Catatan dari Silaturahim Lapabbenteng Petta Bampe di Mare
Ada getaran tersendiri saat kita melangkah masuk ke dalam sebuah ruang yang dipenuhi oleh jalinan sejarah masa lalu. Bagi saya pribadi, saya bukanlah bagian dari rumpun darah Lapabbenteng Petta Bampe. Namun, takdir mempertemukan saya dengan istri, yang merupakan generasi keenam dari sang tokoh. Hari itu, Selasa, 7 Mei 2022, bertempat di Mare, sebuah perhelatan akbar digelar. Silaturahim akbar ini menjadi magnet yang menarik kembali garis-garis keturunan yang sempat terpencar, mulai dari generasi keempat hingga generasi ketujuh, untuk kembali duduk bersama dalam satu tongkonan spiritual.
Perjalanan kami dimulai pagi-pagi sekali. Kami berlima memulai start dari Maroangin, Pammana. Di dalam mobil, selain saya dan istri, ada ayah saya (Ettaku) serta buah hati kami, Althaf dan Reivan. Bagi putra kami, perjalanan ini adalah napak tilas yang sangat penting, karena di dalam nadi mereka mengalir darah generasi ketujuh dari Petta Bampe. Sepanjang jalan menuju Mare, terselip harapan untuk melihat bagaimana besarnya rumpun keluarga ini ketika berkumpul.
Namun, setibanya kami di lokasi acara, suasana baruga masih terasa lengang. Ruangan luas itu belum sepenuhnya terisi, menyisakan gema langkah kaki kami yang datang terlalu awal. Di dalam baruga, tampak Puang Suradi Petta Sanrang sudah bersiap. Beliau adalah sepupu sekali dari mertua saya, Andi Tajuddin Pasong Petta Rani. Dengan sigap dan penuh kehangatan, Puang Suradi sudah mulai mengarahkan beberapa peserta yang hadir untuk berfoto bersama berdasarkan sub-rumpun masing-masing, sebuah upaya awal untuk merapikan dokumentasi silsilah yang rumit ini. Tak lama berselang, sosok Puang Momo Petta Lolo pun muncul, menambah kehangatan di pagi yang masih sepi itu.
Melihat beberapa kerabat mulai berdatangan, istri saya, Andi Batari Pasong Petta Sennang, bagaikan menemukan dunianya. Naluri kerinduannya membuncah, dan ia langsung berkeliling baruga, menyapa dari satu meja ke meja lain demi mencari dan menyambung kembali simpul keluarga yang lama tak bersua. Sementara istri saya asyik bernostalgia, saya memilih duduk membisu bersama Althaf. Untuk mengusir rasa canggung dan sepi, saya mengaktifkan kamera Android di tangan. Lensa ponsel saya berselancar ke segala sudut, merekam detail demi detail, ekspresi demi ekspresi, menjadikannya sebuah dokumentasi visual dari momen bersejarah ini.
Dari balik lensa kamera, ingatan saya mencoba merekam wajah-wajah yang hadir. Memang tidak sampai puluhan yang berhasil saya kenal secara mendalam, namun beberapa figur begitu membekas. Ada Petta Daya yang sudah saya kenal sejak awal, lalu ada Andi/Maseelomo Petta Lolo beserta kakaknya. Tampak pula hadir dari Sinjai, Petta Ile yang merupakan sepupu dari mertua,. Di sudut lain, kesibukan panitia terlihat jelas lewat koordinasi sang Ketua Panitia bersama Bendahara, Puang Cumi. Saya juga melihat Andi Bustang, sosok yang saya kagumi dan saya anggap sebagai "Lontara Berjalan"-nya rumpun Petta Bampe. Saya pertama kali mengenal beliau saat pertemuan pra-acara bulan Maret lalu di Mare. Hadir pula Puang Hasan Ambarala, mengingatkan saya pada momen pertemuan perdana pembentukan grup WhatsApp keluarga yang diinisiasi oleh Andi Irsan Rukka.
Waktu terus bergulir, baruga mulai padat, dan acara resmi pun dibuka oleh protokol yang dipandu dengan apik oleh MC Lantunan ayat suci Al-Qur'an kemudian berkumandang, membawa keteduhan di dalam ruangan, yang langsung disambut dengan petuah bijak dalam hikmah Halal Bi Halal oleh Ustadz. Suasana takzim berganti riuh rendah tepuk tangan saat Ketua Panitia memberikan sambutannya, melaporkan kerja keras di balik layar hingga acara ini bisa terwujud.
Salah satu sesi yang paling menarik bagi saya adalah saat penjelasan singkat mengenai sosok Lapabbenteng yang dibawakan oleh Andi Suradi Petta Sanrang. Lewat untaian kalimatnya, sejarah seolah hidup kembali. Estafet sambutan kemudian dilanjutkan oleh Andi Amrad, dan disusul oleh perwakilan dari Anggota DPRD Bone yang juga merupakan wija Sulewatang Macege. Puncaknya, Dr. Andi Ilham Samallangi tampil mengurai silsilah dan makna persaudaraan ini secara mendalam, memberikan pemahaman baru bagi generasi muda yang hadir tentang betapa besarnya tanggung jawab menjaga nama baik leluhur.
Setelah rangkaian sambutan yang padat, tibalah waktu yang paling dinanti: Istirahat, Sholat, dan Makan (Ishoma). Inilah momen di mana janji manis istri saya terbukti. Jauh-jauh hari sebelum ke Mare, ia selalu mempromosikan "Lawa Udang" sebagai menu andalan yang wajib dicoba, sebuah taktik marketing personal yang sukses membuat saya penasaran. Benar saja, saat hidangan disajikan bersama kue-kue tradisional (Desa Ankue), kelezatan kuliner khas Mare ini langsung memanjakan lidah. Suasana makan bersama ini terasa begitu akrab, meruntuhkan sekat jarak dan waktu.
Sayangnya, kebersamaan kami di baruga harus berakhir lebih cepat. Sebelum seluruh rangkaian acara benar-benar selesai, kami sekeluarga sudah harus bergegas mengemas barang untuk kembali ke Sengkang. Langkah kami terburu oleh waktu karena pada hari yang sama, sebuah undangan penting telah menanti di Saoraja Bulu Sengkang, yaitu acara aqiqahan cucu dari Puang Datu Tenri Ebe dan Puang Datu Baso Mungkace. Agenda yang berhimpitan ini memaksa kami mengurungkan niat awal.
Padahal, rencana awal kami sangat ingin bermalam dan menikmati atmosfer Mare lebih lama. Dinamika perjalanan keluarga kami minggu itu memang luar biasa padat; sehari sebelum bertolak ke Mare, kami juga baru saja menghadiri pertemuan Wija keluarga Sulewatang Lare di Pammana. Meskipun lelah fisik mendera dan waktu terasa begitu singkat, ada kepuasan batin yang tak ternilai. Perjalanan ini bukan sekadar menghadiri seremonial, melainkan sebuah pembuktian bahwa sejauh apa pun melangkah, akar sejarah dan silaturahim keluarga akan selalu menjadi tempat kita untuk pulang dan berkaca.
semoga Wija Petta Bampe dalam Kekompakan aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar