar ini pun resmi dimulai.
Di Balik Layar Sao Mario Organizer: Menimbang Rasa, Merajut Komitmen
Dalam setiap gelaran acara besar keluarga, dinamika di balik layar selalu menjadi bagian yang paling kaya akan cerita. Ada diskusi, ada negosiasi, bahkan tidak jarang muncul riak-riak kecil yang justru menguji kedewasaan kita dalam berorganisasi dan menjaga silaturahmi. Cerita ini saya tulis bukan untuk membuka luka, melainkan sebagai pengingat—sebuah catatan agar kita tidak macculu-culu (asal-asalan/sembrono) dalam melangkah di kemudian hari.
Semua bermula ketika beberapa anggota keluarga menghubungi saya secara pribadi melalui WhatsApp. Mereka meminta agar susunan panitia segera dibagikan di grup besar Datu Malleleang. Saat itu, jawaban saya jelas: "Belum ada. Insya Allah akan dishare jika sudah selesai."
Namun, hingga acara berakhir, susunan lengkap itu sengaja tidak saya bagikan di grup keluarga. Ada beberapa pertimbangan matang di balik keputusan tersebut. Saat itu, kepengurusan yang sah memang baru sebatas "Tiga Pilar"—Ketua, Sekretaris, dan Bendahara—yang terbentuk saat pertemuan di Malino.
Ujian Kedewasaan dan "Uneg-Uneg" Keluarga
Di tengah proses berjalan, salah seorang keluarga memberikan masukan yang cukup menohok. Beliau mengusulkan agar posisi Ketua Panitia sebaiknya tidak diamanahkan kepada saya. Alasannya logis dan sangat saya hargai: faktor generasi dan umur. Di mata beliau, saya masih junior, dan amanah ini lebih pantas diberikan kepada yang lebih tua.
Sebagai yang lebih muda, saya tentu paham dan menaruh hormat pada pandangan tersebut. Respons saya saat itu pun sangat terbuka:
"Boleh, silakan hubungi pihak yang sebelumnya menunjuk saya untuk mendiskusikan hal ini."
Namun, dinamika berubah ketika saya menyampaikan uneg-uneg ini kepada pihak penunjuk. Beliau justru memberikan pernyataan tegas: "Jika Andi Makkaraka tidak mau jadi Ketua Panitia, maka lebih baik kita bubarkan saja dan tidak perlu ada kegiatan itu."
Sebuah dilema yang berat. Di satu sisi ada keraguan dari sebagian keluarga, di sisi lain ada amanah mutlak yang harus dijaga. Apalagi, video ajakan silaturahmi dari Pung Husni Tanra sudah terlanjur tersebar luas di media sosial. Mundur jelas bukan pilihan yang bijak. Menariknya, setelah momen itu, tidak ada lagi yang menghubungi saya terkait reposisi ketua.
Safari Keliling Daerah: Mengukur Respons dan Restu
Amanah ini tidak boleh dijalankan dengan ego. Untuk menepis keraguan dan mengukur sejauh mana penerimaan keluarga atas kepanitiaan saya, saya memutuskan untuk melakukan "safari" atau kunjungan langsung ke para sesepuh dan keluarga yang kami tuakan di beberapa daerah:
Bulukumba
Sengkang
Soppeng
Perjalanan ini murni untuk mendengarkan. Saya datang untuk menerima masukan, petuah, dan restu. Alhamdulillah, hasilnya luar biasa. Beliau semua memberikan dukungan penuh sembari menitipkan saran-saran berharga demi kelancaran acara.
Menghidupkan "Sao Mario Organizer"
Berbekal dukungan dari para tetua, langkah taktis segera diambil. Pada tanggal 10 Oktober 2022, saya resmi membentuk grup WhatsApp yang dinamakan Sao Mario Organizer.
Kami bergerak dengan sebuah prinsip dasar yang kuat:
Motto: Siap Melayani, Ikhlaskan Hasilnya Luar Biasa.
Di grup inilah seluruh urusan teknis pelaksanaan dikupas tuntas bersama panitia lainnya. Kami bekerja dalam senyap, fokus pada solusi, bukan pada polemik.
Berbasis Data, Bukan Sekadar Rencana
Untuk memastikan acara ini berjalan terukur dan komitmen kehadiran bisa dipetakan dengan akurat, saya berinisiatif membuat database keluarga. Database ini tidak main-main karena merangkum:
Silsilah/Nasab Keluarga: Agar semua yang hadir tahu persis di mana akar persaudaraannya.
Saran dan Masukan Kegiatan: Aspirasi langsung dari arus bawah.
Saran-saran yang masuk melalui database inilah yang kemudian saya jadikan fondasi utama dalam menyusun agenda acara, menentukan konsep, hingga menyepakati dresscode yang akan digunakan.
Dari perjalanan ini saya belajar, memimpin acara keluarga bukan soal siapa yang paling tua atau siapa yang paling dominan. Ini tentang siapa yang mau melayani dengan sabar, mendengar dengan lapang dada, dan mengeksekusi rencana dengan data dan keikhlasan
PIN: Simbol Identitas dan Dinamika Pemikiran Keluarga Besar Datu Malleleang
Sebuah benda kecil berbentuk PIN terkadang menyimpan cerita yang jauh lebih besar dari wujudnya. Bagi sebagian orang, sepotong PIN mungkin hanyalah aksesori acara formal. Namun, bagi panitia Silaturahmi Akbar Datu Malleleang, proses pengadaan dan penentuan peruntukan PIN ini adalah sebuah perjalanan panjang yang menguras energi, waktu, sekaligus memperkaya ruang diskusi keluarga.
Proses pengadaannya sendiri memakan waktu lebih dari satu bulan. Bukan karena kendala teknis produksinya, melainkan karena sebuah pertanyaan mendasar: "Gambar apa yang paling layak merepresentasikan kita semua di dalam PIN tersebut?"
Menemukan Jiwa dalam Desain: Narasi Sejarah Saoraja Mallangga
Dalam pencarian identitas visual ini, saya harus jujur bahwa sosok Pung Datu Massarasa Datu Tenri adalah orang yang sangat berjasa. Lewat diskusi panjang, baik melalui tatap muka maupun sambungan telepon, beliau terus menekankan satu hal: PIN ini harus mengandung artefak Datu Malleleang, bukan sekadar ada PIN.
Salah satu usulan kuat yang muncul adalah menampilkan gambar Saoraja Mallangga Sengkang.
Awalnya, saya pribadi sempat diselimuti keraguan. Saat itu, saya masih mengira bahwa Saoraja Mallangga sama dengan Saoraja Bettempola. Di saat yang sama, salah satu Pembina juga mengusulkan hal yang sama. Bergerak dari sana, saya mulai menelusuri literatur sejarah pendirian Saoraja Mallangga, mengumpulkan serpihan kisah dari para orang tua, hingga menyaring riwayat yang dituturkan dari mulut ke mulut (fulan ke fulan).
Tentu saja, perjalanan ini tidak mulus. Ada riak-riak kecil; beberapa anggota keluarga sempat menyampaikan ketidaksetujuannya kepada saya. Demi menghormati seluruh pihak, saya kemudian meminta izin langsung kepada perwakilan keluarga Saoraja Mallangga. Respons beliau sangat bijak: "Kalau Pembina setuju, kami juga setuju."
Titik temu akhirnya dicapai dalam rapat panitia via Zoom. Meskipun diskusi berlangsung cukup alot, alhamdulillah, sebuah mufakat besar berhasil diambil: PIN resmi Silaturahmi Akbar akan bergambar Saoraja.
Perdebatan Kedua: PIN Ini untuk Siapa?
Setelah urusan desain selesai dan fisik PIN telah diproduksi, tantangan baru kembali muncul. Kali ini esensinya bergeser ke ranah sosiologis keluarga: Siapa sebenarnya yang berhak mengenakan PIN ini?
Perbedaan pandangan pun mencuat di antara para panitia:
Pandangan Pertama: Beberapa panitia berpendapat bahwa PIN ini eksklusif hanya untuk Wija (keturunan langsung) Datu Malleleang.
Pandangan Kedua: Pihak lain merasa pasangan (suami/istri) juga berhak memakainya. Alasannya, jika sudah menikah, maka mereka sudah melebur menjadi satu keluarga.
Saya pribadi berada pada pandangan pertama. Bagi saya, PIN ini adalah kartu identitas diri yang menegaskan bahwa pemakainya adalah Wija Datu Malleleang. Ada beberapa pertimbangan logis di balik hal ini. Bagaimana jika ada keluarga yang pasangannya lebih dari satu? Bagaimana jika statusnya sudah bercerai—baik cerai hidup maupun mati? Selain itu, pasangan kita yang non-Malleleang juga memiliki nasab tersendiri yang bisa jadi memiliki PIN keluarganya masing-masing.
Di samping alasan identitas, ada fungsi strategis yang mungkin terlewatkan saat itu. Pemesanan PIN adalah barometer utama bagi panitia untuk mengukur keseriusan keluarga dalam menghadiri Silaturahmi Akbar. Angka pemesanan PIN inilah yang saya jadikan standar minimal kuota peserta, yang kemudian dikombinasikan dengan database awal. PIN menjadi pembeda yang jelas di lapangan antara wija dan non-wija.
Menghargai Rasa, Menyambut Masa Depan
Namun, saya sangat memahami bahwa ruang diskusi ini lahir dari niat yang baik. Mereka yang mengusulkan PIN untuk seluruh anggota keluarga (termasuk pasangan) pasti memiliki pertimbangan emosional yang mendalam—salah satunya menjaga perasaan para pasangan. Saya bahkan mendengar kabar bahwa ada beberapa pasangan yang sempat ragu atau enggan hadir hanya karena merasa tidak memiliki PIN tersebut. Fenomena ini menjadi catatan berharga bagi kita semua tentang betapa tingginya rasa ingin memiliki di dalam keluarga ini.
Perbedaan pendapat adalah bukti bahwa keluarga kita hidup dan peduli. Pada akhirnya, riak-riak diskusi inilah yang mendewasakan organisasi kita.
.
Memupuk Keikhlasan, Merajut Kebersamaan: Catatan Di Balik Layar Suksesnya Pertemuan Akbar Keluarga
Berawal dari gagasan hangat saat kami berkumpul di sejuknya Malino, mimpi untuk menyatukan keluarga besar akhirnya mulai menemukan bentuknya. Langkah konkret pertama pun diayunkan. Pertemuan perdana keluarga Makassar resmi digelar di Rumah Makan Seruni, Jalan Bau Mangga, Makassar. Di sanalah, momentum besar ini benar-benar dimulai.
Sebagai bagian dari panitia, saya langsung bergerak cepat menyodorkan list donasi. Menariknya, sempat ada dinamika kecil. Beberapa anggota keluarga merasa kurang nyaman jika nominal atau nama mereka disebut di dalam grup WhatsApp. Namun, saya mencoba meyakinkan mereka dari sudut pandang yang berbeda. Bagi saya, list donasi ini bukan ajang pamer, melainkan bukti nyata bahwa panitia sangat serius dan profesional dalam menggarap perhelatan ini.
Soal keikhlasan? Itu urusan personal antara sang hamba dengan Tuhannya. Kapan pun seseorang memberi karena alasan selain Allah, maka dia sendiri yang rugi. Tugas kita di sini adalah membuka ruang, saling memotivasi, dan mengajak keluarga dalam jalan kebaikan. Alhamdulillah, niat baik ini disambut luar biasa. Dana tunai sebesar 111 juta rupiah berhasil terkumpul dan telah dilaporkan secara transparan.
Berkah Gotong Royong: Dari Satu Hari Menjadi Menginap
Rencana awal kami sebenarnya sangat sederhana: membuat acara satu hari penuh (one-day event). Namun, takdir baik berkata lain ketika restu dan kemudahan demi kemudahan mulai berdatangan.
Berkat lobi dan fasilitasi luar biasa dariPung Datu Tenri Bali Sunra dan Pung datu Pada Mungkace kepada owner Sao Mario, kami mendapatkan kejutan yang luar biasa. Akses masuk, fasilitas penginapan, hingga tari sambutan tradisional semuanya diberikan secara gratis! Karena kemudahan yang tak disangka-sangka ini, panitia akhirnya merombak rencana awal dan sepakat untuk mengubah konsep acara menjadi agenda menginap.
Wujud Cinta Keluarga: Daftar Kontribusi yang Menggetarkan Hati
Melihat daftar partisipasi yang masuk, rasanya dada ini bergemuruh haru. Acara ini bukan milik satu atau dua orang, melainkan mahakarya gotong royong dari seluruh penjuru keluarga.
Berikut adalah wujud nyata sumbangsih dan cinta dari keluarga besar kita yang patut kita apresiasi bersama:
Hidangan Utama: Satu ekor sapi segar yang siap diolah dan dihidangkan, persembahan tulus dari Keluarga Petta H. Andi Meru Kadu.
Identitas & Kebanggaan: Sebuah lagu Mars Datu Malleleang yang sarat makna, diciptakan khusus oleh Drs. Andi Zulbiah, M.Si.
Logistik & Kenyamanan Acara: Dukungan fasilitas berupa 400 Kursi Futura dan 5 Tenda Kerucut dari Sekretaris Daerah (Sekda) Soppeng, Bapak Drs. Andi Bau Tenri Sessu, M.Si. Tak ketinggalan, tambahan 200 kursi lagi disiapkan oleh keluarga Ibu Hj. Andi Bau Citta Mariogi.
Tempat & Fasilitas: Lokasi megah beserta cottage di Sao Mario yang dipinjamkan cuma-cuma, berkat fasilitasi dari owner Sao Mario
Konsumsi & Penyegar:
Kue tradisional Bingka dan Barongko masing-masing sebanyak 250 buah dari Ny. Andi Baharuddin Amin.
200 botol Jus New Izz yang menyegarkan dari Ibu Andi Olle Andi Hamid.
40 dos air mineral untuk menjaga stamina seluruh peserta dari keluarga Bapak Andi Zainal Kampe.
Kue Tradisional Bosara dari Owner Sao mario
Syiarkan Acara (Publikasi):
2 buah baliho besar telah tegak berdiri menyapa warga di Kota Soppeng berkat Bapak Andi Agus Salim, S.STP., M.Si.
1 buah baliho juga telah terpasang gagah di Kota Sengkang oleh Bapak Andi Malleleang.
Akomodasi & Kehangatan Warga: Tidak kurang dari 69 rumah warga telah dibuka lebar dan dipersiapkan dengan hangat sebagai tempat penginapan keluarga yang datang dari jauh.
Melihat list di atas, kita bisa melihat bahwa setiap orang mengambil perannya masing-masing. Ada yang menyumbang materi, tenaga, pikiran, hingga membukakan pintu rumahnya sendiri. Inilah esensi sejati dari sebuah keluarga besar.
Sampai jumpa di lokasi acara! Mari kita jaga kekompakan ini, kita luruskan niat, dan kita sukseskan silaturahmi akbar Datu Malleleang dengan penuh suka cita.
Berikut Rekap Donasi Dalam Bentuk Tunai
Berikut adalah draf narasi blog yang hangat, khidmat, dan menarik untuk dibagikan ke pembaca:
Menjaga Nyala Silsilah, Merajut Asa Bersama: Resmi Terbentuknya IKARDA Mallelang
Momen bersejarah dan penuh kehangatan baru saja terukir dalam lembaran sejarah keluarga besar Datu Mallelang. Berawal dari kerinduan mendalam untuk saling mengeratkan tali darah dan memperkokoh tali persaudaraan, Silaturahmi Akbar Datu Mallelang (SIAME) sukses digelar.
Namun, pertemuan akbar tersebut bukan sekadar ajang melepas rindu. Lebih dari itu, SIAME menjadi pemantik lahirnya sebuah komitmen besar untuk bergerak bersama dalam wadah yang lebih terstruktur dan berdaya guna.
Lahirnya Wadah Pemersatu: IKARDA Mallelang
Melalui musyawarah dan mufakat dalam semangat kekeluargaan yang kental, Silaturahmi Akbar ini resmi melahirkan sebuah organisasi paguyuban yang diberi nama Ikatan Keluarga Datu Mallelang (IKARDA Mallelang).
Kehadiran IKARDA Mallelang diharapkan menjadi jembatan emas yang menghubungkan seluruh keturunan Datu Mallelang di mana pun berada, sekaligus menjadi wadah untuk saling membesarkan, menjaga marwah leluhur, dan berkontribusi positif bagi masyarakat luas.
Nahkoda Baru dan Pengukuhan yang Khidmat
Untuk memimpin roda organisasi paguyuban ini, amanah kepemimpinan dipercayakan kepada Pung Datu Drs. Andi Bau Sangkawana Datu Sangkuru, MM. sebagai Ketua Umum. Di bawah kepemimpinan beliau, IKARDA Mallelang siap melangkah dengan visi yang kuat dan program-program yang menyentuh akar kekeluargaan.
Momen Penting Perjalanan IKARDA Mallelang: Roda organisasi ini resmi berputar setelah dikukuhkan secara khidmat pada 15 Oktober 2023 bertempat di Hotel Four Points by Sheraton, Makassar. Prosesi pengukuhan yang sakral ini dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Penasehat Pung Prof Husni Tanra, menandai legalitas dan kesiapan paguyuban untuk mulai berkiprah.
Melangkah Maju dengan Semangat Sipakatau
Acara pengukuhan yang berlangsung megah namun tetap sarat akan nilai budaya tersebut dihadiri oleh perwakilan keluarga besar dari berbagai daerah. Aura optimisme terpancar jelas, menyiratkan harapan baru agar nilai-nilai luhur, persatuan, dan kepedulian sosial yang diwariskan oleh Datu Mallelang tetap hidup dan lestari di hati generasi penerus.
Selamat atas terbentuknya IKARDA Mallelang dan selamat mengemban amanah kepada Pung Datu Drs. Andi Bau Sangkawana Datu Sangkuru, MM. beserta jajaran pengurus yang telah dikukuhkan.
Taro ada taro gau—mari kita wujudkan esensi silaturahmi ini dalam aksi nyata demi kejayaan keluarga besar Datu Mallelang. SIAME, Ewako!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar