Kamis, 22 Oktober 2020

AKHIRNYA SANG AYAH KE KUALALUMPUR, SINGAPURA, JOHOR DAN BATAM

Ada sensasi tersendiri ketika kita melihat kembali sebuah peta perjalanan yang pernah kita lalui. Kenangan lama mendadak berputar ulang. Bedanya, kali ini kami tidak sekadar bernostalgia. Bersama sahabat saya, Andi Ilham Pammusureng, kami memutuskan untuk kembali merencanakan sebuah perjalanan lintas negara: Kuala Lumpur, Singapura, dan Johor.

Bagi kami berdua, rute ini sangat familier. Jalur yang akan kami tempuh nanti persis sama dengan rute petualangan saat kami berangkat bertiga beberapa tahun yang lalu. Langkah kaki, aroma kota, dan hiruk-pikuk stasiun transitnya mungkin masih sama. Namun, perjalanan kali ini dipastikan akan terasa jauh lebih spesial dan bermakna.

Mengapa? Karena kali ini, kami membawa serta orang-orang tercinta. Kami memboyong keluarga dekat untuk ikut merasakan keseruan menjelajah negeri jiran.

Rombongan Kecil, Cerita Besar

Dari ruang keluarga kami, saya mengajak Ummi, putra saya A. Althaf, serta ayah tercinta, H.A. Mattalatta. Perjalanan ini menjadi momen yang sangat emosional bagi saya, khususnya bersama Ayah. Ini akan menjadi penerbangan kedua beliau ke luar negeri. Penerbangan pertamanya? Terjadi sebelas tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2015, saat kami bersama-sama menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah. Setelah sekian lama, kembali bisa mendampingi beliau terbang melintasi batas negara adalah kesyukuran yang luar biasa bagi saya.

Di sisi lain, Andi Ilham juga membawa rombongan hangatnya. Beliau mengajak sang istri, dr. Nurlia (Ummi), kedua buah hatinya, A. Aufa dan A. Yahsan, kakak ipar, serta sang ayah, H.A. Pammusureng.

Dua keluarga besar, dua sosok ayah, dan anak-anak yang siap merekam memori baru. Bisa dibayangkan betapa ramainya perjalanan kami nanti!

Mulai Merajut Rencana Bersama AirAsia

Untuk urusan logistik dan penerbangan, pilihan kami kembali jatuh pada maskapai yang sudah tidak asing lagi untuk rute Asia Tenggara, AirAsia. Menatap kode boking dan menyusun itinerary perlahan-lahan memunculkan rasa antusias yang sama seperti beberapa tahun lalu, namun kali ini dengan tanggung jawab dan kebahagiaan yang berlipat ganda.

Jika dulu kami bergerak taktis dan cepat khas para backpacker, kali ini ritme perjalanan tentu akan lebih santai, menyesuaikan dengan kenyamanan orang tua dan anak-anak. Menikmati indahnya tata kota Singapura, berbelanja santai di Kuala Lumpur, hingga menikmati keseruan di Johor akan menjadi babak baru dalam jurnal perjalanan kami.

Rute boleh sama, tetapi tawa, cerita, dan jejak langkah yang akan tertinggal nanti dipastikan akan benar-benar baru.

12 Januari 2018

Jarum jam menunjukkan pukul 11.05 WITA ketika kami akhirnya melangkah masuk ke dalam pesawat (boarding) di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Udara siang itu mengantarkan awal dari sebuah perjalanan panjang menyeberangi selat, menuju ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur. Ada rasa antusias yang membuncah saat burung besi yang kami tumpangi mulai lepas landas, meninggalkan bumi Sulawesi untuk sementara waktu.

Setibanya di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA/KLIA2) dan setelah menyelesaikan semua urusan administrasi di meja imigrasi yang cukup menyita waktu, prioritas pertama kami adalah menunaikan kewajiban. Kami segera mencari musala bandara untuk melaksanakan salat jamak takdim—menggabungkan Zuhur dan Asar.

Dunia ini memang terasa sempit, dan tempat ibadah selalu punya cara unik untuk mempertemukan hati-hati yang jauh. Di dalam musala, kami tak sengaja bertemu dengan rombongan jemaah umrah yang berasal dari Luwuk Banggai. Di antara mereka, ada istri dan anak dari H. Latif (instalatir PT Perdana Satria), serta Imam Masjid An-Nur Simpong, Luwuk. Pertemuan singkat di tanah rantau ini menghadirkan kehangatan tersendiri, saling bertukar senyum dan sapaan akrab khas Nusantara sebelum kami berpisah menuju tujuan masing-masing.


Menuju Jantung Kota: Bukit Bintang

Selesai beribadah dan mengemas kembali barang bawaan, kami memesan transportasi online Grab langsung menuju pusat kota. Untuk tempat menginap, saya sudah memesan kamar jauh-jauh hari secara online di Hotel 88 yang terletak di kawasan strategis, Jalan Bukit Bintang. Pilihan yang tepat, karena kawasan ini adalah denyut nadi utama pariwisata dan belanja di Kuala Lumpur.

Namun, sebelum petualangan menyusuri kota dimulai, ada satu tugas penting yang harus diselesaikan: menenangkan perut yang sudah mulai berdemo. Istilahnya, kami harus segera "mengisi Indonesia bagian tengah" alias mengisi lambung yang sudah kosong sejak penerbangan tadi!

Pilihan kuliner pertama kami jatuh pada menu legendaris: Nasi Ayam Hainan. Potongan ayam yang lembut dipadukan dengan nasi gurih yang harum benar-benar sukses mengembalikan energi kami yang sempat terkuras selama perjalanan.


Menyusuri Gemerlap Bukit Bintang dan Pavilion

Dengan energi yang sudah terisi penuh, kami mulai menjelajahi kawasan Bukit Bintang. Kami berjalan kaki santai, menikmati atmosfer kota metropolitan yang sibuk namun tertata. Langkah kaki membawa kami menyusuri trotoar yang ramai hingga sampai ke Pavilion Kuala Lumpur, salah satu pusat perbelanjaan paling megah di sana. Di depan mal, kami disambut oleh ikon terkenal Liuli Crystal Fountain yang indah.

Sore itu kami habiskan dengan benar-benar berkeliling dan menikmati dinamika di sekitar Bukit Bintang. Mulai dari gemerlap pusat perbelanjaan, hilir mudik warga lokal dan turis mancanegara, hingga sudut-sudut jalanan yang menawarkan daya tariknya sendiri. Hari pertama yang melelahkan namun menjadi pembuka yang sempurna untuk hari-hari menyenangkan berikutnya di Malaysia.

   Keesokan harinya, 13 Januari 2018, perjalanan kami di Kuala Lumpur diawali dengan menyantap roti cane hangat di dekat Terminal Pudu. Meski menu khas ini sebenarnya mudah ditemukan di Makassar, tetap saja ada nuansa rasa berbeda yang melekat di lidah, dan momen ini menjadi sangat berkesan karena bagi Bapak, ini adalah pengalaman pertamanya mencicipi roti cane—walaupun ujung-ujungnya beliau tetap berburu nasi akibat kebiasaan wajib sarapan berat yang tak bisa diganggu gugat. Energi kami pun langsung terisi penuh untuk menjelajahi kota, mulai dari berburu suvenir di Pasar Seni (Central Market), mengagumi kemegahan Twin Tower, hingga singgah ke Masjid Jamek yang bersejarah. Sepanjang mengitari Kuala Lumpur, kami sepenuhnya mengandalkan moda transportasi publik seperti bus GoKL dan MRT; pilihan yang sengaja kami ambil demi menjaga kebersamaan rombongan kami yang berjumlah 10 orang agar tidak terpecah jika harus naik taksi, sekaligus memanfaatkan bekal pengalaman seru menggunakan transportasi umum yang sudah kami kuasai sejak awal kedatangan.

Minggu pagi, 14 Januari 2018, menjadi awal petualangan kami yang penuh semangat. Tepat setelah menunaikan ibadah subuh dan mengisi energi dengan sarapan pagi, kami bergegas meninggalkan hotel dengan berjalan kaki santai menuju Terminal Pudu. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan rute Rapid KL menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS) yang megah dan modern. Setibanya di TBS, kami langsung mengantre di loket tiket untuk menebus tiket bus seharga RM 25,70 per orang. Setelah menunggu beberapa saat, tepat pukul 11.30 AM, kami akhirnya dipersilakan naik melalui Gate 10 untuk melanjutkan perjalanan menuju Johor Bahru. Perjalanan panjang hari itu terasa sangat nyaman karena kami berkesempatan menikmati lanskap Malaysia dari dalam bus eksekutif Mayang Sari yang membawa kami melaju tenang menuju Terminal JB Larkin.

Setibanya di Terminal Larkin, kami langsung memesan Grab untuk menuju hotel yang telah kami booking secara online sebelumnya guna menaruh barang-barang dan menyegarkan diri. Menjelang magrib, perjalanan berlanjut menggunakan Grab menuju destinasi utama kami malam itu, yakni Masjid Negeri Sultan Abu Bakar, demi mengejar takbir pertama untuk melaksanakan salat magrib berjamaah di rumah ibadah yang megah tersebut. Usai beribadah, kami memanfaatkan sisa malam dengan berkeliling menikmati denyut nadi Kota Johor Bahru, menyusuri indahnya Pusat Islam Iskandar Johor, kemegahan gedung MBJB, serta arsitektur historis Istana Sultan. Suasana malam semakin berkesan saat kami bersantai sejenak di Taman Masjid Sultan Abu Bakar, sebelum akhirnya menutup penjelajahan malam dengan merasakan kemeriahan lokal di Plaza Pelangi dan berburu takjil atau kuliner khas di pasar malam setempat

Pagi itu, 15 Januari 2018 sekitar pukul 07.00, kami memulai perjalanan menyeberang ke Singapura menggunakan bus, namun ketatnya pemeriksaan imigrasi langsung menyambut kami dengan ujian kesabaran yang menguras waktu hingga 4 jam. Saya, Ilham, dan Bapak bahkan sempat tertahan di bilik interogasi untuk dicecar berbagai pertanyaan—mulai dari urusan pekerjaan, izin atasan, hingga kecurigaan petugas karena tiket 10 orang rombongan kami dibeli menggunakan satu akun saya—sementara anggota rombongan lainnya cemas menunggu di luar dalam kawalan ketat yang begitu menegangkan, bahkan untuk ke toilet pun harus dikawal, sebuah pengalaman traumatis yang membuat Bapak kapok untuk kembali ke Johor via Singapura. Ketegangan itu baru mencair setelah waktu Zuhur tiba, ketika kami akhirnya menginjakkan kaki di jantung kota Singapura setelah 45 menit perjalanan dari pos imigrasi; perut yang keroncongan langsung kami manjakan dengan hidangan lezat di Restoran Al-Tasnim, sebelum melangkah ke Masjid Sultan yang megah untuk menunaikan salat jamak Zuhur dan Asar, berburu oleh-oleh khas di sekitarnya, dan menutup hari dengan mengabadikan momen di depan patung Merlion yang menjadi ikon legendaris Negeri Singa.
 
Setelah puas menjelajahi Singapura, pada malam hari yang sama kami memutuskan untuk langsung menyeberang ke Batam menggunakan kapal ferry Batam Fast melalui HarbourFront Center menuju Terminal Batam Center pada pukul 19.10 waktu Singapura. Pilihan untuk bermalam di Batam ini memang sudah kami rencanakan sejak awal demi menghemat anggaran karena biaya penginapan di Singapura jauh lebih tinggi, sekaligus menjadi kesempatan bagi kami untuk melepas rindu dengan kuliner khas Indonesia dan berburu oleh-oleh khas Batam. Kami pun beristirahat di Batam Star Hotel yang telah dipesan sebelumnya melalui aplikasi Airy. Keesokan paginya, 16 Januari 2018, kami memilih berjalan kaki santai menuju Nagoya Hill Shopping Mall sembari menunggu jam operasional mall yang belum buka penuh agar tidak terburu-buru jika menggunakan Grab. Usai puas mengitari mall, kami kembali ke arah hotel untuk menyantap makan siang di warung prasmanan terdekat sebelum bergegas menuju Batam Center International Ferry Terminal. Tepat pukul 15.45 WIB, kami bertolak menuju Berjaya Waterfront Johor Bahru menggunakan kapal Sinergy; setibanya di sana, kami langsung memacu langkah menuju terminal bus untuk mengejar keberangkatan ke Pontian, yang beruntung masih bisa kami dapati di jadwal bus terakhir setelah sempat tertahan karena harus menunggu Ilham mengambil tas yang dititipkan di hotel sebelum penyeberangan kami ke Singapura

Setibanya di Terminal Pontian, langkah kami langsung disambut hangat oleh dua mobil jemputan milik Pung Cicuk yang dikemudikan oleh Cikgu Abdul Hadi Ambo Intang. Ramah tamah khas langsung terasa saat kami diajak singgah untuk menikmati makan malam yang lezat di Warung Atap Nipah. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Memorial Daeng Haddadek, di mana kejutan manis telah menanti; kami kembali disuguhi durian Pontian yang legit dan harum, sebuah rezeki istimewa mengingat kehadiran kami bertepatan dengan masa penghabisan musim durian di sana.

Pada tanggal 17 Januari 2018, setelah puas mengabadikan momen dengan berfoto-foto mengeksplorasi keindahan interior dan halaman di sekitar Memorial Daeng Haddadek, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Legoland dengan memesan dua mobil Grab, di mana tiket masuknya saat itu berkisar Rp350.000 per orang. Namun, selepas menikmati makan siang di sekitar kawasan Legoland, rombongan sempat terbagi karena satu mobil memutuskan untuk langsung kembali ke Bennut; sementara saya, Ummi, Aufa, Ilham, dan Yahsan memilih tetap bertahan untuk menjelajahi dan menikmati keseruan berbagai arena permainan di sana hingga menjelang petang. Kami baru bertolak kembali ke Bennut hampir memasuki waktu Magrib, dan tepat setelah menunaikan sholat Magrib, agenda hari itu kami tutup dengan penuh kehangatan melalui kunjungan silaturahmi ke kediaman Pung Leman, yang merupakan sepupu sekali dari nenek saya, Pung Mintang.

Perjalanan pulang kami pada 18 Januari 2018 terasa begitu hangat dan berkesan berkat kebaikan Pung Cicuk sekeluarga yang dengan tulus mengantarkan kami menuju Terminal Pontian. Sebelum benar-benar berpisah, kami menyempatkan diri untuk menikmati momen kebersamaan terakhir dengan makan siang bersama di Restoran Awie yang lezat. Setelah berpamitan penuh haru, kami melanjutkan perjalanan menuju Terminal Bersepadu Selatan (TBS), lalu tepat pukul 11.00 PM, kami bertolak menuju Bandara KLIA 2 menggunakan Jetbus. Dinginnya malam mengiringi penantian kami di bandara, hingga akhirnya menjelang subuh, pesawat membawa kami terbang kembali ke tanah air, pulang menuju Makassar dengan membawa sejuta kenangan indah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar