Setamat dari SMP Negeri 1 Pammana, sebuah persimpangan jalan sempat membayangi langkah saya. Pihak keluarga banyak yang menyarankan agar saya melanjutkan pendidikan ke SPK atau STM—dua sekolah yang menjadi trend masa itu karena jaminan lulusannya bisa langsung bekerja. Namun, entah mengapa, keduanya sama sekali tidak punya daya tarik bagi saya. Lagi pula, kalau boleh jujur, tinggi badan saya tidak memenuhi syarat, dan memang dari awal kemauan itu tidak ada. Titik terang akhirnya datang saat sepupu saya dari Sengkang, Pung Mule (Andi Zulbiyah Zainal ), datang berkunjung ke rumah kami di Maroangin bersama suaminya, Andi As'ad Mappa. Kehadiran merekalah yang menguatkan tekad saya untuk memilih jalur SMA. Dengan modal rasa percaya diri yang tinggi karena nilai NEM yang lumayan bagus, saya membulatkan tekad hanya mendaftar di sekolah paling favorit di Kabupaten Wajo saat itu: SMUN 1 Sengkang. Ditemani oleh Pung Mule dan suaminya, saya resmi mendaftarkan diri dan memulai babak baru sebagai anak SMA.dan saya masih ingat yang menerima kami saat mendaftar adalah bapak legiman.
Merantau ke Sengkang: Dinamika Tempat Tinggal dan Padatnya Kegiatan
Memulai semester pertama, saya menetap di rumah Pung Mule. Di sanalah saya melewatkan hari-hari bersama kemenakan-kemenakan yang kini telah sukses menempuh jalan hidupnya masing-masing: Andi Nila Gading yang sekarang sudah mengabdi sebagai dokter di Mamuju, Andi Tri (A. Aso) yang memilih jalur pelayaran, serta Andi Esse yang alhamdulillah telah melangsungkan pernikahannya pada 14 April 2018 silam. Namun, demi efisiensi waktu karena pertimbangan jarak ke sekolah, saya kemudian memutuskan pindah ke rumah tante saya, almarhumah Hj. Andi Sederhana Mallawi, di Jalan Tomaddualeng. Kebetulan saat itu saya mulai mengambil langkah seribu untuk mengembangkan diri: ikut Less Bahasa Inggris di Tesol Sengkang milik Pak Sabri, kursus komputer di Wajo Computer Center milik Pak Amran Mahmud, serta aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dan PMR. Di rumah Jalan Tomaddualeng, saya berbagi kamar dengan nenek saya, Pung Hj. Mintang, yang saat itu sedang berjuang sembuh dari stroke ringan. Merawat beliau sembari membagi waktu dengan jadwal kursus dan organisasi yang padat menjadi ruang pendewasaan tersendiri bagi saya.
Perjalanan itu kembali berubah saat saya menginjak kelas 3 SMA. Saya terpilih untuk dipindahkan ke sekolah unggulan Kabupaten Wajo yang bertempat di Islamic Center Palaguna. Karena lokasi Palaguna jauh lebih dekat dari rumah orang tua, saya pun memutuskan untuk kembali menetap di Maroangin. Setiap hari, motor Supra X pemberian kakek saya, Pung Tambasa, menjadi saksi bisu perjalanan saya membelah jalanan menuju Palaguna demi menjemput masa depan.
Sahabat, Organisasi, dan Deretan Guru Pengukir Sejarah
Masa-masa di SMA Negeri 1 Sengkang periode 1996 s.d. 1999 tidak akan pernah seindah ini tanpa kehadiran sahabat-sahabat seperjuangan. Saya beruntung dikelilingi oleh lingkaran pertemanan yang luar biasa aktif di OSIS dan Pramuka, seperti Andi Ahmaliyah (Ketua OSIS), almarhum Farmawansyah (Wakil Ketua OSIS), Arham Hidayat (Koordinator Seksi), dan Erwin Syam. Saya sendiri dipercaya memegang amanah sebagai Koordinator Ketaqwaan. Kami belajar memimpin, berdiskusi, dan membuat kegiatan di antara sela-sela padatnya jam pelajaran.
Lebih dari itu, ruang-ruang kelas kami diisi oleh guru-guru hebat yang karakternya begitu melekat dalam ingatan. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Pak Kamaruddin, kami dididik oleh para guru legendaris:
Bidang Sains & Matematika: Ada Pak Iskandar, Pak Haedar, dan Pak Legiman yang mengajar Fisika dengan gaya masing-masing (Pak Haedar bahkan menjadi pembimbing utama saya dalam berorganisasi sekaligus pembina di Ikatan Remaja Muhammadiyah Sengkang). Ada Pak Basir, guru Matematika kami yang kala itu juga menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Wajo, serta Pak Fathauddin yang turut mengasah logika matematika kami. Di laboratorium Kimia dan Biologi, kami dibimbing oleh Ibu Hafsah (bersama suaminya, Pak Marwis, yang mengajar Akuntansi), Ibu Andi Herawati, dan Pak Fatan.
Bidang Sosial, Agama & Bahasa: Pelajaran Sejarah terasa hidup di tangan Pak Kamaruddin, Geografi bersama Pak Ahmad, Sosiologi dengan Ibu Andi Ros, dan PPKN bersama Pak Abd. Razak. Nilai spiritual kami dipertebal oleh Pak Gafar di pelajaran Agama, sementara urusan bimbingan konseling selalu ada Pak Syamsul Bahri. Untuk urusan komunikasi global, Pak Sabri dan Ibu Andi Nuri setia melatih Bahasa Inggris kami.
Seni & Olahraga: Kehidupan sekolah makin berwarna lewat pelajaran Olahraga bersama Ibu Musra, Seni rupa/keterampilan bersama Pak Yusri, serta Seni Suara bersama Ibu Maria. Tidak ketinggalan tokoh pendidik seperti Pung Andi Hamazah Muri, Pak Baharuddin, dan Pak Fathauddin yang turut mewarnai keseharian kami.
Jejak Langkah Sahabat Kelas 1.1 dan 2.1
Jika memutar kembali memori, wajah-wajah hangat teman sekelas selalu berhasil menerbitkan senyum. Di Kelas 1.1, kebersamaan kami begitu riuh diisi oleh sosok seperti Helfiana Hasyim, Suriadi Yusuf, Aswan, Abdul Kadir, Herdianto, Elly Ermawati, Ernawati, Darni, Nurul Qamri Rasyid, Ummul Khaeri Amsyah, Jamal (yang saat naik kelas 3 pindah ke Malino), Anto, Sri Irmayanti, Marwah Hikmah, Fitriani, Elwin, Muhammad Ikbal, Edi Sukma yang akrab disapa Frenky, Andi Yulianti, serta Andi Abdul Wahab yang kemudian pindah ke BPG, dan Hasriani MS.
Melangkah ke Kelas 2.1, ikatan itu semakin solid dan terasa lebih dinamis karena sebagian besar dari kami terlibat di kepengurusan organisasi. Di kelas inilah saya duduk bersama almarhum Farmawansyah, Arham Hidayat, Andi Ahmalia, almarhumah Andi Jenni Pakoneri, Erwin Syam, Besse Yuliati, Nurul Damayanti, dan Imran Sappe yang langganan menjadi juara kelas. Waktu boleh berlalu, puluhan tahun mungkin sudah memisahkan jarak, namun fondasi karakter, kedisiplinan, dan cerita-cerita dari sudut-sudut kota Sengkang dan Palaguna akan selalu menjadi bagian terbaik dalam perjalanan hidup saya.
Puncak Putih Abu-Abu di Kelas Unggulan: Amanah, Prestasi, dan Gelora Reformasi
Melangkah ke kelas 3 SMA, sebuah kejutan sekaligus tantangan besar menanti saya. Berkat pencapaian masuk dalam jajaran 10 besar di kelas 2.1, saya terpilih untuk dipindahkan ke Kelas Unggulan Kabupaten Wajo yang berlokasi di Islamic Center Palaguna. Kelas ini mempertemukan para pelajar pilihan di bawah bimbingan Wali Kelas yang karismatik, Pak Gaffar, serta Pak Fathauddin selaku koordinator. Di sini, dinamika belajar menjadi sangat seru karena saya tidak hanya berkumpul dengan sesama anak SMUN 1 Sengkang, tetapi juga berinteraksi dengan mutiara-mutiara dari sekolah lain. Ada Amir Ilyas, Musra Muis, Ciwank, Khairu Nissa asal Belawa, Khairu Nisa dari SMA 2, Usman yang jauh-jauh dari Pitumpanua, Arwan dari SMUN 3 Sengkang, Irwan Said dari SMUN 2 Sengkang, serta sahabat kental saya, Arham Hidayat. Berada di lingkungan yang kompetitif ini tidak membuat saya minder; justru lewat sebuah pemungutan suara (voting) yang demokratis, teman-teman memberikan kepercayaannya kepada saya untuk memimpin kelas sebagai Ketua Kelas Unggulan.
Eksistensi di Luar Kelas: Dari Siswa Teladan hingga Panggung TVRI
Kehidupan saya di masa SMA tidak pernah hanya sebatas meja belajar dan buku teks. Jiwa muda saya membuncah lewat berbagai organisasi yang saya ikuti, mulai dari OSIS, Pramuka, hingga Palang Merah Remaja (PMR). Di sekolah, wajah saya mungkin sudah tidak asing lagi karena sering dipercaya menjadi moderator dalam berbagai acara resmi. Kepercayaan pihak sekolah terhadap kapasitas saya juga membawa saya menjadi delegasi dalam berbagai ajang bergengsi. Saya masih ingat betul rasanya berjuang membawa nama sekolah dalam Pemilihan Siswa Teladan, Lomba Pidato P4, hingga ketatnya persaingan Lomba Cepat Tepat (LCT) yang disiarkan di TVRI. Tidak jarang pula saya ditunjuk menjadi utusan sekolah saat ada pertemuan resmi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Wajo. Kesibukan dan prestasi ini pulalah yang mengantarkan saya menjadi (mungkin) satu-satunya siswa di angkatan kami yang berhasil mendapatkan Beasiswa Supersemar—sebuah bantuan pendidikan prestisius pada masa itu.
Menempa Jiwa di Jalan Spiritual dan Parlemen Jalanan
Selain organisasi internal sekolah, saya juga memperluas cakrawala pergaulan dan spiritual lewat kegiatan kerohanian. Saya sempat mengikuti Pesantren Kilat di Nurul As’adiyah. Di sanalah ruang pertemuan lintas sekolah kembali terjadi, di mana saya berkenalan dengan figur-figur hebat seperti Andi Melina Adhesti dari SMUN 2 Sengkang, Fitriani yang aktif sebagai remaja masjid di sana, dan banyak teman baru lainnya. Tak hanya itu, atas ajakan almarhum Farmawansyah, saya juga menceburkan diri dalam pelatihan (training) Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Sengkang yang semakin mempermatang karakter kepemimpinan saya.
Namun, jika ditanya momen apa yang paling menggetarkan jiwa dan paling berkesan sepanjang periode 1996–1999 tersebut, jawabannya adalah ketika saya ikut turun ke jalan dalam demonstrasi bersejarah untuk menurunkan rezim Soeharto. Ada rasa ironi sekaligus idealisme yang campur aduk di dalam dada saat itu; sebagai anak muda, saya berdiri di garis depan menyuarakan reformasi bersama mahasiswa dan rakyat, padahal di kantong saya mengalir dana Beasiswa Supersemar dari presiden yang sedang kami protes. Itulah indahnya masa SMA—masa di mana prinsip, pencarian jati diri, spiritualitas, dan persahabatan melebur menjadi satu narasi indah yang membentuk siapa saya di hari ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar