Pulang dalam Dekapan Takdir: Sebuah Memoar untuk Pappi (Ir. H. Andi Tajuddin Pasong)
Setiap orang punya satu hari dalam hidupnya di mana waktu seakan berhenti berputar. Bagi saya, hari itu adalah Senin, 8 Agustus 2016.
Sore itu, jarum jam menunjukkan pukul 14.30 WITA. Atmosfer di dalam salah satu ruang rapat kantor PLN UIP Nusa Tenggara, Jl. Pendidikan, Mataram, terasa begitu intens. Kami—seluruh tim dan koordinator Auditor SPI Regional 16 Sulawesi Nusa Tenggara—sedang berada di titik krusial: finalisasi laporan keuangan.
Di tengah fokus yang tercurah penuh pada angka dan berkas, ponsel di saku saya bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Istriku.
Satu kali tidak terjawab. Dua kali. Hingga tiga kali.
Pekerjaan yang tanggung membuat saya sempat menundanya. Namun, ketika panggilan keempat masuk, firasat saya mendadak tak enak. Begitu tombol hijau saya geser, suara di seberang sana pecah. Istri saya menangis tersedu-sedu. Di antara isaknya, sebuah kabar yang meruntuhkan hati itu tersampaikan: Pappi—sapaan hangat anak-anak kepada mertua saya, Ir. H. Andi Tajuddin Pasong Petta Rani—telah berpulang ke rahmatullah di Rumah Sakit Tentara Bone.
Seketika itu juga, konsentrasi saya buyar. Angka-angka di layar monitor mendadak buram. Beruntung, koordinator tim kami, Pak Deni, sangat memahami situasi. Beliau langsung mengizinkan saya untuk berangkat ke Makassar hari itu juga.
Perjalanan Panjang yang Menguji Kesabaran
Mengejar waktu di saat genting ternyata tidak pernah mudah. Tiket penerbangan langsung (direct) dari Mataram ke Makassar sudah habis tak bersisa. Tidak ada pilihan lain, saya harus menempuh jalur transit via Jakarta.
Malam itu, saya terbang menggunakan Citilink QG-961 menuju Bandara Soekarno-Hatta. Dari Ibu Kota, perjalanan dilanjutkan ke Makassar menggunakan Batik Air ID-6196 yang lepas landas pukul 23.30 WIB.
Selasa, 9 Agustus 2016, pukul 03.00 WITA, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Di luar, kakak saya, Andi Rosmiyanti, sudah bersiap menjemput dengan mobil Innova-nya, ditemani supir bernama Bapaknya Bambang. Di dalam mobil, ternyata sudah berkumpul sepupu dan tante dari bapak saya: Andi Kartini, Andi Soji Petta Sanna, dan Andi Kastina—mereka yang selama ini tinggal serumah dengan kami di Aroepala.
Kami langsung membelah malam menuju Watampone. Perjalanan ini dipenuhi lelah dan pacuan waktu. Kami hanya sempat berhenti sejenak untuk salat Subuh di daerah perbukitan Mallawa dan sarapan di dekat Terminal Macanang.
Namun, ujian belum selesai. Di tengah duka dan rasa lelah yang menggelayut, kami sempat tersasar jauh ke arah Sinjai. Dua jam waktu berharga terbuang percuma di jalanan. Ada rasa berkecamuk di dalam dada, takut jika saya tidak sempat menatap wajah beliau untuk terakhir kalinya.
Menahan Air Mata demi Ketegaran Bersama
Pukul 09.00 WITA, kami akhirnya tiba di rumah duka. Saya langsung melangkah menuju tempat jenazah disemayamkan. Di sana, istri saya telah setia mendampingi bersama adik bungsunya, Andi Muqsit Pasong.
Melihat pemandangan itu, dada saya terasa sesak. Namun, saya berupaya sekuat tenaga, mengunci rapat-rapat pertahanan diri agar tidak mengeluarkan air mata. Saya tahu, sebagai menantu dan pria yang mendampingi istri saat itu, saya harus kuat. Jika benteng pertahanan saya runtuh, maka rombongan yang mengantar saya bisa ikut hanyut dalam banjir air mata.
Selama perjalanan panjang dari Mataram hingga Watampone, gawai saya tidak berhenti bergetar. Ucapan bela sungkawa mengalir deras dari Grup WhatsApp Paleppang dan teman-teman di Facebook. Telepon dari sepupu saya, Ir. H. Andi Saharuddin dan A. Muh. Ivan Muchtar, serta paman saya, Andi Munawar Mallawi yang berada di Bone, terus berdatangan. Di tengah jalan, saya juga mengabari Etta (Ayah) saya di Pammana, menyampaikan kabar duka bahwa besannya telah tiada.
Sepanjang jalan, mata ini tak bisa terpejam. Memori saya justru berputar mundur, mereview kembali episode-episode kehidupan bersama sang mertua. Meskipun saya baru resmi bergabung dalam keluarga besar ini pada 26 Maret 2016—dan kami tidak tinggal serumah—kebaikan beliau tertanam sangat dalam di hati saya.
Saya teringat bagaimana proses lamaran dahulu berjalan begitu hangat, penuh kemudahan, dan tidak berbelit-belit. Beliau pun selalu perhatian, kerap memantau kondisi kami yang sedang berjuang di tanah rantauan. Mengenang itu semua, tanpa sadar, setetes air mata jatuh juga di pipi saya. Air mata penyesalan mengapa perjumpaan ini begitu singkat, atau mungkin air mata kehilangan atas sosok yang begitu bersahaja.
Penghormatan Terakhir dari Keluarga dan Sahabat
Rumah duka telah dipadati oleh kerabat yang datang dari berbagai penjuru. Ada keluarga dari Balikpapan (saudara kandung almarhum, H. Andi Bahrun Pasong Petta Lolo dan Andi Abd. Gaffar Pasong Petta Longi), anak tertua almarhum, Andi Sri Irtawaty bersama suaminya Andi Agus Djaya Indra dan si bungsu Andi Farzan Ahsa Argany, serta keponakan Andi Iin Bahrun bersama suami.
Tak ketinggalan keluarga dari Bone Selatan (Mare, Salomekko, dan sekitarnya), Makassar, Sengkang, Soppeng, serta keluarga besar di Bone sendiri.
Di sana, teman-teman dari Wahdah Islamiyah Cabang Bone sudah bersiap dengan sigap untuk mengurus penyelenggaraan jenazah. Atas permintaan dari Andi Suriadi Petta Sanrang dan keterwakilan keluarga lainnya, saya dipercayakan sebuah tanggung jawab besar sekaligus terhormat: menyusun dan membacakan riwayat hidup (biografi) almarhum, baik dalam rekam jejak karier maupun silsilah keluarga.
Setelah mendapat kabar dari lokasi pemakaman bahwa penggalian liang lahat telah selesai, jenazah Pappi dimandikan secara khidmat. Ba'da Zuhur, jenazah disalatkan di Masjid Al-Hikmah, dipimpin oleh Drs. Muh. Patang dari Soppeng. Sebuah tempat yang emosional, karena almarhum semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus dan terakhir sebagai Penasihat di masjid tersebut. Almarhum kemudian diantarkan ke peristirahatan terakhirnya di Pemakaman Macanang.
Selesai pemakaman, kami dipersilakan menyantap makan siang yang telah disiapkan oleh Divisi Sosial Wahdah Islamiyah Cabang Bone. Dedikasi mereka luar biasa; bahkan sejak malam sebelumnya, kebutuhan konsumsi keluarga sudah diakomodasi oleh mereka. Hal ini tak lepas dari peran anak kedua almarhum yang memang aktif berkhidmat di ormas ini sejak masa kuliah hingga kini memiliki 5 anak.
Dari lubuk hati yang paling dalam, saya sekeluarga mengucapkan:
"Jazakumullah khairan katsiran kepada segenap keluarga, handai taulan, dan terkhusus kepada keluarga besar Wahdah Islamiyah Bone (Ust. Irfan, Dr. Sabaruddin, Ust. Ramadhan, Ust. Erik, serta seluruh Tim Penyelenggaraan Jenazah) atas segala partisipasi dan bantuannya sehingga seluruh prosesi berjalan lancar."
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ir. H. Andi Tajuddin Pasong
Untuk mengenang kembali siapa beliau, berikut adalah catatan riwayat hidup dan silsilah luhur yang mengalir dalam darah almarhum:
Profil & Karakter
Beliau lahir di Bone pada tanggal 13 Maret 1948 (catatan: disesuaikan dari teks asli 2016 agar sinkron dengan usia pensiun/karier), dari pasangan Andi Pasong Petta Naba dan Hj. Andi Amina Petta Intang. Beliau merupakan anak ketiga dari sebelas bersaudara. Ayah beliau adalah seorang pendidik yang pernah menjabat sebagai Kepala P&K Kabupaten Bone serta Kepala Dolog Bone (dulu disebut Kepala YBPP). Dari didikan sang ayah, almarhum tumbuh menjadi sosok yang supel, ramah, karismatik, dan sangat peduli terhadap keadaan keluarga, baik kepada anak-anak maupun saudara-saudaranya.
Garis Silsilah (Sanad Luhur)
Almarhum lahir dari garis keturunan bangsawan Bugis yang mengakar kuat:
Sanad dari Ayah: Ir. H. Andi Tajuddin Bin Andi Pasong Petta Naba Bin Andi Mangussara Petta Sanrang Arung Pattiro Bin La Tolleng Petta Mala Bin I Tette Petta Lanre Binti I Mangking Petta Cenning Binti Lannacong Matinroe ri Lappa Pattiro Bin I Balele Datu Ulaweng Binti La Patau Datu Soppeng Matinroe ri Nagauleng.
Sanad dari Ibu: Ir. H. Andi Tajuddin Bin Hj. Andi Amina Binti Andi Pangeran Petta Riu Arung Nipa Bin Palingei Petta Puji Arung Raja Bin Ma'gumpelle Arung Bulu Tana Bin La Sura Arung Kampuno Bin I Uba Datu Ulaweng Binti La Patau Mangkau Bone.
Riwayat Pendidikan
SD Latihan Watampone
SMPN 1 Watampone (Lulus 1962)
SMAN 1 Watampone (Lulus 1965)
Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas) (Tahun 1968)
Rekam Jejak Karier
Sebagai seorang abdi negara di bidang peternakan, dedikasi beliau sangat dirasakan oleh masyarakat, di antaranya pernah menjabat sebagai:
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Pinrang
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bone (Hingga purnabakti tahun 2006)
Keluarga Besar Almarhum
Almarhum didampingi oleh seorang istri yang setia, Dra. Hj. Andi Gusti Bennu Petta Cenning (putri dari Alm. H. Andi Bennu Pajjawa dan Almh. Hj. Andi Marka Mappe). Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai anak, menantu, dan cucu yang melanjutkan estafet kebaikan beliau:
Hj. Andi Sri Irtawaty Pasong, ST., MM. (Petta Bidadari), menikah dengan H. Andi Agus Djaya Indra (2 anak).
Hj. Andi Nur Azizah Pasong, S.Si., Apt. (Petta Sugi), menikah dengan H. Andi Santiajji Arifin, ST. (5 anak).
Hj. Andi Bataria Pasong, ST., S.Pd. (Petta Sagena), menikah dengan Ir. H. Andi Makkaraka, ST., MM. (Petta Limpo) (1 anak).
Andi Muqsit Pasong, SE. (Petta Bungko), menikah dengan Kurnia (1 anak).
Ipar Almarhum: Drg. Andi Nurisbat Bennu, menikah dengan Drs. Andi Makkulawu Muhammad.
Saudara-Saudara Almarhum:
Hj. Andi Nurjannah Petta Beti (Suami: Ahmad Amin Nas, 4 anak – Tamalate, Makassar).
H. Andi Bahrun Pasong Petta Lolo (Istri: Hj. Andi Hasnawati Petta Ratu, 3 anak – Balikpapan Baru).
Alm. Ir. H. Andi Tajuddin Pasong Petta Rani (Istri: Dra. Hj. A. Gusti Bennu Petta Cenning – Dimakamkan di Macanang, Bone).
Alm. Andi Basri Pasong Petta Puji (Istri: Andi Sinta Petta Welong, 3 anak – Dimakamkan di Macanang, Bone).
Almh. Andi Murni Pasong Petta Nennang (Suami: Alm. Andi Mappapuli, 5 anak – Dimakamkan di Pekuburan Dadi, Makassar).
Andi Abdul Malik Petta Duppa (Istri: Almh. Andi Hartati, 4 anak).
H. Andi Abd. Gaffar Pasong Petta Longi (Istri: Hj. Roshida, 3 anak).
Hj. Andi Nuraeni Petta Kerra (Suami: Muhammad Amin, 3 anak).
Andi Jaya Pasong Petta Rapi (Istri: Nur, 3 anak).
Alm. Ir. Andi Abd. Rahman Pasong Petta Tanra (Istri: Ir. Andi Tenri Awaru, 2 anak).
Ir. Andi Abd. Rahim Pasong (Istri 1: Andi Muliyati, 1 anak; Istri 2: Kurnia, 1 anak).
Selamat jalan, Pappi. Kebaikan, keramahan, dan keteguhan hati yang engkau contohkan akan selalu hidup dalam sanubari kami, anak-anak dan menantumu.
Allahumma juriqhu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu. Semoga Allah mengampuni segala khilaf, merahmati kuburnya, dan menempatkan beliau di jannah terbaik-Nya. Amin ya Rabbal Alamin.
Mkasih telah me respost keluarga kami... Slam dari andi muhammad ilham pasong anak dari alm. Andi basri pasong..
BalasHapusiye terima kasih
Hapus