Selasa, 02 Juni 2026

Ketersambungan nasab Wasobo Dengan kedatuan Mario Riawa

Marioriawa adalah sebuah kerajaan mandiri dan berdiri sendiri dalam naungan Konfederasi Kerajaan Soppeng, dan pernah berada dalam naungan konfederasi kerajaan Wajo pada saat latadampare menjadi arung matoa wajo,dan saat itu La Mappaiyyo matinro Ri Lagosi,menjadi Datu Mario Riawa,  Dimana Raja pertamanya  adalah La Botting Langi Datu Tanetelangi, dan raja terakhirnya adalah Datu Mappejanci Merangkap Datu Soppeng XXXVII,

Pada tahun 1906,   pihak Belanda menjadikan Kedatuan Soppeng  menjadi bagian dari pada Afdeling Bone dengan status Onderafdelling Soppeng ,Kerajaan Marioriawa sebagai anggota Konfedarasi/Persekutuan Kedatuan Soppeng tidak mengalami perubahan berikut 3 Pabbica dan Matoa nya

Pada tahun 1923 pada masa A.J.L Couvreur menjadi Gubernur di Sulawesi Selatan, memberikan kekuasaan zelfbestuur (Swapraja) kepada Raja Bone, Raja Soppeng, dan Raja Wajo yang membawahi beberapa distrik dan onderdistrik., Maka Khusus pada Onderafdelling Soppeng wilayahnya dibagi menjadi 7 persekutuan adat dengan status distrik, dan  salah satunya Distriknya adalah Marioriawa.Dalam penataan ini Kerajaan Marioriawa ikut mengalami perubahan. Kerajaan Marioriawa yang dahulu merupakan anggota Kofedarasi / Persekutuan Kedatuan Soppeng berubah menjadi Wilayah Kesatuan Kerajaan dengan status Distrik.

Wilayah daerah yang diperintah langsung oleh kerajaan Marioriawa . sebagai berikut: Kampung Padali,  Kampung Lompoe,  Kampung Taluma Kaca ,Kampung Penre ,Kampung Tanete  Kampung Batu-Batu , Kampung Malumpe  Kampung Welonge  Kampung Bera,, Kampung Poro/Mario, Kampung Kajuara, Kampung Panincong dan Kampung Kawerang,

Pada tanggal 13 Maret 1957, daerah Soppeng menjadi daereh otonom Tingkat II Kabupaten Soppeng sekaligus pelantikan kepala daerah yang pertama yaitu Datu Haji Andi Wana dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. P.7/2/24 Tanggal 8 Februari 1957.

Pada  tahun 1959,   Kedatuan Marioriawa dibekukan dan berubah nama menjadi Kecamatan Marioriawa, sehingga , status kerajaan Marioriawa pun ikut berubah menjadi Kecamatan Mario Riawa dengan ibu kota batu batu.

 

Situs yang ada dikecamatan mario Riawa adalah Kompleks Pekuburan Raja Manio riawa di jaraE Madining, JaraE Panci, Objek Wisata Permandian Air Panas Lejja, Kompleks Rumah Adat Sao Mario

 

Nama-Nama Raja yang pernah memimpin Kerajaan (Akkarungeng) Marioriawa yang ketersambungan nasab dengan wasobo  adalah

 

1. La Mappaiyyo matinro Ri Lagosi,menjadi Datu Mario Riawa, lahirlah I Sitti menikah dengan Baso Mallarangen lahirlah  I Marangi Wija arung SERING menikah dengan la Tokko wijanna La Mataesso Sulle Datu soppeng lahirlah H.A.Babba Petta Pabbicara Soppeng Lahirlah H.A.Bali  Lahirlah H.A,Bennu Pajjawa lahirlah H.A.Ati Bennu Lahirlah A,Bataria Pasong

2. La Makkarakalangi Baso Tancung (Tancung) Datu (Raja) Marioriawa menikah dengan Idulu datu Mario lahir Latelleng  datu marioriawa menikah I Jai Arung Kalola (anak dari  La Wawo addatuang Sidenreng IX arung Tempe Arung Maiwa,Arung Berru X matinroe ri soreang  dengan I Bubeng Arung Kalola dan saudara dari la pasanrangi Muh arase arung malolo sidenreng) melahirkan anak bernama We Pada Datu Marioriawa ( ibu La Malleleang dari ibunya) 

3. We Pada Datu Marioriawa, dengan La Mappatola Datu Bakke melahirkan beberapa anak antara lain  La Malleleang Datu Mario Riawa

4. La Malleleang Datu Mario Riawa di kebumikan di jaraE Batu Batu pekuburan Petta Janggo,di La Malleleang menikah I duddu lahirlah Andi Pance petta lolo pance Matoa Bakke lahirlah A.Mallawi lahirlah A.Nanna Lahirlah saya

5. Dan setelah andi Mungkace yang meruapakan cucu juga dari La Malleleang menjadi Datu Mario riawa  berikut Datu Mario sampai akhir terakhir

1. Andi Mangkona Datu Marioriawa Petta Arung Matoa (Raja) Wajo ke-45 periode 1933-1949 kemudian menikah dengan Andi Addiluwu (Datu Addi') Datu Watu dan mempunyai anak bernamaAndi Muhammad Arsad (Datu Sade’) Datu Marioriawa

2. Andi Muhammad Arsad (Datu Sade’) Datu Marioriawa

3. Andi Galibe Datu Marioriawa (Datu Soppeng XXXVI)

4. Andi Mappejanci Datu Marioriawa Merangkap Datu Soppeng XXXVII

Siapakah La Mallelleang?

Beliau adalah anak dari pasangan La Mapatola Datu Bakke dengan We pada Datu Marioriawa , beliau mengambil akkarungen dari ibu belaiu yakni We Pada Datu Mario riawa


Siapakah ibu beliau

La Mallaleang Bin We Pada  Datu Marioriawa Binti Latelleng Datu Mario riawa  Bin La Makkaraka Langi Baso Tancung Datu Marioriawa

La Mallaleang Bin We Pada  Datu Marioriawa  Binti I JAE ARUNG KALOLA BINTI PASANGAN I BUBENG ARUNG KALOLA dengan  La Wawo addatuang Sidenreng IX arung Tempe Arung Maiwa,Arung Berru X  matinroe ri soreang  BINTI PASANGAN  I WALE DAENG RISOMPA DATU BAKKE  dengan LAPASAUNG AR KALOLA binti LA PATTIWARE TENRI PEPPANG DG PALIWENG PETTA MATINROE RISABBANG PARU PAJUNG LUWUK KE 27 Dengan I WAKKANG BATARI TOJA DAENG MATANNA OPU DATU BAKKE 

Di mana orang tua  La Pattiware adalah pasangan La KasEng To Sibengngareng Petta MatinroE ri Kaluku BodoE Raja/Pajung Luwu ke-25 and Isaoda Arung Pacciro 

Sementara I WAKKANG BATARI TOJA DAENG MATANNA OPU DATU BAKKE adalah anak pasangan  La Mallarangeng To Samallangi Datu Lompulle Datu Mario Riwawo, ' and We Tenri Leleang Petta Matinroe ri Soreang pajung ri Luwu ke-24 & 26, ( 1748 - 1778 M )

Turunan La Malleleang (Putra Putri Datu Malleleang)

dari beberapa istri maka lahirlah :

Andi Baso Panincong Datu Panincong, Andi Bumbeng / We Bube Datu Panincong, Andi Makkaraka Datu Bakke, Datu liu, Arung Bettempola ke27, Hj.Andi Sompa Datu Kalola, Andi Tenri  Datu Liu,Andi Mangkona, Andi Kadu, Andi Kumba, Andi Tarawu, Andi Pance, Andi Patellongi, Andi Celleng, Andi Rombe

La Malleleang  menikah I duddu ( Orang Lamuru) Lahirlah A.Pance petta lolo pance sulewatang Bakke

Petta Pance mempunya 5( lima Istri) Istri yakni:

1. Orang Takkalasi Madello (Barru) mempunyai 1 (satu) anak   Andi Ma'rifa

2. Orang Fenre (Batu Batu) mempunyai 1 (satu) anak yakni  Andi Mappenedding

3. Orang Liu  :mempunyai 6 (enam) anak yakni Andi Hakim,  Andi Mallawi,Andi Rabbana,  Andi Amba,  andi Amira,  Andi Haruna

4. Orang Madining (Batu Batu)  mempunyai 1 (satu) anak yakni  H.A.Aras ( pernah menjadi Sulewatang Batu Batu) xxxxx

5. Orang Ganra (Bakke) : mempunyai 4 (empat) anak yakni  Hj.Andi Hadera, Hj. Andi Tekke, Andi Kampe, Hj.Andi Tuo

Petta Lolo Pance menikah dengan A.Hajju bint A.Sagala bin Manyoro ri Liu bin La semmalangi datu cilellang bin Isao Arung Liu, Binti La sappaine Cakkuridi wajo arung liu lahirlah A.Mallawi, A.mallawi  menikah dengan Ijantahera Manyoro Paleppang bin Kapitang Walinga  wijanna Baso maddetia Puang Nge laureng lahirlah akni Alm Hj Andi Sederhana, Alm H,Andi Muhtar, Alm A,Nanna, dan A.Munawar

A,Nanna menikah dengan H.A.mattalatta  dari rumpun petta Penrang dan sulewatang Lare  lahirlah A.Rosmianti dan  Andi Makkaraka

A, Makkaraka Menikah Hj Andi Batria Pasong  lahirlah A.althaf B makkaraka.

Catatan dari Silaturahim Lapabbenteng Petta Bampe di Mare

Catatan dari Silaturahim Lapabbenteng Petta Bampe di Mare

Ada getaran tersendiri saat kita melangkah masuk ke dalam sebuah ruang yang dipenuhi oleh jalinan sejarah masa lalu. Bagi saya pribadi, saya bukanlah bagian dari rumpun darah Lapabbenteng Petta Bampe. Namun, takdir mempertemukan saya dengan istri, yang merupakan generasi keenam dari sang tokoh. Hari itu, Selasa, 7 Mei 2022, bertempat di Mare, sebuah perhelatan akbar digelar. Silaturahim akbar ini menjadi magnet yang menarik kembali garis-garis keturunan yang sempat terpencar, mulai dari generasi keempat hingga generasi ketujuh, untuk kembali duduk bersama dalam satu tongkonan spiritual.

Perjalanan kami dimulai pagi-pagi sekali. Kami berlima memulai start dari Maroangin, Pammana. Di dalam mobil, selain saya dan istri, ada ayah saya (Ettaku) serta  buah hati kami, Althaf dan Reivan. Bagi putra kami, perjalanan ini adalah napak tilas yang sangat penting, karena di dalam nadi mereka mengalir darah generasi ketujuh dari Petta Bampe. Sepanjang jalan menuju Mare, terselip harapan untuk melihat bagaimana besarnya rumpun keluarga ini ketika berkumpul.

Namun, setibanya kami di lokasi acara, suasana baruga masih terasa lengang. Ruangan luas itu belum sepenuhnya terisi, menyisakan gema langkah kaki kami yang datang terlalu awal. Di dalam baruga, tampak Puang Suradi Petta Sanrang sudah bersiap. Beliau adalah sepupu sekali dari mertua saya, Andi Tajuddin Pasong Petta Rani. Dengan sigap dan penuh kehangatan, Puang Suradi sudah mulai mengarahkan beberapa peserta yang hadir untuk berfoto bersama berdasarkan sub-rumpun masing-masing, sebuah upaya awal untuk merapikan dokumentasi silsilah yang rumit ini. Tak lama berselang, sosok Puang Momo Petta Lolo pun muncul, menambah kehangatan di pagi yang masih sepi itu.

Melihat beberapa kerabat mulai berdatangan, istri saya, Andi Batari Pasong Petta Sennang, bagaikan menemukan dunianya. Naluri kerinduannya membuncah, dan ia langsung berkeliling baruga, menyapa dari satu meja ke meja lain demi mencari dan menyambung kembali simpul keluarga yang lama tak bersua. Sementara istri saya asyik bernostalgia, saya memilih duduk membisu bersama Althaf. Untuk mengusir rasa canggung dan sepi, saya mengaktifkan kamera Android di tangan. Lensa ponsel saya berselancar ke segala sudut, merekam detail demi detail, ekspresi demi ekspresi, menjadikannya sebuah dokumentasi visual dari momen bersejarah ini.

Dari balik lensa kamera, ingatan saya mencoba merekam wajah-wajah yang hadir. Memang tidak sampai puluhan yang berhasil saya kenal secara mendalam, namun beberapa figur begitu membekas. Ada Petta Daya yang sudah saya kenal sejak awal, lalu ada Andi/Maseelomo Petta Lolo beserta kakaknya. Tampak pula hadir dari Sinjai,  Petta Ile yang merupakan sepupu dari mertua,. Di sudut lain, kesibukan panitia terlihat jelas lewat koordinasi sang Ketua Panitia bersama Bendahara, Puang Cumi. Saya juga melihat Andi Bustang, sosok yang saya kagumi dan saya anggap sebagai "Lontara Berjalan"-nya rumpun Petta Bampe. Saya pertama kali mengenal beliau saat pertemuan pra-acara bulan Maret lalu di Mare. Hadir pula Puang Hasan Ambarala, mengingatkan saya pada momen pertemuan perdana pembentukan grup WhatsApp keluarga yang diinisiasi oleh Andi Irsan Rukka.

Waktu terus bergulir, baruga mulai padat, dan acara resmi pun dibuka oleh protokol yang dipandu dengan apik oleh MC Lantunan ayat suci Al-Qur'an kemudian berkumandang, membawa keteduhan di dalam ruangan, yang langsung disambut dengan petuah bijak dalam hikmah Halal Bi Halal oleh Ustadz. Suasana takzim berganti riuh rendah tepuk tangan saat Ketua Panitia memberikan sambutannya, melaporkan kerja keras di balik layar hingga acara ini bisa terwujud.

Salah satu sesi yang paling menarik bagi saya adalah saat penjelasan singkat mengenai sosok Lapabbenteng yang dibawakan oleh Andi Suradi Petta Sanrang. Lewat untaian kalimatnya, sejarah seolah hidup kembali. Estafet sambutan kemudian dilanjutkan oleh Andi Amrad, dan disusul oleh perwakilan dari Anggota DPRD Bone yang juga merupakan wija Sulewatang Macege. Puncaknya, Dr. Andi Ilham Samallangi tampil mengurai silsilah dan makna persaudaraan ini secara mendalam, memberikan pemahaman baru bagi generasi muda yang hadir tentang betapa besarnya tanggung jawab menjaga nama baik leluhur.

Setelah rangkaian sambutan yang padat, tibalah waktu yang paling dinanti: Istirahat, Sholat, dan Makan (Ishoma). Inilah momen di mana janji manis istri saya terbukti. Jauh-jauh hari sebelum ke Mare, ia selalu mempromosikan "Lawa Udang" sebagai menu andalan yang wajib dicoba, sebuah taktik marketing personal yang sukses membuat saya penasaran. Benar saja, saat hidangan disajikan bersama kue-kue tradisional (Desa Ankue), kelezatan kuliner khas Mare ini langsung memanjakan lidah. Suasana makan bersama ini terasa begitu akrab, meruntuhkan sekat jarak dan waktu.

Sayangnya, kebersamaan kami di baruga harus berakhir lebih cepat. Sebelum seluruh rangkaian acara benar-benar selesai, kami sekeluarga sudah harus bergegas mengemas barang untuk kembali ke Sengkang. Langkah kami terburu oleh waktu karena pada hari yang sama, sebuah undangan penting telah menanti di Saoraja Bulu Sengkang, yaitu acara aqiqahan cucu dari Puang Datu Tenri Ebe dan Puang Datu Baso Mungkace. Agenda yang berhimpitan ini memaksa kami mengurungkan niat awal.

Padahal, rencana awal kami sangat ingin bermalam dan menikmati atmosfer Mare lebih lama. Dinamika perjalanan keluarga kami minggu itu memang luar biasa padat; sehari sebelum bertolak ke Mare, kami juga baru saja menghadiri pertemuan Wija keluarga Sulewatang Lare di Pammana. Meskipun lelah fisik mendera dan waktu terasa begitu singkat, ada kepuasan batin yang tak ternilai. Perjalanan ini bukan sekadar menghadiri seremonial, melainkan sebuah pembuktian bahwa sejauh apa pun melangkah, akar sejarah dan silaturahim keluarga akan selalu menjadi tempat kita untuk pulang dan berkaca.


semoga Wija Petta Bampe dalam Kekompakan aamiin.

Senin, 18 Mei 2026

Catatan Perjalanan: Menjemput Takdir Ramadhan di Tanah Suci 1447H, Jamaah Taawun

 


Rencana manusia adalah coretan di atas kertas, namun ketetapan Allah adalah takdir yang mutlak berjalan. Kisah perjalanan umrah full Ramadhan 1447 Hijriah kami bermula pada tanggal 17 Februari 2026. Sebanyak 21 jemaah dari berbagai daerah telah berkumpul di Bandara Soekarno-Hatta, bersiap mengangkasa menuju baitullah menggunakan maskapai IndiGo. Namun, ruang tunggu bandara mendadak menjadi ruang ujian kesabaran pertama kami. Kabar megejutkan datang sore itu: visa belum juga terbit. Alih-alih melangkah ke pintu pesawat, kami justru diarahkan untuk menginap di hotel transit kawasan Cengkareng, sebuah awal yang langsung membuyarkan rencana matang kami untuk menyambut malam-malam awal Ramadhan di Madinah Al-Munawwarah.

Di dalam kamar hotel transit, kepasrahan diuji hingga titik tertinggi. Hambatan administrasi ini memaksa manajemen keberangkatan memutar otak, hingga akhirnya diputuskan bahwa 21 jemaah harus diberangkatkan secara bertahap demi mengejar waktu yang terus berjalan. Sebagian besar dari kami bergerak secara swadaya, saling bahu-membahu mengatasi kendala yang muncul satu demi satu. Gelombang pertama akhirnya pecah saat Tim purbolinggo, Jayani, Yanti Budayasti, Risal, dan Zainal Muttaqien berhasil terbang lebih dulu, membuka jalan bagi rombongan yang masih tertahan di Jakarta dengan doa yang terus mengalir.

Menyusul rombongan pertama, gelombang kedua diberangkatkan pada pagi hari tanggal 21 Februari 2026. Di dalam manifest tersebut, rombongan diisi oleh Tuan Guru H. Amanah, Baiq Setiawati, Titik, dan Mustirah. Suasana haru dan lega mulai mengalir, meskipun kelompok kami masih harus terpisah-pisah. Setiap jemaah memegang teguh keyakinan bahwa setiap langkah, sekecil apa pun pergeserannya, adalah bagian dari skenario terbaik yang sudah digariskan oleh Sang Pemilik Ka'bah.

Saya sendiri akhirnya mendapat giliran berangkat pada tahap ketiga, menggunakan maskapai Qatar Airways pada tanggal 21 Februari 2026 pukul 18.20 WIB. Penerbangan malam itu terasa begitu panjang, membawa rombongan gabungan dari Makassar, Lombok, dan Bandung. Di dalam pesawat, saya bersama Sulaiman Husain, Anis Rahman, Ardis, Ermiwaty, Yusuf Hamzah, Juniaty, dan Sutriani Matta dari Makassar, berbaur bersama Ibu Suarti dari Lombok serta Bapak Jaeni beserta istri, Ibu Latifa, dari Bandung. Setelah sempat transit di Doha, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan Madinah pada 22 Februari pukul 03.20 dini hari. Sementara itu, tahap terakhir yang terdiri dari Bapak Nurdan, Damar, dan Ibu Haeriah menyusul di belakang kami.

Setibanya di Bandara Madinah, rasa lelah mendadak menguap berganti haru saat kami disambut hangat oleh Bapak Mutawwif Yusuf. Kami kemudian diarahkan menaiki bus menuju sebuah apartemen alternatif—sebuah perubahan rencana lagi, karena semula kami dijadwalkan menginap di Taiba Suite. Di apartemen ini, kami tinggal berenam dalam satu kamar. Keterbatasan ruang justru mencairkan sekat, melahirkan rasa persaudaraan yang begitu erat. Di sinilah rutinitas indah dimulai: menjaga shalat lima waktu berjamaah, berburu berkah buka puasa bersama di dalam Masjid Nabawi yang syahdu, hingga berjuang masuk ke Raudhah, taman surga yang selalu dirindukan.

Waktu-waktu di Madinah kami manfaatkan dengan maksimal untuk berziarah. Pada tanggal 24 Februari, kami mengunjungi Masjid Quba untuk menunaikan shalat dua rakaat yang pahalanya setara dengan umrah. Keesokan harinya, 25 Februari, tiba saatnya bagi kami untuk bergerak menuju Mekkah Al-Mukarramah menggunakan bus Muassasah. Kami berhenti sejenak di Bir Ali untuk mengambil miqat, berniat ihram dengan hati yang bergetar. Setibanya di kota suci Mekkah, kami langsung menuju Hotel Al Saha, tempat yang akan menjadi rumah kedua kami selama kurang lebih 40 hari ke depan. Di kamar 1201 lantai 12 itulah, segala cerita, tawa, dan doa-doa panjang kami bersemi. Pada tanggal 26 Februari saat subuh merekah, kami telah resmi menyelesaikan ibadah umrah pertama kami.

Rutinitas harian di Mekkah menjadi ritme hidup yang sangat dinamis dan penuh perjuangan fisik. Setiap kali hendak beribadah ke Masjidil Haram, kami harus menaiki bus hotel yang mengantar hingga ke dekat Terowongan Jarwal. Dari titik drop-off tersebut, perjuangan yang sesungguhnya dimulai: berjalan kaki sekitar 2 kilometer menelusuri lorong terowongan yang panjang, atau sesekali menumpang mobil golf jika beruntung. Panas dan lelahnya langkah kaki di dalam terowongan itu menjadi saksi bisu bagaimana kerinduan terhadap baitullah mengalahkan segala rasa payah di fisik kami.

Ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, suasana berubah menjadi jauh lebih khusyuk. Kami memfokuskan diri untuk beritikaf, memburu keutamaan malam Lailatul Qadar di pelataran dan dalam masjid. Kebersamaan di antara jemaah terasa begitu indah; saling berbagi makanan, menjaga tempat shalat, dan saling menyemangati. Di saat jemaah lain ada yang mampu melaksanakan umrah hingga dua atau tiga kali, saya memilih fokus membadalkan umrah untuk dua wanita terhebat dalam hidup saya: ibu kandung dan ibu mertua saya. Semoga Allah menerima sumbangsih ibadah yang tak seberapa ini.

Di sela-sela ibadah wajib, kegiatan ziarah luar ruangan tetap dilaksanakan. Pada tanggal 2 Maret, kami dibawa mengunjungi Padang Arafah yang luas dan menapaki sejarah di Gua Tsur. Beberapa hari setelahnya, tepatnya 4 Maret, sebagian besar jemaah melanjutkan ziarah ke kota sejuk Taif. Namun, karena satu dan lain hal, saya memilih untuk tidak ikut dan tetap tinggal di Mekkah demi menjaga ritme ibadah. Dinamika rombongan pun terus berputar, di mana gelombang pertama jemaah yang harus kembali ke tanah air adalah rombongan Pak Zainal pada tanggal 28 Februari 2026.

Namun, ketenangan ibadah kami sempat terusik oleh kabar geopolitik dunia. Tepat di akhir Februari, menyeruak informasi mengenai pecahnya ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat. Dampaknya langsung terasa di dunia penerbangan; banyak maskapai yang membatalkan penerbangan secara massal, terutama yang rutenya harus transit di Dubai, Doha, dan kota-kota Timur Tengah lainnya. Kondisi ini menjadi awal dari rumitnya perjuangan kami mencari tiket pulang ke Indonesia. Saya sendiri bahkan sampai tiga kali masuk ke dalam waiting list penerbangan untuk tanggal 18 Maret dan 21 Maret, namun semuanya berujung gagal karena kursi telah penuh seiring masuknya peak season penerbangan langsung ke tanah air.

Akhirnya, takdir perjalanan memaksa saya untuk berpisah jalan dengan rombongan lainnya. Pada tanggal 28 Maret, saya melangkah sendiri menuju Bandara Jeddah untuk pulang ke Indonesia menggunakan maskapai Saudi Airlines. Sementara itu, jemaah yang lain pulang melalui Madinah menggunakan Malaysia Airlines dengan rute menuju Kuala Lumpur dan dijadwalkan menginap transit di sana. Sebuah akhir perjalanan yang mandiri, menutup lembaran umrah penuh Ramadhan 1447 Hijriah yang sarat dengan ujian kesabaran, perubahan rencana, namun dipenuhi oleh berkah persaudaraan dan air mata kebahagiaan yang tak akan pernah terlupakan.

Minggu, 17 Mei 2026

Merajut Silaturahim di Tanah Borneo (kalimantan)

 Perjalanan menuju Pulau Kalimantan pada tanggal 13 Mei 2026 dimulai dengan sedikit drama domestik. Rencana awal yang matang seketika buyar saat maskapai Lion Air memajukan jadwal penerbangan secara sepihak. Karena hari itu masih merupakan hari kerja yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja, keputusan cepat harus diambil; tiket tersebut akhirnya dibatalkan. Sebagai gantinya, pilihan dialihkan ke maskapai Citilink dengan jadwal keberangkatan selepas Magrib. Meski harus berganti pesawat, antusiasme untuk menjalani liburan selama lima hari di Kalimantan bersama istri tercinta tetap membara.

Burung besi akhirnya mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan. Begitu melangkah keluar dari pintu kedatangan, kehangatan keluarga langsung menyambut kami berdua. Kakak kandung dan sepupu dari pihak istri sudah bersiap menanti di area penjemputan dengan mobil Mitsubishi Xpander berwarna hitam. Tanpa membuang banyak waktu, roda kendaraan segera bergulir membelah malam Balikpapan, membawa kami menuju tujuan pertama untuk mengisi energi yang sempat terkuras selama penerbangan.

Malam pertama di Balikpapan ditandai dengan wisata kuliner yang menggugah selera. Kami singgah di Warung Serasa yang berlokasi di kawasan Balikpapan Baru Blok B1 Nomor 8–9 untuk menikmati sajian ayam goreng kampung yang gurih khas. Setuntas bersantap, perjalanan dilanjutkan ke agenda utama yang sangat penting, yaitu sowan ke kediaman paman tertua istri, Bapak Andi Bahrun Pasong, yang akrab disapa Petta Lolo. Di rumah paman yang kini telah berbahagia bersama anak dan cucunya tersebut, kami mengobrol hangat sekaligus meminjam mobil Toyota Rush milik beliau yang akan menemani petualangan kami selama berada di Balikpapan, Samarinda, hingga Tenggarong.

Malam kian larut saat kami berdua tiba di tempat peristirahatan di Griya Bukit Residence III. Kami menginap di rumah salah satu kakak kandung istri yang kebetulan sedang kosong. Karena status rumah yang tidak berpenghuni tersebut, praktis hanya kami berdua yang menempatinya selama beberapa hari ke depan, menjadikannya markas yang nyaman dan privat bagi kami selama berada di Kalimantan. Istirahat malam yang berkualitas ini menjadi modal penting sebelum memulai rentetan agenda padat keesokan harinya.

Pagi hari di hari kedua diawali dengan kunjungan ke Pasar Inpres Kebun Sayur untuk berburu buah tangan khas Kalimantan. Setelah urusan belanja selesai, petualangan berlanjut menuju Ibu Kota Nusantara (IKN). Kali ini perjalanan dilakukan berempat bersama kakak kandung dan sepupu istri. Setibanya di kawasan IKN, kami menyempatkan diri untuk santap siang di Rumah Makan Kampung Kecil IKN. Keindahan spiritual juga kami rasakan saat menunaikan ibadah salat di Masjid IKN, sebelum akhirnya menikmati kemegahan arsitektur Istana Garuda yang ikonik saat waktu beranjak dari asar menuju magrib. Perjalanan hari itu ditutup dengan makan malam di Restoran Cak Gurih setibanya kembali di Balikpapan.

Pada hari ketiga, petualangan beralih arah menuju Kota Samarinda. Kami berdua sengaja berangkat subuh melewati jalan tol agar bisa mengejar waktu salat subuh di Kota Tepian tersebut. Setibanya di sana, kami langsung menuju Islamic Center Samarinda untuk menunaikan salat berjamaah, dilanjutkan dengan mengikuti kajian subuh yang menyejukkan hati sekaligus merasakan berkah hari Jumat di sana. Selepas kajian, kami menyempatkan diri berjalan-jalan di kawasan Teras Sungai Mahakam, menikmati pemandangan sungai legendaris yang pagi itu tampak syahdu dibalut rintik gerimis tipis.

Dari Samarinda, kemudi mobil diarahkan menuju Tenggarong, Kutai Kartanegara, untuk meresapi destinasi budaya setempat. Kami mengunjungi Masjid Jami Hasanuddin, melintasi Jembatan Repo-Repo yang menawan, hingga menyeberang ke Pulau Kumala. Setelah puas mengeksplorasi Tenggarong, kami bergerak kembali ke Samarinda dan singgah di Toko Oleh-Oleh Najwa. Agenda di Samarinda pun berlanjut dengan melaksanakan salat jumat di Islamic Center, menikmati lanskap kota dari ketinggian menaranya yang megah, lalu ditutup dengan makan siang yang nikmat di Warung Makan H. Ijay. Perjalanan pulang ke Balikpapan sengaja memilih jalur non-tol, meski sayangnya saat singgah di Beruang Madu tempat tersebut sudah tutup pada pukul lima sore, dan dinner  kami hanya bisa membeli bakso untuk dibungkus.

Memasuki hari Sabtu, 16 Mei 2026, hari kami awali dengan melaksanakan salat subuh di Islamic Center Balikpapan. Untuk menu sarapan, Depot Miki di Jalan Jenderal Sudirman menjadi pilihan tepat guna menyantap soto banjar dan bubur manado yang hangat. Agenda silaturahim keluarga berlanjut ke kediaman paman  kedua  dari istri  yang akrab kami sapa Petta Longi. Kehangatan keluarga begitu terasa ketika adik sepupu istri—anak dari Petta Longi—mengajak kami makan siang bersama di Bondy Restaurant yang terkenal. Sore harinya, dengan meminjam sepeda motor milik kakak sepupu, kami berdua berboncengan menikmati angin sore di Pantai Lamuru, sebelum akhirnya menutup hari dengan makan malam di sebuah warung masakan Padang di jalur dua menuju tempat nginap.

Hari terakhir di tanah Borneo diisi dengan kegiatan yang santai namun tetap berkesan. Pagi-pagi sekali kami mengunjungi Pasar Tumpah Pringgondani untuk merasakan atmosfer pasar lokal yang riuh dan menyenangkan. Siang harinya, kami berkumpul di Kedai Kopi O untuk menikmati santap siang bersama sepupu istri yang merupakan anak dari Petta Lolo Bahrun. Di sela-sela obrolan santai di kedai kopi inilah, kami baru sempat memesan tiket pesawat Lion Air untuk penerbangan pulang ke Makassar.

Perjalanan lima hari yang penuh kesan ini akhirnya harus disudahi. Kami diantar menuju bandara oleh suami kakak kandung istri dengan mengendarai mobil Mitsubishi Outlander miliknya. Sepanjang jalan menuju bandara, ada rasa syukur yang membuncah di dalam hati. Perjalanan ke Kalimantan kali ini memang tidak muluk-muluk mengejar target wisata komersial, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan kultural untuk merajut kembali tali silaturahim dengan keluarga besar istri yang merantau di tanah Kalimantan.

Selasa, 21 Oktober 2025

Wisata Keluarga Datu Malleleang ke-3 di Pinrang

Riak ombak Selat Makassar seolah turut menyambut perhelatan tahunan Ikatan Keluarga Datu Malleleang (IKARDA). Bertajuk "Wisata Keluarga Datu Malleleang ke-3," acara ini menjadi panggung kembalinya harmoni dan silaturahmi, bertempat di lokasi yang memancarkan ketenangan: Villa milik Bapak Haji Andi Yusri Tanra di Suppa, Pinrang, pada tanggal bersejarah 8 hingga 9 Oktober 2025..

Babak I: Kedatangan dan Kehangatan Sore (8 Oktober 2025)

Sejak mentari mulai condong ke barat, aura kegembiraan sudah terasa. Meskipun registrasi resmi dijadwalkan sehabis Sholat Ashar, semangat kekeluargaan tak terbendung. Kelompok awal yang paling antusias adalah keluarga dari Soppeng, yang sudah mulai berdatangan sejak seusai Sholat Dzuhur. Mereka langsung bergerak cepat, menciptakan "kampung" sementara dengan gaya khas: beberapa anggota  sibuk memasang tenda-tenda di area terbuka yang teduh, sementara yang lain memilih kenyamanan gazebo untuk berkumpul dan bercerita. Total peserta yang terdaftar mencapai angka fantastis: 196 orang, sebuah rekor tertinggi selama Wisata Keluarga Datu Malleleang, yang menunjukkan semakin eratnya ikatan.

Tak lama berselang, rombongan dari Wajo tiba dengan riang, disusul oleh keluarga besar dari Makassar. Panitia  mengalokasikan kamar-kamar villa bagi mereka yang tidak membawa  tenda atau gazebo, memastikan setiap peserta—dari anak-anak hingga tetua—merasa nyaman dan terlayani. Mereka yang memilih kamar villa pun segera membaur, berbagi tawa dan kisah lama yang terpendam. Senja di Suppa Pinrang menjadi saksi bisu kehangatan yang merambat dari satu keluarga ke keluarga lainnya.. Pada saat registrasi dibuka, suasana semakin ramai. Para tokoh sentral IKARDA tampak hadir, memberikan bobot dan restu pada kegiatan ini, di antaranya adalah Ketua Dewan Penasihat, Ketua Umum, dan Anggota Dewan Penasihat yang dihormati, didampingi seluruh jajaran penguru

Babak II: Malam Penuh Kegembiraan dan Makna (8 Oktober 2025)

Setelah menunaikan kewajiban Sholat Ashar , energi  langsung dialihkan ke ajang kompetisi kuliner yang paling dinanti: Lomba Kaddo Miinya. Para peserta dari berbagai daerah berlomba menyajikan Kaddo Miinya (makanan khas bugis) terbaik mereka, memadukan resep turun-temurun dengan inovasi rasa. Bau harum rempah dan bumbu memenuhi udara, menambah selera makan malam.

Puncak kebersamaan tiba dalam balutan Gala Dinner diiringi. Selesai makan malam, acara berlanjut ke sesi formal-informal. Dibuka dengan sambutan-sambutan penuh makna dari Ketua Umum dan ketua Dewan Penasihat, mereka menyampaikan pesan persatuan, dan pentingnya menjaga silaturahmi.

 Kemudian, enam peserta menunjukkan talenta emosional mereka dalam Lomba Puisi,diantaranya Andi Lina Tadampali, Andi Warda, Andi Nurfadhila, Andi Surya, Andi Collie, dan  Andi Mutmainnah, membacakan karya yang menyentuh hati tentang keluarga, kampung halaman, dan penghormatan kepada leluhur.

Kompetisi semakin memanas dalam Lomba Mars Datu Malleleang. Tiga wilayah—Wajo, Soppeng, dan Makassar—beradu kekompakan, harmoni, dan semangat dalam menyanyikan lagu kebanggaan IKARDA. Masing-masing kontingen tampil totalitas, membangkitkan rasa bangga dan persatuan.

Menjelang tengah malam, acara inti selesai. Namun, kehangatan belum usai. Beberapa keluarga memilih untuk begadang, bercengkerama di tepi pantai Suppa, menikmati angin malam. Sementara yang lain beristirahat. Beragam pilihan akomodasi menunjukkan fleksibilitas: ada yang tetap di villa, beberapa memilih menginap di hotel terdekat, atau menumpang di rumah keluarga yang berlokasi tak jauh dari acara. Sebagian kecil peserta terpaksa kembali ke daerah asal mereka karena harus memenuhi jadwal kegiatan esok hari.

Babak III: Pagi Persatuan dan Penutup Sejarah (9 Oktober 2025)

Fajar menyingsing membawa suasana sejuk. Hari kedua dimulai dengan ketenangan jiwa melalui Ceramah Agama  singkat yang membekali peserta dengan nasihat keagamaan dan motivasi hidup. Setelah rohani diisi, fisik pun digerakkan. Seluruh peserta berkumpul untuk sesi Senam IKARDA yang ceria dan energik. Tawa pecah saat kompetisi berlanjut ke Lomba Yel-Yel, di mana setiap kelompok menunjukkan kreativitas dan kekompakan dalam meneriakkan semangat persatuan.Hadiah dan door price mulai di distribusikan sampai habis.

Usai mengisi energi pagi dengan sarapan bersama, seluruh rombongan bergerak menuju lokasi penutupan yang telah ditentukan. Bukan sembarang tempat, namun di lokasi yang penuh simbolisme cinta abadi: Tugu Ainun Habibie—sebuah landmark yang mempertegas pentingnya kesetiaan dan komitmen.

Di lokasi inilah piala paling bergengsi—Piala Bergilir IKARDA—diserahkan. Setelah melalui penilaian ketat dari semua mata lomba, dengan sorak sorai gembira, keluarga Ikarda Wajo diumumkan sebagai Juara Umum tahun ini dan berhak membawa pulang piala tersebut, menjadikannya tuan rumah piala hingga pertemuan berikutnya.

Momentum ini sekaligus menandai ditutupnya Wisata Keluarga ke-3. Seluruh perhelatan akbar ini terlaksana berkat swadaya keluarga. Biaya yang digunakan dalam kegiatan ini sepenuhnya menghabiskan kas IKARDA, yang merupakan sisa saldo dari kegiatan Silaturahmi Akbar di Batu-Batu, Soppeng, dua tahun lalu. dan tentu ada bantuan materil dari keluarga baik pribadi maupun rumpun, Ini adalah bukti nyata bahwa kekeluargaan Datu Malleleang tidak hanya terjalin erat, tetapi juga mandiri dan solid dalam melestarikan budaya dan persatuan antar keturunannya. Wisata Keluarga Datu Malleleang ke-3 pun usai, menyisakan kenangan manis, ikatan yang semakin kuat, dan semangat untuk bertemu kembali  tahun mendatang.

Makkaraka/ Panitia



Senin, 29 Juli 2024

Kebersaman dengan H.Ambok Lemang, Selamat Jalan Pung Lemang

 

Tak meninggalkan tempat  duduk sehabis sholat dhuhur di Masjid PLN hertasning, selasa 30 Juli 2024 pukul 12.44 WITA Antara mendoakan beliau untuk sembuh dari sakit akibat di rawat  di hospital di unit kecemasan, akibat  sesak nafas dan tidak sadarkan diri, hanya selang sembilan menit kemudian kami menerima pesan  di group bahwa Pung lemang telah meninggal dunia diusia 84 tahun, Beliau meninggal  setahun  lebih setelah istri beliau meninggal dunia di bennut yang saat itu kami rombongan peserta Tudang Sipulung Johor Paleppang (TUSIJOPPA) masih berada di Kualalumpur.

Pung Lemang, Itulah sapaan kami  untuk menyebut  namanya, H.Ambok Lemang Bin daeng Haddadek, kakak dari Pung Hj Indok Checuk, Merupakan Kemanakan dari Manyoro Paleppang, Beliau saya kenal diawal tahun 2015,dan saya pun baru 4 kali ketemu dengan beliau,  dimana saat itu  Jumat  30 januari 2015, saya dengan teman kampus dari Universitas Hasanuddin  bersilaturahmi   pertama kalinya, Kemudian pertemuan kedua disaat beliau Hadir di sulawesi selatan untuk menghadiri Undangan Bupati wajo Bapak H.Andi Burhanuddin Unru, dengan ciri Khasnya tidak ketingalan  Kamera  dan kancing atas baju beliau  yang terbuka,  selalu mendokumentasikan perjalanan selama kunjungan di sulawesi selatan, pertemuan ketiganya 17 Januari 2018, dimana  saya sekeluarga ( anak Istridan ettaku) dan tetangga ( keluarga Andi Macca Amirullah)    melakukan kunjungan ke johor dan alhamdulillah kami kembali silaturahim dengan beliau dirumah kediamannya dibennut. pertemuan kami ini, mulai  dari pertama sampai ketiga selalu ditemani  istri beliau , Namun dipertemuan kami yang keempat Rabu 12 Juli 2023 di pontian johor, istri beliau sudah dalam keaadan koma dirumah sakit.

Salah satu yang berkesan dikami  beliau  selalu mendokumentasikan  kegiatannya, tak heran awal pertama kami ketemu dengan beliau adalah  kami disambut satu keluarga dan  disuguhi foto-foto lama tempo doeloe  dari sulawesi, kami diajak masuk kesebuah ruangan mirip museum yang berisi tentang pergelaran seni bugis di Johor, kebeteluan pung Lemang adalah sangat hobby diseni teater.terbukti disaat kami ada acara tudang sipulung dan ternyata itulah  pertemuan terakhir kami ,beliau hadir walaupun kondisi agak kurang fit, hadir dengan membawa gambusnya mengiringi lagu yang dinyanyikan keluarga paleppang.

disamping itu, kedermawanan beliau tak perlu ditanya, saat peserta tusijoppa hadir di pontian,  beliau meminta saya untuk menulis  nama nama peserta tusijoppa dan  berapa jumlah peserta, ternyata beliau sudah menyiapkan 100 Ringgit Malaysia untuk tiap peserta Tudang Sipulung Johor Paleppang yang berjumlah 23 anggota.sebagai ganti tidak bisa mengajak kerumahnya di bennut karena istri beliau sedang dirawat dirumah sakit,

sebenarnya ada keinginan untuk ketemu kembali dalam Milad KKMP yang kelima 30 Juni 2024 di Makassar , namun beliau batal hadir karena alasan kesehatan,

selamat jalan Pung leman, Surga Tempatta Insya Allah

cucuta  Makkaraka.



Senin, 16 Oktober 2023

DI BALIK TERLAKSANANYA SILAURAHIM AKBAR KELUARGA DATU MALLELEANG

Menjemput yang Berserak, Merajut yang Terpisah: Kilas Balik Gagasan Awal Silaturahim Rumpun Datu Malleleang

Setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil. Bagi saya pribadi, kedekatan yang erat dengan Keluarga Besar Datu Malleleang baru benar-benar terajut intens dalam lima tahun terakhir. Jarak geografis saat saya harus berdinas dan menetap di Kota Ambon justru menjadi pemantik awal. Bermula dari interaksi di media sosial, ruang rindu itu menemukan wadah nyatanya melalui pertemuan rutin bulanan Arisan Keluarga yang kita kenal dengan semangat "Taro Ada Taro Gau".

Di balik riuhnya tawa dan kehangatan arisan tersebut, sebuah gagasan besar perlahan mulai menyala.

Percikan Ide dan Restu Para Senior

Setiap kali hadir di arisan, pendiri WhatsApp Group Taro Ada Gau, Petta Andi Idil Fitri Meru, kerap menyambung dan menyuarakan kembali gagasan dari Petta Andi Sultan Makkarateng. Sebuah ide mulia untuk mengumpulkan seluruh keturunan Datu Malleleang dalam sebuah pertemuan akbar.

Saya masih ingat betul momen ketika Petta Andi Sultan Makkarateng menelepon saya langsung saat saya sedang berada di ruang tunggu Airport Sultan Hasanuddin.

"Setuju, Pung. Namun perlu mungkin kita komunikasikan lebih lanjut dengan keluarga yang lebih senior," ujar saya memberikan dukungan penuh, namun tetap mengedepankan tata krama.

Langkah taktis pun dimulai. Menindaklanjuti usulan di Facebook, Andi Agil Sukiman berinisiatif membentuk WhatsApp Group pada tanggal 8 Juli 2022 untuk mempermudah koordinasi. Namun jauh sebelum grup itu lahir, benih rencana ini sebenarnya sudah mulai dimatangkan secara resmi pada pertemuan arisan di rumah H. Andi Ilham Hattas sekitar tanggal 9 Oktober 2021, tepat ketika pemerintah mulai melonggarkan aturan PSBB.

Sebagai generasi keempat sekaligus salah satu yang termuda di tengah-tengah rumpun keluarga saat itu, posisi saya jelas: mendukung penuh dan siap bergerak di belakang layar. Saya selalu memegang prinsip hidup: boleh pintar tapi jangan menggurui, boleh cepat asal jangan mendahului yang lebih senior. Kecuali jika hal tersebut sudah menjadi tugas dan tanggung jawab yang diamanahkan, maka pantang bagi saya untuk tidak serius. Dari sinilah kemudian grup WA Team KB Datu Malleleang resmi dibentuk.

Ikhtiar yang Tertunda dari Sengkang hingga Soppeng

Merajut sebuah pertemuan keluarga besar tentu bukan perkara instan. Gagasan awal untuk mengadakan wisata keluarga Datu Malleleang di Pantai Biru sempat menemui jalan buntu dan belum bisa terlaksana.

Semangat itu tidak padam. Pada tanggal 13 November 2021—sehari sebelum perhelatan MARS dan ARMAWA di Atakkae—pertemuan keluarga kembali digelar di Saoraja Bulu, Sengkang. Pertemuan sakral itu dihadiri oleh para sesepuh kita: Pung Datu Baso Mungkace, Pung Datu Tebba, Pung Datu Tenri Bali Sunra, Pung Datu Manutte, Pung Datu Sompa, serta Petta Fitri Meru. Sayang sekali, karena adanya agenda penting yang bertepatan, saya terpaksa berhalangan hadir.

Hasil dari Saoraja Bulu memutuskan untuk melaksanakan pertemuan di Sao Mario, Kabupaten Soppeng. Namun lagi-lagi, kesibukan masing-masing membuat rencana ini sempat "tertidur" selama hampir satu tahun.

Garis Tangan di Sudiang dan Amanah dari Malino

Titik balik itu akhirnya tiba pada tanggal 4 September 2022. Dalam acara Arisan Silaturahim yang diasuh langsung oleh Pung Datu Pada Mungkace di kediaman Petta Bau Rawe di Permata Sudiang Raya, gagasan yang sempat tertunda itu kembali ditiupkan. Hadir pula saat itu tokoh senior kita, Pung Prof. Andi Husni Tanra.

Ketika Petta Fitri Meru dan Pung Bau Denrawalie kembali mengusulkan rencana pertemuan keluarga Datu Malleleang, Pung Prof. Husni Tanra menyambutnya dengan sangat antusias. Beliau bahkan langsung menawarkan villa pribadinya di Malino sebagai tempat pertemuan untuk membicarakan teknis pelaksanaan.

Menariknya, sore itu yang beruntung naik arisannya adalah Petta Fitri dan saya sendiri. Sebuah kebetulan? Saya rasa tidak. Ini adalah cara alam dan ketetapan Allah SWT untuk mendekatkan kami pada amanah ini.

Namun, manusia hanya bisa berencana, ketetapan Allah-lah yang berlaku. Sekitar dua pekan sebelum acara Malino digelar, Petta Fitri mendadak harus dimutasi ke Bualemo, Gorontalo. Kehilangan salah satu motor penggerak utama di saat-saat krusial tentu menjadi tantangan tersendiri.

Tiga Serangkai di Rumah Pung Husni Tanra

Tanggal 6 Oktober 2022, Pung Prof. Husni Tanra menelepon kami untuk segera merapatkan barisan membicarakan urusan teknis. Hari itu, bertempat di kediaman beliau, kami bertiga berkumpul: Pung Bau Wentri, Pung Bau Denrawalie, dan saya sendiri (tanpa Petta Fitri yang sudah berada di Gorontalo).

Di ruang tamu itulah, amanah kerja besar ini dibagi secara adil:

  • Pung Bau Wentri diamanahkan memegang komando bagian konsumsi.

  • Pung Bau Denrawalie bertanggung jawab penuh pada mobilisasi keluarga.

  • Saya sendiri dipercayakan untuk meramu seluruh rangkaian acara.

Dengan waktu yang sangat mepet, saya mencoba meramu konsep pertemuan ini agar tidak kaku, maka lahirlah konsep "Wisata Family Datu Malleleang". Sebuah konsep yang memadukan hangatnya silaturahim rindu dengan segarnya rekreasi keluarga.

Dan sejarah akhirnya mencatat, lewat kerja keras, keikhlasan, dan restu para leluhur serta sesepuh, agenda monumental tersebut berhasil kita laksanakan dengan penuh haru dan bahagia selama dua hari, tepat pada tanggal 8 – 9 Oktober 2022. Sebuah awal dari babak baru perjalanan rumpun keluarga kita yang akan terus kita ceritakan kepada anak cucu kelak.

Menjemput Amanah: Gagasan Awal di Balik Layar Silaturahmi Akbar

Pertemuan Malino hari itu bukan sekadar tempat berkumpul dan menikmati udara sejuk pegunungan. Bagi saya, momen tersebut menjadi titik balik sebuah tanggung jawab besar. Di tengah rembuk keluarga, sebuah amanah besar diletakkan di pundak kami. Pung Bau Wentri dipercaya sebagai bendahara, Pung Bau Denrawalie sebagai sekretaris, dan Pung Gegge diamanahkan menjadi koordinator untuk wilayah Soppeng.

Lalu, bagaimana dengan saya? Nama saya ditunjuk sebagai Ketua Panitia.

Sejujurnya, saat riuh kesepakatan itu menggema, ego dan logika saya belum berjalan seiringan. Saya belum mengiyakan secara tegas. Belum ada kata "SIAP" yang keluar dari lisan saya. Ada keraguan yang menggelitik: Lagipula, saya tahu betul ada rentetan diskusi dan pertemuan yang sudah berjalan sebelum momen Malino ini. Saya tidak ingin melangkah tanpa memikirkan kesinambungan yang sudah dibangun sebelumnya.

Sebuah Telepon dan Titik Temu

Sehari setelah riuh Malino mereda, sebuah panggilan masuk di ponsel saya. Di seberang telepon adalah sosok yang sangat kami tuakan dan hormati dalam lingkaran keluarga besar—yang sengaja tidak saya sebutkan namanya di sini demi menjaga takzim. Beliau menanyakan bagaimana pandangan saya mengenai hasil pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Mengingat dinamika yang ada, saya mencoba memberikan sebuah tawaran solusi.

"Bagaimana kalau konsepnya digabung saja, Pung? Saya siap mem-backup dan menyokong penuh kepanitiaan yang sudah terbentuk sebelumnya," ujar saya saat itu. Bagi saya, kebersamaan jauh lebih penting daripada sekadar pembagian jabatan.

Namun, garis cerita rupanya punya jalurnya sendiri. Keesokan harinya, beliau kembali menghubungi saya. Kali ini dengan nada yang lebih mantap dan meyakinkan. Beliau menyampaikan keputusan akhir: Biar kita saja yang memegang tongkat estafet sebagai Ketua Panitia.

Mengubah Arah: Dari Senam Menuju Silaturahmi Akbar

Mendengar ketegasan dan kepercayaan yang begitu besar dari orang tua kita, tidak ada lagi alasan untuk berbalik arah. Rasa ragu berganti menjadi tanggung jawab.

Saat itu juga, saya menarik napas dalam dan menjawab, "Siap, Pung."

Namun, kesiapan saya tentu bukan tanpa syarat. Saya mengajukan sebuah gagasan mendasar yang menjadi fondasi awal gerak panitia ini. Saya meminta dukungan penuh agar orientasi acara ini sedikit digeser fungsinya. Bukan sekadar acara senam atau kumpul-kumpul biasa, melainkan sebuah wadah yang jauh lebih inklusif dan sakral: Silaturahmi Akbar.

Mendengar ide tersebut, beliau langsung memberikan lampu hijau dan dukungan penuh. Kalimat dukungannya hari itu rasanya seperti mendapat "suplemen di siang bolong"—menyuntikkan energi baru yang luar biasa, membakar semangat yang tadinya redup, dan meyakinkan saya bahwa langkah besar ini tidak akan kami lalui sendirian.

Sebuah ide awal telah lahir, amanah telah dijemput, dan perjalanan menyatukan keluarga besar ini pun resmi dimulai.

Di Balik Layar Sao Mario Organizer: Menimbang Rasa, Merajut Komitmen

Dalam setiap gelaran acara besar keluarga, dinamika di balik layar selalu menjadi bagian yang paling kaya akan cerita. Ada diskusi, ada negosiasi, bahkan tidak jarang muncul riak-riak kecil yang justru menguji kedewasaan kita dalam berorganisasi dan menjaga silaturahmi. Cerita ini saya tulis bukan untuk membuka luka, melainkan sebagai pengingat—sebuah catatan agar kita tidak macculu-culu (asal-asalan/sembrono) dalam melangkah di kemudian hari.

Semua bermula ketika beberapa anggota keluarga menghubungi saya secara pribadi melalui WhatsApp. Mereka meminta agar susunan panitia segera dibagikan di grup besar Datu Malleleang. Saat itu, jawaban saya jelas: "Belum ada. Insya Allah akan dishare jika sudah selesai."

Namun, hingga acara berakhir, susunan lengkap itu sengaja tidak saya bagikan di grup keluarga. Ada beberapa pertimbangan matang di balik keputusan tersebut. Saat itu, kepengurusan yang sah memang baru sebatas "Tiga Pilar"—Ketua, Sekretaris, dan Bendahara—yang terbentuk saat pertemuan di Malino.

Ujian Kedewasaan dan "Uneg-Uneg" Keluarga

Di tengah proses berjalan, salah seorang keluarga memberikan masukan yang cukup menohok. Beliau mengusulkan agar posisi Ketua Panitia sebaiknya tidak diamanahkan kepada saya. Alasannya logis dan sangat saya hargai: faktor generasi dan umur. Di mata beliau, saya masih junior, dan amanah ini lebih pantas diberikan kepada yang lebih tua.

Sebagai yang lebih muda, saya tentu paham dan menaruh hormat pada pandangan tersebut. Respons saya saat itu pun sangat terbuka:

"Boleh, silakan hubungi pihak yang sebelumnya menunjuk saya untuk mendiskusikan hal ini."

Namun, dinamika berubah ketika saya menyampaikan uneg-uneg ini kepada pihak penunjuk. Beliau justru memberikan pernyataan tegas: "Jika Andi Makkaraka tidak mau jadi Ketua Panitia, maka lebih baik kita bubarkan saja dan tidak perlu ada kegiatan itu."

Sebuah dilema yang berat. Di satu sisi ada keraguan dari sebagian keluarga, di sisi lain ada amanah mutlak yang harus dijaga. Apalagi, video ajakan silaturahmi dari Pung Husni Tanra sudah terlanjur tersebar luas di media sosial. Mundur jelas bukan pilihan yang bijak. Menariknya, setelah momen itu, tidak ada lagi yang menghubungi saya terkait reposisi ketua.

Safari Keliling Daerah: Mengukur Respons dan Restu

Amanah ini tidak boleh dijalankan dengan ego. Untuk menepis keraguan dan mengukur sejauh mana penerimaan keluarga atas kepanitiaan saya, saya memutuskan untuk melakukan "safari" atau kunjungan langsung ke para sesepuh dan keluarga yang kami tuakan di beberapa daerah:

  • Bulukumba

  • Sengkang

  • Soppeng

Perjalanan ini murni untuk mendengarkan. Saya datang untuk menerima masukan, petuah, dan restu. Alhamdulillah, hasilnya luar biasa. Beliau semua memberikan dukungan penuh sembari menitipkan saran-saran berharga demi kelancaran acara.

Menghidupkan "Sao Mario Organizer"

Berbekal dukungan dari para tetua, langkah taktis segera diambil. Pada tanggal 10 Oktober 2022, saya resmi membentuk grup WhatsApp yang dinamakan Sao Mario Organizer.

Kami bergerak dengan sebuah prinsip dasar yang kuat:

Motto: Siap Melayani, Ikhlaskan Hasilnya Luar Biasa.

Di grup inilah seluruh urusan teknis pelaksanaan dikupas tuntas bersama panitia lainnya. Kami bekerja dalam senyap, fokus pada solusi, bukan pada polemik.

Berbasis Data, Bukan Sekadar Rencana

Untuk memastikan acara ini berjalan terukur dan komitmen kehadiran bisa dipetakan dengan akurat, saya berinisiatif membuat database keluarga. Database ini tidak main-main karena merangkum:

  1. Silsilah/Nasab Keluarga: Agar semua yang hadir tahu persis di mana akar persaudaraannya.

  2. Saran dan Masukan Kegiatan: Aspirasi langsung dari arus bawah.

Saran-saran yang masuk melalui database inilah yang kemudian saya jadikan fondasi utama dalam menyusun agenda acara, menentukan konsep, hingga menyepakati dresscode yang akan digunakan.

Dari perjalanan ini saya belajar, memimpin acara keluarga bukan soal siapa yang paling tua atau siapa yang paling dominan. Ini tentang siapa yang mau melayani dengan sabar, mendengar dengan lapang dada, dan mengeksekusi rencana dengan data dan keikhlasan

PIN: Simbol Identitas dan Dinamika Pemikiran Keluarga Besar Datu Malleleang

Sebuah benda kecil berbentuk PIN terkadang menyimpan cerita yang jauh lebih besar dari wujudnya. Bagi sebagian orang, sepotong PIN mungkin hanyalah aksesori acara formal. Namun, bagi panitia Silaturahmi Akbar Datu Malleleang, proses pengadaan dan penentuan peruntukan PIN ini adalah sebuah perjalanan panjang yang menguras energi, waktu, sekaligus memperkaya ruang diskusi keluarga.

Proses pengadaannya sendiri memakan waktu lebih dari satu bulan. Bukan karena kendala teknis produksinya, melainkan karena sebuah pertanyaan mendasar: "Gambar apa yang paling layak merepresentasikan kita semua di dalam PIN tersebut?"

Menemukan Jiwa dalam Desain: Narasi Sejarah Saoraja Mallangga

Dalam pencarian identitas visual ini, saya harus jujur bahwa sosok Pung Datu Massarasa Datu Tenri adalah orang yang sangat berjasa. Lewat diskusi panjang, baik melalui tatap muka maupun sambungan telepon, beliau terus menekankan satu hal: PIN ini harus mengandung artefak Datu Malleleang, bukan sekadar ada PIN.

Salah satu usulan kuat yang muncul adalah menampilkan gambar Saoraja Mallangga Sengkang.

Awalnya, saya pribadi sempat diselimuti keraguan. Saat itu, saya masih mengira bahwa Saoraja Mallangga sama dengan Saoraja Bettempola. Di saat yang sama, salah satu Pembina juga mengusulkan hal yang sama. Bergerak dari sana, saya mulai menelusuri literatur sejarah pendirian Saoraja Mallangga, mengumpulkan serpihan kisah dari para orang tua, hingga menyaring riwayat yang dituturkan dari mulut ke mulut (fulan ke fulan).

Tentu saja, perjalanan ini tidak mulus. Ada riak-riak kecil; beberapa anggota keluarga sempat menyampaikan ketidaksetujuannya kepada saya. Demi menghormati seluruh pihak, saya kemudian meminta izin langsung kepada perwakilan keluarga Saoraja Mallangga. Respons beliau sangat bijak: "Kalau Pembina setuju, kami juga setuju."

Titik temu akhirnya dicapai dalam rapat panitia via Zoom. Meskipun diskusi berlangsung cukup alot, alhamdulillah, sebuah mufakat besar berhasil diambil: PIN resmi Silaturahmi Akbar akan bergambar Saoraja.

Perdebatan Kedua: PIN Ini untuk Siapa?

Setelah urusan desain selesai dan fisik PIN telah diproduksi, tantangan baru kembali muncul. Kali ini esensinya bergeser ke ranah sosiologis keluarga: Siapa sebenarnya yang berhak mengenakan PIN ini?

Perbedaan pandangan pun mencuat di antara para panitia:

  • Pandangan Pertama: Beberapa panitia berpendapat bahwa PIN ini eksklusif hanya untuk Wija (keturunan langsung) Datu Malleleang.

  • Pandangan Kedua: Pihak lain merasa pasangan (suami/istri) juga berhak memakainya. Alasannya, jika sudah menikah, maka mereka sudah melebur menjadi satu keluarga.

Saya pribadi berada pada pandangan pertama. Bagi saya, PIN ini adalah kartu identitas diri yang menegaskan bahwa pemakainya adalah Wija Datu Malleleang. Ada beberapa pertimbangan logis di balik hal ini. Bagaimana jika ada keluarga yang pasangannya lebih dari satu? Bagaimana jika statusnya sudah bercerai—baik cerai hidup maupun mati? Selain itu, pasangan kita yang non-Malleleang juga memiliki nasab tersendiri yang bisa jadi memiliki PIN keluarganya masing-masing.

Di samping alasan identitas, ada fungsi strategis yang mungkin terlewatkan saat itu. Pemesanan PIN adalah barometer utama bagi panitia untuk mengukur keseriusan keluarga dalam menghadiri Silaturahmi Akbar. Angka pemesanan PIN inilah yang saya jadikan standar minimal kuota peserta, yang kemudian dikombinasikan dengan database awal. PIN menjadi pembeda yang jelas di lapangan antara wija dan non-wija.

Menghargai Rasa, Menyambut Masa Depan

Namun, saya sangat memahami bahwa ruang diskusi ini lahir dari niat yang baik. Mereka yang mengusulkan PIN untuk seluruh anggota keluarga (termasuk pasangan) pasti memiliki pertimbangan emosional yang mendalam—salah satunya menjaga perasaan para pasangan. Saya bahkan mendengar kabar bahwa ada beberapa pasangan yang sempat ragu atau enggan hadir hanya karena merasa tidak memiliki PIN tersebut. Fenomena ini menjadi catatan berharga bagi kita semua tentang betapa tingginya rasa ingin memiliki di dalam keluarga ini.

Perbedaan pendapat adalah bukti bahwa keluarga kita hidup dan peduli. Pada akhirnya, riak-riak diskusi inilah yang mendewasakan organisasi kita.

.

Memupuk Keikhlasan, Merajut Kebersamaan: Catatan Di Balik Layar Suksesnya Pertemuan Akbar Keluarga

Berawal dari gagasan hangat saat kami berkumpul di sejuknya Malino, mimpi untuk menyatukan keluarga besar akhirnya mulai menemukan bentuknya. Langkah konkret pertama pun diayunkan. Pertemuan perdana keluarga Makassar resmi digelar di Rumah Makan Seruni, Jalan Bau Mangga, Makassar. Di sanalah, momentum besar ini benar-benar dimulai.

Sebagai bagian dari panitia, saya langsung bergerak cepat menyodorkan list donasi. Menariknya, sempat ada dinamika kecil. Beberapa anggota keluarga merasa kurang nyaman jika nominal atau nama mereka disebut di dalam grup WhatsApp. Namun, saya mencoba meyakinkan mereka dari sudut pandang yang berbeda. Bagi saya, list donasi ini bukan ajang pamer, melainkan bukti nyata bahwa panitia sangat serius dan profesional dalam menggarap perhelatan ini.

Soal keikhlasan? Itu urusan personal antara sang hamba dengan Tuhannya. Kapan pun seseorang memberi karena alasan selain Allah, maka dia sendiri yang rugi. Tugas kita di sini adalah membuka ruang, saling memotivasi, dan mengajak keluarga dalam jalan kebaikan. Alhamdulillah, niat baik ini disambut luar biasa. Dana tunai sebesar 111 juta rupiah berhasil terkumpul dan telah dilaporkan secara transparan.

Berkah Gotong Royong: Dari Satu Hari Menjadi Menginap

Rencana awal kami sebenarnya sangat sederhana: membuat acara satu hari penuh (one-day event). Namun, takdir baik berkata lain ketika restu dan kemudahan demi kemudahan mulai berdatangan.

Berkat lobi dan fasilitasi luar biasa dariPung Datu Tenri Bali Sunra dan Pung datu Pada Mungkace kepada owner Sao Mario, kami mendapatkan kejutan yang luar biasa. Akses masuk, fasilitas penginapan, hingga tari sambutan tradisional semuanya diberikan secara gratis! Karena kemudahan yang tak disangka-sangka ini, panitia akhirnya merombak rencana awal dan sepakat untuk mengubah konsep acara menjadi agenda menginap.

Wujud Cinta Keluarga: Daftar Kontribusi yang Menggetarkan Hati

Melihat daftar partisipasi yang masuk, rasanya dada ini bergemuruh haru. Acara ini bukan milik satu atau dua orang, melainkan mahakarya gotong royong dari seluruh penjuru keluarga.

Berikut adalah wujud nyata sumbangsih dan cinta dari keluarga besar kita yang patut kita apresiasi bersama:

  • Hidangan Utama: Satu ekor sapi segar yang siap diolah dan dihidangkan, persembahan tulus dari Keluarga Petta H. Andi Meru Kadu.

  • Identitas & Kebanggaan: Sebuah lagu Mars Datu Malleleang yang sarat makna, diciptakan khusus oleh Drs. Andi Zulbiah, M.Si.

  • Logistik & Kenyamanan Acara: Dukungan fasilitas berupa 400 Kursi Futura dan 5 Tenda Kerucut dari Sekretaris Daerah (Sekda) Soppeng, Bapak Drs. Andi Bau Tenri Sessu, M.Si. Tak ketinggalan, tambahan 200 kursi lagi disiapkan oleh keluarga Ibu Hj. Andi Bau Citta Mariogi.

  • Tempat & Fasilitas: Lokasi megah beserta cottage di Sao Mario yang dipinjamkan cuma-cuma, berkat fasilitasi dari owner Sao Mario

  • Konsumsi & Penyegar:

    • Kue tradisional Bingka dan Barongko masing-masing sebanyak 250 buah dari Ny. Andi Baharuddin Amin.

    • 200 botol Jus New Izz yang menyegarkan dari Ibu Andi Olle Andi Hamid.

    • 40 dos air mineral untuk menjaga stamina seluruh peserta dari keluarga Bapak Andi Zainal Kampe.

    • Kue Tradisional Bosara dari Owner  Sao mario

  • Syiarkan Acara (Publikasi):

    • 2 buah baliho besar telah tegak berdiri menyapa warga di Kota Soppeng berkat Bapak Andi Agus Salim, S.STP., M.Si.

    • 1 buah baliho juga telah terpasang gagah di Kota Sengkang oleh Bapak Andi Malleleang.

  • Akomodasi & Kehangatan Warga: Tidak kurang dari 69 rumah warga telah dibuka lebar dan dipersiapkan dengan hangat sebagai tempat penginapan keluarga yang datang dari jauh.

Melihat list di atas, kita bisa melihat bahwa setiap orang mengambil perannya masing-masing. Ada yang menyumbang materi, tenaga, pikiran, hingga membukakan pintu rumahnya sendiri. Inilah esensi sejati dari sebuah keluarga besar.

Sampai jumpa di lokasi acara! Mari kita jaga kekompakan ini, kita luruskan niat, dan kita sukseskan silaturahmi akbar Datu Malleleang dengan penuh suka cita.

Berikut Rekap Donasi Dalam Bentuk Tunai

Menjaga Nyala Silsilah, Merajut Asa Bersama: Resmi Terbentuknya IKARDA Mallelang

Momen bersejarah dan penuh kehangatan baru saja terukir dalam lembaran sejarah keluarga besar Datu Mallelang. Berawal dari kerinduan mendalam untuk saling mengeratkan tali darah dan memperkokoh tali persaudaraan, Silaturahmi Akbar Datu Mallelang (SIAME) sukses digelar.

Namun, pertemuan akbar tersebut bukan sekadar ajang melepas rindu. Lebih dari itu, SIAME menjadi pemantik lahirnya sebuah komitmen besar untuk bergerak bersama dalam wadah yang lebih terstruktur dan berdaya guna.

Lahirnya Wadah Pemersatu: IKARDA Mallelang

Melalui musyawarah dan mufakat dalam semangat kekeluargaan yang kental, Silaturahmi Akbar ini resmi melahirkan sebuah organisasi paguyuban yang diberi nama Ikatan Keluarga Datu Malleleang (IKARDA Malleleang).

Kehadiran IKARDA Mallelang diharapkan menjadi jembatan emas yang menghubungkan seluruh keturunan Datu Mallelang di mana pun berada, sekaligus menjadi wadah untuk saling membesarkan, menjaga marwah leluhur, dan berkontribusi positif bagi masyarakat luas.

Nahkoda Baru dan Pengukuhan yang Khidmat

Untuk memimpin roda organisasi paguyuban ini, amanah kepemimpinan dipercayakan kepada Pung Datu Drs. Andi Bau Sangkawana Datu Sangkuru, MM. sebagai Ketua Umum. Di bawah kepemimpinan beliau, IKARDA Mallelang siap melangkah dengan visi yang kuat dan program-program yang menyentuh akar kekeluargaan.

Momen Penting Perjalanan IKARDA Malleleang: Roda organisasi ini resmi berputar setelah dikukuhkan secara khidmat pada 15 Oktober 2023 bertempat di Hotel Four Points by Sheraton, Makassar. Prosesi pengukuhan yang sakral ini dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Penasehat Pung Prof Andi Husni Tanra, menandai legalitas dan kesiapan paguyuban untuk mulai berkiprah.

Melangkah Maju dengan Semangat Sipakatau

Acara pengukuhan yang berlangsung megah namun tetap sarat akan nilai budaya tersebut dihadiri oleh perwakilan keluarga besar dari berbagai daerah. Aura optimisme terpancar jelas, menyiratkan harapan baru agar nilai-nilai luhur, persatuan, dan kepedulian sosial yang diwariskan oleh Datu Malleleang tetap hidup dan lestari di hati generasi penerus.

Selamat atas terbentuknya IKARDA Mallelang dan selamat mengemban amanah kepada Pung Datu Drs. Andi Bau Sangkawana Datu Sangkuru, MM. beserta jajaran pengurus yang telah dikukuhkan.

Taro ada taro gau—mari kita wujudkan esensi silaturahmi ini dalam aksi nyata demi kejayaan keluarga besar Datu Mallelang. SIAME, Ewako!